2 in 1. Agama Dapat, Ilmu Juga

Sekolah Islam Wajib Berinovasi

Sabtu, 01/02/2014

Pendidikan yang baik, tidak hanya mementingkan faktor kecerdasan intelektual semata, melainkan juga pendidikan yang dilandasi dengan keimanan dan ketakwaan. Dalam hal ini, sebagai seorang muslim idealnya mereka bangga memasukkan anaknya ke sekolah Islam. Tapi yang terjadi adalah sebaliknya. Mereka lebih memilih sekolah negeri atau swasta lain selain Islam.Jika inovasi dan kreativitas tidak dilakukan, sekolah Islam akan kalah bersaing dan jauh tertinggal dari sekolah lainnya.

NERACA

Dewasa ini, tolak ukur dunia pendidikan atas kesuksesan seseorang semata-mata hanya sebatas pada faktor kecerdasan akademik atau pun kekayaan dan kedudukan yang mampu diraihnya saja. Sekolah formal contohnya. Sistem pendidikan di sekolah formal menekankan pencapaian prestasi anak didik dalam hal kecerdasan yang pada akhirnya bermuara pada berbagai ukuran akademik. Konsekuensi logisnya lahirlah generasi yang sangat invidualis mementingkan kehidupan dunia, sementara moral dan akhlaknya runtuh.

Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf mengatakan, banyak kasus yang sekarang ini sering terjadi orang kaya tidak bisa bersyukur atas harta yang dimiliki. Orang pandai mempergunakan kepandainnya untuk hal yang tidak baik, ini semua terjadi karena mereka tidak mempunyai pegangan agama yang kuat.

Padahal, sambung dia, di dalam kitab suci Al-Quran sudah diterangkan generasi yang hebat atau unggul, selain memiliki kecerdasan intelektual juga harus ditunjang faktor penting yaitu akhlak yang baik (akhlakul karimah). Disinilah fungsi dari pentingnya pendidikan islam karena akan memperkuat akhlak baik.

“Akhlakul karimah adalah faktor penyempurna agar kepintaran, kecantikan, kegagahan dan rejeki yang dimiliki bisa berfungsi secara maksimal,” kata pria yang akrab disapa Gus Ipul di sela pembukaan "Student Islamic Fair" (SIF) 2014 di Mal City Of Tomorrow (CITO), Surabaya belum lama ini.

Ya, pendidikan dapat dikatakan sukses jika mampu melahirkan individu yang menjadi pemimpin di dunia (baik dalam bidang ekonomi, ilmu pengetahuan, serta sosial dan budaya), namun pada saat yang bersamaan faham betul bahwa itu semua merupakan bentuk pengabdian kepada Allah sebagai bekal yang akan dibawa ke kehidupan yang abadi di akhirat kelak.

Wajib Berinovasi

Banyak orang tua yang menginginkan anak-anaknya memperoleh pendidikan yang baik dengan mendaftarkan mereka masuk sekolah berbasis agama (Sekolah Islam). Pasalnya, image sekolah Islam diyakini memiliki keberhasilan dalam melaksanakan tugas pendidikan yang tidak diragukan lagi. Benarkah demikian?

Faktanya, sekolah sekolah berbasis Islam yang ada saat ini, baik yang bernaung di bawah NU, Muhammadiyah, atau bahkan Kementerian Agama sendiri dari TK hingga SMA belum semuanya menjadi pilihan utama masyarakat yang notabene mayoritas beragama Islam.

Pasalnya, sekolah Islam kurang diminati masyarakat muslim karena mutu lulusannya rendah atau dengan kata lain kalah bersaing dengan sekolah negeri dan swasta non Islam. Contoh paling mudah adalah nilai ujian nasional sekolah Islam belum bisa membanggakan. Hal ini dipicu lantaran fasilitas pendidikan sangat terbatas sehingga berdampak pada kompetensi guru dan murid yang pas-pasan.

Selain itu guru dan sumber daya manusia yang ada kurang profesional. Terlihat dari riwayat pendidikannya yang masih rendah (masih banyak lulusan SLTA) dan kurangnya wawasan keilmuan. Ini berdampak pada kemampuannya dalam mengelola pembelajaran dan inovasi pendidikan di sekolah.

Menurut Gus Ipul, pendidikan berbasis agama sejak dini merupakan usaha yang dilakukan untuk mewujudkan generasi Ulul Albab, yakni generasi mengingat Allah SWT dimanapun berada. Oleh karena itu, mantan Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal tersebut mengharapkan sekolah berbasis Islam wajib melakukan inovasi untuk menunjang proses belajar dan mengajar.

"Ada tiga aspek untuk sekolah berbasis Islam agar melakukan inovasi. Jika inovasi dan kreativitas tidak dilakukan, sekolah akan kalah bersaing dan jauh tertinggal dari sekolah lainnya,” ujar Gus Ipul.

Pertama, jelas Gus Ipul, sekolah Islam harus memiliki guru yang profesional, karena keberhasilan pembelajaran di sekolah tergantung dari pengetahuan seorang guru. Aspek selanjutnya, tutur dia, pengembangan metode pembelajaran atau kurikulum menyumbang 30% keberhasilan proses belajar dan mengajar. Di samping itu, kelengkapan sarana dan prasarana yang meliputi sistem teknologi informasi juga wajib dilakukan.

"Dengan melakukan inovasi dan kreatifitas secara terus menerus, sekolah-sekolah Islam favorit yang menjadi andalan kita semua bisa memenuhi kebutuhan pendidikan sesuai kebutuhan saat ini," imbuh dia.