Siasati Fluktuasi Pasar, MI Terbitkan Produk Konservatif

Senin, 03/02/2014

NERACA

Jakarta- Meski pertumbuhannya pada tahun lalu di bawah ekspektasi pasar, eksistensi industri reksa dana melalui penerbitan produk-produk baru oleh Manajer Investasi (MI) bisa dikatakan cukup kompetitif. Catat saja, di awal tahun ini beberapa perusahaan Aset Manajemen berencana menerbitkan produk baru sebagai andalan untuk mendongkrak dana kelolaannya.

PT Batavia Prosperindo Aset Manajemen (”Batavia”) misalnya, akan kembali menawarkan produk reksa dana terproteksi ”Batavia Proteksi Andalan-11” yang dinilai akan mampu menyerap dana sampai dengan Rp320 miliar. Produk baru yang ditawarkan ini memiliki jangka waktu sekitar tiga tahun dengan target indikasi imbal hasil 8.50% nett per tahun yang akan dibayarkan dalam bentuk deviden per tiga bulan.

“Batavia memprediksi BPA-11 mampu diserap sampai dengan Rp. 320 milyar mengingat fitur produk yang sangat menarik yakni, jangka waktu produk yang relatif pendek dengan risiko relatif rendah.” kata Associate Director, Mutual Fund Sales & Marketing, Karma P. Siregar di Jakarta, pekan kemarin.

Pasalnya, kata dia, Batavia akan menempatkan minimal 80% dana kelolaannya pada instrument efek hutang, sisanya di instrumen pasar uang. Investasi pada instrumen efek hutang tersebut yaitu pada korporasi di sektor keuangan dan infrastruktur dengan rating minimal idAA serta target imbal hasil yang sangat menarik. Targetnya, produk ini akan diluncurkan pada 12 Februari, dan akan mulai dipasarkan melalui Bank Mandiri sebagai agen penjual.

Selain Batavia, PT Samuel Aset Manajemen (SAM) juga akan menerbitkan produk barunya pada kuartal kedua tahun ini. Perusahaan Aset Manajemen ini mengincar perolehan dana kelolaan (Asset Under Management/AUM) hingga Rp5 triliun. “Tahun depan, kita target Rp4,7 triliun-Rp5 triliun yang akan dicapai dari kinerja sekitar 15%, dan sisanya dari produk baru. Juga subscription dari klien lama dan baru.” kata Direktur Utama PT Samuel Aset Manajemen, Agus B. Yanuar.

Produk baru yang akan diterbitkan oleh SAM, menurut dia, merupakan produk reksa dana pendapatan tetap (fixed income) konvensional dan reksa dana campuran. Pemilihan dua produk ini karena dinilai memiliki risiko yang lebih terukur, dan dapat memenuhi kebutuhan investor atau nasabah. Pada reksa dana campuran yang akan diterbitkan misalnya, kata dia, sebesar 70% akan diinvestasikan pada obligasi, dan 30% sisanya di ekuitas.

Diperkirakan, dengan kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang diharapkan dapat mengalami pertumbuhan 20%, reksa dana campuran ini nantinya akan memberikan imbal hasil hingga 15%. “Return campuran bisa di atas 13,5%-15% atau di bawah 10%. Adapun untuk saham sekitar 15%-20%. Itu kalau bullishnya bagus, sekitar 20%.” jelasnya.

Dari produk baru yang akan diterbitkan kedua perusahaan manajemen ini, tampak masing-masing perusahaan cukup optimis dengan target dana kelolanya di tahun ini. Risiko yang lebih terukur dengan penempatan aset pada efek surat utang atau obligasi menjadi pilihan untuk menarik investor.

Karena seperti diketahui, beberapa indikator yang akan menentukan persepsi investor di pasar antara lain pergerakan tingkat suku bunga, neraca perdagangan, nilai tukar rupiah, dan rencana pengetatan ekonomi (tapering off) oleh pemerintah Amerika Serikat (AS) di tahun ini. Oleh karena itu, tidak heran jika investor saat ini akan sangat berhati-hati dalam menentukan porsi dan alokasi asetnya. (lia)