Wijaya Karya Kantongi 70% Kontrak Pertamina EP

NERACA

Jakarta- PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) mengantongi 70% dari nilai kontrak sebesar US$234 juta untuk proyek pembangunan fasilitas produksi gas Matindok PT Pertamina EP. Proyek ini merupakan konsorsium PT Wijaya Karya Tbk – PT Technip Indonesia yang telah ditunjuk sebagai kontraktor engineering, procurement, and construction (EPC) untuk proyek tersebut. “Pada konsorsium tersebut, perseroan memiliki porsi sebesar 70% dari total nilai kontrak sebesar US$234 juta.” kata Sekretaris Perusahaan PT Wijaya Karya Tbk, Natal Argawan di Jakarta, Rabu (22/1).

Proyek ini, sambung dia, akan dilaksanakan dalam waktu 26 bulan terhitung sejak tanggal perjanjian kontrak ditandatangani. Informasinya, emiten konstruksi ini mengincar total kontrak baru mencapai Rp 49,97 triliun pada tahun ini. Target nilai kontrak ini naik 28,56% dibandingkan total target tahun lalu yang hanya sekitar Rp 38,87 triliun.

Kontrak untuk 2014 tersebut, menurut dia, terdiri dari kontrak baru sebesar Rp 25,83 triliun dan kontrak carry over dari tahun lalu sebesar Rp 24,14 triliun."Komposisi perolehan kontrak baru kami untuk tahun 2014 terdiri dari induk perusahaan 70% dan anak perusahaan sebesar 30%," jelasnya.

Sementara hingga Desember 2013, Wika telah memperoleh beberapa proyek, antara lain, Proyek Bendungan Tugu di Trenggalek Rp 563,64 miliar, Proyek Sodetan Kali Ciliwung Rp 447,82 miliar, Proyek Banggai Amonia Plant Rp 477 miliar. Selain itu proyek Dermaga Multi Purpose Teluk Lamong Rp 272,47 miliar, dan CP101 dan CP102 of Construction of Jakarta Mass Rapid Transit (MRT) Project Surface Section Rp 1,03 triliun.

Selain itu, Proyek EPC pembangunan Stasiun Kompresi Gas (SKG) Rantau Panjang dan Pangkalan Brandan Rp 413 miliar, Proyek EPC ESF Nom Crucible MOP PP Antam Rp 345 miliar, Pembangunan jalur RGTC perkuatan dan peninggian jalan Tj. Priok Rp 101,59 miliar.

Proyek MRT Underground CP 104-105 Rp 294,53 miliar, proyek EPCC of New Condensate and Diesel Tanks British Petroleum Ltd. (BP) Rp 382 miliar, perluasan gedung terminal 3 Ulyimate Bandara Soekarno-Hatta Rp 1,79 triliun dan pembangunan University Hospital di Universitas Indonesia Rp 539,26 miliar.

Di tahun depan, kata dia, ada empat pilar utama yang menjadi kosentrasi perseroan, yaitu kontruksi, sipil, gedung dan energi. Adapun proyek sipil yang menjadi incaran perseroan adalah proyek-proyek sipil seperti MRT dan proyek-proyek kementrian Pekerjaan Umum (PU) lainnya.

Untuk pengembangan usaha di tahun depan, pihaknya menetapkan nilai investasi sekitar 1,8 trilliun. Rencananya, dana tersebut akan digunakan untuk membiayai pembebasan tanah pemukiman, sekitar Rp150 milliar, pembangunan pelabuhan Rp50 milliar, dan investasi dalam sektor air minum Rp100 miliar, serta energi Rp100 milliar. “Sisanya untuk pembiayaan peralatan kontruksi,” ujarnya.

Sementara untuk kontrak baru yang diperoleh perseroan hingga akhir Oktober 2013, yaitu sebesar Rp15,2 triliun atau meningkat 26,67% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp12 triliun. “Kontrak per akhir Oktober 2013 yang diperoleh Wijaya Karya telah mencapai Rp15,2 triliun,” ucapnya.

Related posts