Pergerakan IHSG Masih Berpeluang Menguat

Rabu, 05/02/2014

NERACA

Jakarta – Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) Selasa sore ditutup di zona merah. Aksi ambil untung menjadi pemicu melemahnya indeks BEI selama seharian. Sementara nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka menguat di posisi Rp 12.195 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan kemarin di Rp 12.230 per dolar AS.

Tercatat mengakhiri perdagangan kemarin, indeks BEI ditutup melemah 34,003 poin (0,78%) ke level 4.352,256. Sementara Indeks LQ45 anjlok 7,531 poin (1,03%) ke level 726,627. Analis PT Anugerah Sekurindo Indah, Bertoni Rio mengatakan, melambatnya aktivitas manufaktur AS dan China yang di bawah ekspektasi mendorong bursa global, termasuk IHSG BEI kembali terkoreksi”Dua hari dalam pekan ini, IHSG mengalami tekanan yang dipicu dari eksternal bursa dan aksi ambil untung investor asing," ujarnya di Jakarta, Selasa (4/2).

Kendati demikian, lanjut dia, secara teknikal sinyal peluang indeks BEI untuk berbalik arah menuju area positif cukup terbuka. Karena itu, dirinya memproyeksikan IHSG akan bergerak di kisaran 4.267-4.472 poin pada Rabu (5/2). Sementara itu, analis HD Capital, Yuganur Wijanarko mengatakan, pelemahan indeks BEI cenderung mulai tertahan sehingga dapat membuka peluang untuk kembali bergerak menguat,”Tertahannya koreksi IHSG lebih dalam dapat dikatakan pergerakan selanjutnya akan mengisi 'resistance'," kata Yuganur.

Dirinya memperkirakan, beberapa saham yang dapat diperhatikan untuk perdagangan Rabu(5/2), diantaranya Bank Rakyat Indonesia (BBRI), Kalbe Farma (KLBF), Media Nusantara Citra (MNCN), Malindo Feedmill (MAIN). Pada perdagangan kemarin, baik investor domestik maupun asing sama-sama melepas saham dan keluar sejenak dari lantai bursa. Saham unggulan yang terkena koreksi cukup dalam.

Perdagangan berjalan moderat dengan frekuensi transaksi sebanyak 197.310 kali pada volume 3,206 miliar lembar saham senilai Rp 3,899 triliun. Sebanyak 91 saham naik, sisanya 189 saham turun, dan 86 saham stagnan. Melambatnya manufaktur di negara dengan ekonomi terbesar di dunia jadi alasan aksi jual pelaku pasar regional. Bursa Asia pun kompak menutup perdagangan di zona merah, dipimpin pasar saham Jepang dengan koreksi lebih dari empat persen.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya Gudang Garam (GGRM) naik Rp 850 ke Rp 42.600, HM Sampoerna (HMSP) naik Rp 400 ke Rp 66.900, Gowa Makassar (GMTD) naik Rp 300 ke Rp 5.700, dan Dharma Satya (DSNG) naik Rp 170 ke Rp 2.370. Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Citra Tubindo (CTBN) turun Rp 1.600 ke Rp 6.500, United Tractor (UNTR) turun Rp 675 ke Rp 18.300, Unilever (UNVR) turun Rp 550 ke Rp 27.850, dan Indocemetn (INTP) turun Rp 550 ke Rp 20.900.

Menutup perdagangan sesi pertama, indeks BEI ditutup turun 25,806 poin (0,59%) ke level 4.360,453. Sementara Indeks LQ45 melemah 4,322 poin (0,59%) ke level 729,836. Tak satu pun indeks sektoral bisa menguat, semuanya merah gara-gara aksi jual. Baik investor domestik maupun asing sama-sama melepas saham dan keluar sejenak dari lantai bursa.

Perdagangan berjalan moderat dengan frekuensi transaksi sebanyak 108.602 kali pada volume 1,743 miliar lembar saham senilai Rp 2,075 triliun. Sebanyak 74 saham naik, sisanya 177 saham turun, dan 71 saham stagnan. Bursa-bursa regional masih terjebak di zona merah hingga siang hari ini. Aksi jual masif yang terjadi di Wall Street ditiru oleh pelaku pasar di Asia.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya Indofood CBP (ICBP) naik Rp 250 ke Rp 10.975, Dharma Satya (DSNG) naik Rp 150 ke Rp 2.350, Multi Prima (LPIN) naik Rp 125 ke Rp 5.300, dan Darya-Varia (DVLA) naik Rp 90 ke Rp 2.120. Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Citra Tubindo (CTBN) turun Rp 1.600 ke Rp 6.500, Century Textile (CNTX) turun Rp 500 ke Rp 6.000, United Tractor (UNTR) turun Rp 475 ke Rp 18.500, dan Mayora (MYOR) turun Rp 450 ke Rp 26.500.

Diawal perdagangan, indeks BEI dibuka turun sebesar 50,98 poin atau 1,16% ke posisi 4.335,28. Sedangkan indeks 45 saham unggulan (LQ45) melemah 13,32 poin (1,82%) ke level 720,831. Kepala Riset Trust Securities, Reza Priyambada mengatakan, sentimen negatif yang beredar di pasar eksternal terkait pengurangan stimulus keuangan (tapering off) the Fed, melambatnya indeks manufaktur China, dan beberapa data kinerja emiten global yang di bawah estimasi membuat tekanan pada bursa saham global, termasuk IHSG BEI,”Bagi pelaku pasar saham, meski pelemahan memberikan level entry yang menarik, namun tetap mewaspadai potensi pelemahan lanjutan," kata Reza.

Sementara itu, Tim Analis Teknikal Mandiri Sekuritas dalam kajiannya mengemukakan bahwa katalis positif data neraca perdagangan Indonesia tertutup oleh bursa saham regional dan AS. Surplus neraca perdagangan senilai US$ 1,52 miliar tidak mampu mengangkat pergerakan rupiah dan IHSG.

Maka mengacu pada hal itu, secara teknikal indeks BEI masih berada dalam tren turun jangka pendeknya seiring nilai perdagangan yang minim. Tercatat bursa regional, diantaranya indeks Hang Seng dibuka melemah 446,37 poin (2,03%) ke level 21.589,05, indeks Nikkei turun 377,57 poin (2,58%) ke level 14.243,20 dan Straits Times melemah 29,40 poin (1,00%) ke posisi 3.961,23. (bani)