Mutiara Dari Timur Yang Tersembunyi - Menyusuri Kokas

Berlibur pastilah menginginkan suasana yang berbeda dari biasanya, tidak banyak memang masyarakat perkotaan yang bisa menikmati liburannya dengan santai dan dengan suasana yang berbeda. Rutinitas masyarakat perkotaan yang sehari-hari dan sangat membosankan membuat seseorang terkadang lupa jika seseorang tersebut sedang berlibur. Salah satu caranya ialah dengan menikmati dan menghabiskan liburan yang jauh dari hirupikuk perkotaan seperti berlibur ditempat yang satu ini.

Kokas adalah salah satu distrik (kecamatan) yang ada di Kabupaten Fakfak, Papua Barat. Kota ini baru bertumbuh sebagai masyarakat yang majemuk meliputi masyarakat nelayan asli Papua dan juga pendatang dari Buton, Maluku, dan beberapa daerah di sekitarnya. Sebuah pelabuhan laut dibangun untuk mendukung kegiatan perusahaan perminyakan di kota kecil ini. Pembangunan jelas terlihat tapi seolah kepariwisataannya masih terlelap walau berbinar.

Saat nama Kokas diucapkan, mereka yang tahu akan segera menyebutkan beberapa highlightyang paling unik di sana. Walau di balik itu masih banyak yang bisa ditawarkan, keragaman daya tarik Kokas seolah masih tersembunyi di balik namanya yang besar dahulu kala pada masa ‘ketuanan’, yaitu sebutan yang khas digunakan di daerah Papua dan sekitarnya untuk kerajaan. Faktanya, dari 9 raja yang ada di Fakfak, 5 raja berada di kawasan Kokas.

Kokas dan juga sekitarnya sudah saatnya dikenalkan jauh lebih luas tanpa kesalahpahaman. Dahulu, raja-raja di kawasan Fakfak yang jumlahnya 9 ketuanan itu berawal dari pegunungan yang bernama Pegunungan Mbaham yang menggunakan bahasa Baham atau bahasa gunung. Pegunungan ini tampak dari Kokas. Lima ketuanan di kawasan Kokas ialah Pikpik Sekar, Wertuer, Arguni, Patipi, dan Rumbati. Hingga kini, raja-raja dari 5 ketuanan ini dan juga 4 ketuanan lainnya di daerah lain yaitu 2 di Fakfak, 1 di Namatota/Kaimana, dan 1 di Raja Ampat, masih berkuasa.

Kokas adalah sebuah kota kecil dengan sejarah panjang. Dari kurun waktu terdekat, Kokas sempat menjadi basis pertahanan perang bagi tentara Jepang saat Perang Dunia II dan menduduki kawasan Indonesia. Dari jejak itu, Kokas bahkan menamakan dirinya sebagai Kota Basis Pertahanan Perang Dunia II. Tak tanggung-tanggung, sebutan itu dipatrikan kuat di atas bukit dengan tulisan warna putih berukuran besar menghadap ke laut agar siapapun yang datang dari arah laut atau darat dapat melihatnya. Selain itu, sebuah meriam peninggalan Jepang dengan tulisan “Tokyo Maruseko” dipasang di tepi pantai seolah menjadi simbol, selamat datang di Kokas.

Jauh sebelum masuk ke daerah Kokas, dari arah Fakfak, Anda bisa meluangkan waktu untuk berhenti sejenak diAir Terjun Kayumi. Air terjun ini berada di tepi jalan menuju Kokas dan dapat dilihat dari jembatan. Air terjun berundak ini berjarak sekitara 150 meter dari jembatan dan bisa menanyakan ke masyarakat setempat cara mencapainya.

Di Kota Kokas yang sederhana, terdapat bukit yang di puncaknya terdapat monumen yang menunjukkan jejak-jejak sejarah Perang Dunia II, khususnya pendudukan Jepang di Papua. Di kaki bukit yang hampir seluruhnya dipagar rapih, terdapat beberapa pintu masuk goa yang disebutgoa JepangKokas. Goa ini saling terhubung dan memasukinya perlu bersama seorang pemandu setempat.

Di depan kota Kokas tampak pulau besar yang disebut Pulau Ugar. Di depan pulau ini ada beberapa pulau kecil yang rupanya mirip dengan pulau-pulau di Raja Ampat. Salah satu pulau kecil ini disebutPulau Kapdan jugaPulau Krek. Konon, pada hari-hari tertentu, kedua pulau ini kerap terlihat bersatu terutama pada malam Jum’at. Walau terdengar mistis, masyarakat percaya hal itu terjadi walau pembuktiannya masih sukar dijastifikasi. Memang hal mistis sering didengar di Kokas tapi walau mistis, pembuktian untuk daya tarik lain yang tidak kalah mistisnya masih banyak ditemukan dan bisa dibuktikan.

Related posts