Marah Matikan Imajinasi Anak

Kalimat negatif atau suka menyalahkan anak akan membuat imajinasi seorang anak tertutup, sulit bangun dari kegagalan dan menjadi orang hebat. Oleh karena itu, hendaknya para orang tua memanfaatkan masa emas anak dengan memberikan pendidikan sebaik mungkin dalam mengembangkan potensi mereka. Dengan dongeng misalnya.

NERACA

“Imajinasi melampaui pengetahuan. Pengetahuan sangat terbatas, sementara imajinasi mengelilingi dunia.” (Albert Einstein)

Pada usia dini 1-6 tahun, otak berkembang sangat cepat hingga 80%. Usia tersebut merupakan waktu yang ideal bagi anak untuk mempelajari berbagai macam keterampilan, membentuk kebiasaan-kebiasaan yang akan berpengaruh pada masa-masa kehidupan selanjutnya, dan memperoleh konsep-konsep dasar untuk memahami diri dan lingkungan sekitar.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh seorang ahli Perkembangan dan Perilaku Anak dari Amerika bernama Brazelton menyebutkan bahwa pengalaman anak pada bulan dan tahun pertama kehidupannya sangat menentukan apakah anak ini akan mampu menghadapi tantangan dalam kehidupannya dan apakah ia akan menunjukkan semangat tinggi untuk belajar dan berhasil dalam pekerjaannya.

Oleh karena itu, sebagai orang tua hendaknya memanfaatkan masa emas anak untuk memberikan pendidikan dengan cara dan pola yang baik. Seperti tidak membentak, memaksa, bahkan menyalahi anak dalam setiap aktifitasnya, merangsang dan mengembangkan potensi imajinasi anak secara maksimal dengan cerita dongeng

Saat berbicara dalam Menjadi Orangtua Cerdas dalam rangka pameran pendidikan Yayasan Taman Pendidikan dan Sosial NU Khadijah Surabaya, Neno Warisman meminta agar para orangtua menghindarkan diri dari marah pada anak, karena kemarahan berdampak negatif pada anak saat dewasa.

Penyanyi dan penulis itu menjelaskan, kemarahan akan menutup ruang imajinasi itu. Padahal, sambung dia, ruang imajinasi anak itu memiliki 4.000 byte per detik di dalam otak dan 4 miliar byte per detik di dalam hati, tentu anak itu akan rugi bila ruang itu tertutup. Sebaliknya, ruang imajinasi itu harus ditaburi dengan kebaikan dan kata-kata positif.

"Fitrah anak adalah bermain, karena setiap anak itu memiliki ruang imajinasi yang harus dibesarkan, terutama saat 'usia emas' mereka, usia 1-6 tahun. Jangan marah atau memaksa, meski pun atas nama agama, misalnya menyuruhnya shalat," kata aktris yang kini menekuni bidang pendidikan dan sosial itu di Surabaya belum lama ini.

Menurut Neno, Rasulullah merupakan tokoh yang patut diteladani dalam mendidik anak. "Rasulullah sangat santun dan mulia pada anak, bukan kasar dan ceroboh seperti kita," kata dia.

Dalam dialog itu, seorang peserta dari Nganjuk mengajukan pertanyakan dengan terisak, karena merasa berdosa, sebab sering memarahi anaknya, sehingga ia meminta saran tentang kiat tidak marah.

"Tips supaya tidak mudah marah adalah banyak minum air, karena orang yang marah itu hakekatnya mengalami dehidrasi. Cara lain adalah coba gunakan cara berbeda dalam menyikapi setiap tantangan. Cara lain lagi, bila sudah sangat frustasi, maka pahami makna ayat-ayat dalam Al Fatihah yang setiap ayat selalu dijawab langsung oleh Allah SWT. Insya Allah, kita akan bisa bersabar," ujar dia.

Senada dengan Neno, Pendongeng yang akrab disapa Kak Gentong mengatakan, ruang imajinasi pada anak sangatlah besar. Dengan daya imajinasi yang masih sangat bagus ini, dongeng dapat dijadikan sebagai media untuk membantu mengoptimalkan perkembangan psikologis dan kecerdasan anak secara emosional, disamping untuk merekatkan hubungan antara orang tua dengan anak tentunya.

"Misalnya, kalau kita menjelaskan fungsi sendok dengan teori bahwa sendok itu memiliki fungsi ini dan itu, maka hal itu tidak akan mudah diterima. Lain halnya dengan dongeng, alam bawah sadar akan mudah menerima. Misalnya, kita gambarkan sendok sebagai sosok yang mirip seseorang dengan suara yang berbeda-beda," kata dia.

Seperti diketahui, dongeng merupakan stimulasi dini yang mampu merangsang dan mengembangkan potensi anak secara maksimal. Diantara manfaatnya adalah, dongeng mampu merangsang keterampilan berbahasa pada anak. Pasalnya, kemampuan verbal adalah kemampuan awal yang dimiliki anak-anak. Inilah mengapa otak kanan mereka lebih berkembang dan ini juga yang menyebabkan mereka lebih terlatih dalam berbahasa.

Selain itu, kisah-kisah dongeng juga mengandung cerita positif tentang perilaku sehingga membuat anak-anak menjadi lebih mudah dalam menyerap tutur kata yang sopan. Dongeng juga dapat meningkatkan minat baca anak dan membentuk rasa empati. Dengan cerita-cerita dongeng yang mendidik, maka anak akan dengan mudah menyerap nilai positif yang akan menjadikan mereka anak yang berempati dengan orang lain.

Related posts