Pasca Banjir, Maut Masih Mengancam di Jalanan

Sabtu, 01/02/2014

Pasca Banjir, Maut Masih Mengancam di Jalanan

Digerus banjir selama berhari-hari, jalan nasional di kawasan pantai utara (pantura) Jawa, utamanya di Jawa Barat dan Jawa Tengah rusak berat. Beribu-ribu lubang menganga di jalanan, siap menelan korban, siap menelan korban.

Dari hasil pendataan secara acak, Kementerian Pekerjaan Umum (PU) telah menemukan 3.338 lubang. "Lubang di jalan pantura bagian Jawa Barat ada 1.038 lubang dan di jalur pantura bagian Jawa Tengah ada 2.300 lubang,” kata Direktur Jenderal (Dirjen) Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum Djoko Murjanto, di Jakarta, akhir Januari (23/1).

Dari total panjang jalan yang terkena banjir, yaitu 1.300 km, jalan yang rusak dan berlubang sepanjang 200-300 km. Untuk menambal lubang-lubang itu, jata Djoko, Kementerian PU menganggarkan Rp 300-400 miliar. Hanya saja, perbaikan baru bisa dilakukan setelah banjir dan hujan yang menjadi penyebab banjir reda.

Khusus di Jakarta saja, dalam kurun waktu yang sama, terdapat 140.398 m2 jalanan yang rusak. Jumlah itu sekitar 3,2% seluruh ruas jalan yang ada yaitu 47.420.701 m2. "Di DKI Jakarta, berdasarkan data per hari ini (Kamis 23/1), terdapat jalan sebanyak 47.420.701 meter persegi, dari jumlah tersebut terdapat setidaknya 3,2% jalan yang rusak," kata Kepala Dinas PU Manggas Rudy Siahaan, di kantornya.

Untuk itu, pihaknya pun telah berkoordinasi dengan jajarannya beserta instansi terkait untuk segera menyelesaikan perbaikan jalan rusak dalam waktu satu minggu. Sama seperti Djoko, untuk memperbaiki jalanan yang rusak harus menunggu cuaca membaik.

Betonisasi Jalanan

Rudy menjelaskan, perbaikan jalan itu memang harus segera dilakukan untuk melidungi warga masyarakat pemakai jalan terhindar dari kecelakaan. "Jangan sampai masyarakat masuk lubang jadi celaka. Secepatnya lubang-lubang ini segera ditutup, minimal untuk penanganan sementara," tutur Manggas.

Untuk menjaga kualitas jalanan, ke depannya, perbaikan jalan dilakukan dengan pola betonisasi di seluruh wilayah Jakarta. "Kami punya rencana betonisasi jalan, saat ini sudah berjalan pelan-pelan. Maksudnya supaya kondisi jalan lebih bagus dan sebenarnya kalau dihitung-hitung biayanya lebih murah untuk jangka panjang, karena nol perawatan," ujarnya.

Bisa jadi, jumlah jalan rusak dan lubang jalan akibat banjir lebih dari itu. Sebab, jumlah itu hanya jalanan di kawasan pantura Jawa Barat dan Jawa Tengah, plus DKI Jakarta. Masih banyak jalan rusak yang tergerus air hujan di luar kawasan itu. Selain itu, dalam tempo sepekan kemudian ada kemungkinan tingkat kerusakannya bertambah.

Kualitas yang Buruk

Cepat rusaknya jalanan, tentu tidak hanya karena digerus air hujan dan banjir yang bertubi-tubi. Jeleknya kualitas jalan juga menjadi penyebab jalanan cepat rusak. Hal itu diakui Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi). Dia mengakui rendsahnya kualitas bahan menjadi penyebab jalan cepat rusak, berlubang dan mengelupas, padahal belum lama diperbaiki.

"Lha gimana, baru dikerjain, sehari-dua hari udah rusak lagi. Berarti ada yang gak beres itu," kata Jokowi, di Balaikota, Senin (27/1). Karena itu, mantan Walikota Surakarta ini akan memanggil pihak terkait dengan jalanan rusak, yaitu Dinas Pekerjaan Umum.

Memang, tak semua jalanan di Jakarta hanya menjadi tanggung jawab Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta saja. Sebab, di jakartya juga terdapat jalan nasional atau kelas 1. Semisal, sejak Jalan S Parman, Gatot Subroto, hingga Jalan MT Haryono. Juga Jalan by pass Wiyoto-Woyono. Jalan negara atau kelas 1 menjadi tanggung jawab Kementerian PU.

Kendati demikian, tak jarang Pemprov DKI turut memperbaiki jalan nasional yang sudah rusak parah dengan pertimbangan agar tak terjadi kecelakaan. (saksono)