IHSG Diharapkan Bisa Menutup Utang

Pasca diprediksi akan melemah, IHSG justru bertengger di zona hijau. Namun di sisi lain IHSG masih diharapkan dapat melanjutkan pelemahan untuk menutup utang gap 4270-4292 sehingga tidak ada lagi utang yang tersisa dan dapat memuluskan potensi rebound yang akan terjadi nantinya.

Melihat pergerakan IHSG pada Selasa (28/1), Kepala riset trust Securities Reza Priyambada memprediksi pada perdagangan Rabu (29/1) diperkirakan IHSG akan berada pada support 4289-4315 dan resistance 4349-4368. Berpola menyerupai bearish thrusting pada middle bollinger bands (MBB). MACD masih downtrend dengan histogram positif yang memendek. RSI, William's %R, dan Stochastic masih downreversal.

IHSG sempat berada di kisaran target support (4269-4295) dan juga sempat berada di kisaran target resisten (4350-4372) namun, sayangnya ditutup di bawah target resisten sehingga belum sepenuhnya mengkonfirmasi kenaikan lanjutan. “Kembali lagi kami berharap agar IHSG tidak melemah dalam setelah utang gap 4270-4293 belum tertutup sempurna”, katanya di Jakarta, kemarin.

Apalagi anjloknya IHSG sehari sebelumnya telah menciptakan utang gap yang besar di level 4360-4437 sehingga memang memicu hasrat untuk kembali mengakumulasi. Variatifnya laju bursa saham Asia dan laju Rupiah yang masih longsor tidak terlalu menjadi halangan IHSG untuk menghijau.

Sepanjang perdagangan, IHSG menyentuh level 4353,86 (level tertingginya) di akhir sesi 1 dan menyentuh level 4293,99 (level terendahnya) di awal sesi 1 dan berakhir di level 4341,65. Volume perdagangan dan nilai total transaksi naik. Investor asing mencatatkan nett sell dengan penurunan nilai transaksi beli dan kenaikan transaksi jual. Investor domestik mencatatkan nett buy.

Laju Rupiah masih nyaman berada di zona merah. Percuma juga menanggapi negatif laju Rupiah karena memang trennya masih dalam pelemahan. Bahkan reboundnya Won pasca terjadinya aksi jual US$/Won seiring kenaikan data-data makro KorSel, terapresiasinya £ pasca dirilisnya kenaikan GDP YoY, hingga naiknya Rupee dengan kenaikan RBI rate menjadi 8% dari sebelumnya 7,75% belum serta merta membuat laju Rupiah ikut menguat. Laju US$/Rp terapresiasi jelang pertemuan FOMC.

Sementara pada lalju bursa asia sempat bergerak menguat di pertengahan sesi perdagangan, lajunya kembali variatif cenderung terkoreksi. Pelaku pasar mulai menahan diri mengantisipasi pertemuan FOMC dan sedikit menanggapi negatif perlambatan pertumbuhan kinerja emiten-emiten industri China.

Di sisi lain, pelaku pasar juga wait & see terhadap kondisi krisis keuangan di Argentina menyusul terdevaluasinya mata uang Peso nya yang memicu aksi jual besar-besaran hampir mayoritas mata uang emerging market. Tidak hanya itu, aksi jual juga dipicu naiknya RBI rate. Adanya kenaikan business dan consumer confidence Korea Selatan belum dapat mengimbangi pelemahan yang terjadi. (nurul)

Related posts