World Class University Mestikah Berbahasa Asing? - Oleh: Aries Musnandar, Dosen UIN Malang

Pada umumnya konotasi pemahaman masyarakat tentang bahasa pengantar perkuliahan di perguruan kelas dunia ialah bahasa Inggris. Pemahaman ini tidak salah tetapi juga tidak benar seluruhnya karena perguruan tinggi kelas dunia atau dikenal dengan sebutan World Class University (WCU) menurut hemat saya tidak semata-mata karena menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar, memiliki dosen dan mahasiswa internasional (manca negara).

Namun yang jauh lebih penting dari sekedar bahasa pengantar adalah hasil riset yang diakui dunia. Dalam konteks ini kita ambil contoh bahwa bukan rahasia lagi sejumlah universitas di Jepang bahasa pengantarnya tetap menggunakan bahasa Jepang, tetapi ternyata tidak sedikit hasil riset mereka diakui dunia sehingga perlu diterjemahkan kedalam berbagai bahasa internasional dan menjadi referensi ilmiah.

Mahasiswa internasional dari manca Negara juga banyak yang belajar di Jepang dan mereka mesti terlebih dahulu belajar bahasa Jepang agar dapat lebih mudah mengikuti perkuliahan. Jepang adalah Negara yang sangat kuat menjaga identitas diri dan tradisi-tradisi bangsanya, namun disisi lain Jepang telah berhasil menunjukkan kualitas SDM hingga kita ketahui IPTEK di Jepang demikian maju dan diakui dunia.

Keberhasilan Jepang saya kira bisa menjadi inspirasi bangsa Indonesia yang tradisi dan budayanya amat kaya dan beragam sebagai keunikan yang tiada tanding tiada banding di dunia, untuk maju menuju kelas dunia tanpa harus meninggalkan jati diri bangsanya termasuk dalam penggunaan bahasa ibunya.

Kekayaan bahasa dan budaya di Indonesia patut dikedepankan agar diketahui masyarakat internasional, namun disisi lain kemampuan menciptakan IPTEK perlu terus ditumbuh-kembangkan, tidak hanya yang berbasis internasional tetapi juga yang tumbuh bekermbang dari kearifan lokal sebagai kekayaan budaya dan peradaban bangsa ini.

Contohnya, makanan tempe yang telah mendunia sebenarnya adalah hasil karya anak bangsa yang kemudian dilakukan penelitian lanjutan oleh sejumlah Negara seperti Jepang, Jerman dan Amerika Serikat karena khasiat tempe luar biasa dan dapat dikonsumsi kaum vegetarian sebagai pengganti daging. Berdasarkan pengalaman ini kiranya pemerintah perlu mendukung hasil-hasil temuan putra bangsa dengan menaruh perhatian sungguh-sungguh misalnya membantu untuk diadakan penelitian lanjutan dan memasukkan temuan-temuan itu sebagai bagian dari kurikulum pendidikan.

Selama ini kita lebih banyak tercengang dengan hasil dari luar negeri sementara karya bangsa sendiri nyaris diabaikan begitu saja. Kemauan dan komitmen pemerintah untuk melindungi, mengembangkan dan melestarikan keunggulan lokal ini perlu menjadi bagian kebijakan pemerintah dalam bidang riset atau pendidikan.

Kembali ke persoalan WCU, sudah sewajarnya bahwa sebuah universitas akan diakui dunia jika berhasil melakukan riset “lain dari pada yang lain”, atau dalam kata lain hasil riset kita akan diakui dunia apabila secara kreatif kita mampu memamparkan temuan-temuan baru yang kurang diteliti oleh masyarakat internasional. Potensi untuk menumbuhkembangkan riset berbasis kearifan lokal ini di Indonesia tentu sangat banyak.

Oleh karena itu perguruan tinggi di Indonesia seharusnya peka dan sensitif atas berbagai temuan yang dihasilkan masyarakat Indonesia untuk dikembaangkan menjadi hasil riset kelas dunia. Contoh tentang tempe tersebut diatas merupakan kelengahan otoritas berwenang di negeri ini karena tidak segera mematenkan hasil karya anak bangsa. Alhasil, bangsa lain dengan sigap melanjutkan hasil-hasil karya anak bangsa.

WCU bukan terletak pada penyampaian materi dalam bahasa Inggris dan Arab (untuk universitas seperti IAIN, UIN) tetapi seberapa jauh kualiatas hasil temuan dan kreatifitas yang bisa ditunjukkan perguruan tinggi tersebut. Soal bahasa pengantar saya pribadi berpendapat sebaiknya mahasiswa internasional yang belajar di perguruan tinggi untuk mempelajari bahasa Indonesia dengan cukup sebelum dimulainya perkuliahan.

Di perkuliahan bisa saja dosen dan mahasiswa menggunakan bahasa Inggris dan Indonesia serta bahasa Arab untuk matakuliah tertentu, sehingga matakuliah bahasa Inggris dan Arab juga bisa diberikan kepada mahasiswa asing yang belum menguasai bahasa tersebut dengan baik.

Meski referensi, buku-buku terdapat dalam bahasa Inggris dan Arab (bagi mahasiswa IAIN/UIN) tetapi di Indonesia ini tidak sedikit pemikir dan ilmuwan Islam yang menulis buku dalam bahasa Indonesi, Jika kita pergi ke sejumlah negara seperti Brunei, Singapore dan Malaysia, maka akan kita temukan banyak buku berbahasa Indonesia yang dikarang oleh cendikiawan Indonesia.

Ini artinya bahwa bahasa Indonesia ternyata sudah dikenal secara internasional atau paling tidak tingkat regional ASEAN. Mengapa kita tidak terus melakukan penyebarluasan ilmu dengan menggunakan buku-buku berbahasa Indonesia.

Seorang kawan asal Uganda yang menjadi dosen di Universitas Islam Antara Bangsa (International Islamic University-Malaysia) baru-baru ini menyatakan kepada saya bahwa beliau lebih senang membaca buku bahasa Indonesia ketimbang buku Malaysia karena menurutnya buku berbahasa Indonesia mudah dicerna dan dipahami secara ilmu. Kawan saya ini selain menguasai bahasa Arab dan Inggris juga mampu berbahasa Melayu karena juga istrinya orang Malaysia, namun buku-buku yang dimilkinya dalam Bahasa Indonesia, Inggris dan Arab saja.

Beliau malah bermimpi suatu saat bahasa Indonesia bisa menjadi bahasa antarabangsa yang digunakan secara luas di sejumlah Negara paling tidak komunitas ASEAN, oleh karena peluang untuk terbuka lebar, tinggal bagaimana sikap dan komitmen bangsa Indonesia itu sendiri. WCU tidak melulu mesti hanya menguasai bahasa Inggris tetapi bahasa Indonesia juga dapat digunakan sebagai bahasa utama dalam perkuliahaan.(uin-malang.ac.id)

Related posts