Terbentur Pajak, RDPT Tidak Menarik Pasar

NERACA

Jakarta- PT Mandiri Investasi mengaku belum berminat untuk menerbitkan produk reksadana penyertaan terbatas (RDPT) dalam waktu dekat ini. Hal tersebut ditengarai karena adanya masalah perpajakan yang harus dibayarkan untuk produk tersebut sehingga tidak menarik bagi investor. “Kita ingin RDPT saham tapi tidak terlalu menarik karena permasalahan pajaknya belum beres.” kata Direktur Utama Mandiri Investasi, Muhammad Hanif di Jakarta, Kamis (16/1).

Rencananya, menurut dia, perusahaan akan menerbitkan reksa dana penyertaan terbatas (RDPT) dengan underlying obligasi atau surat utang. Penerbitan produk ini antara lain untuk sektor infrastruktur dan energi atau pembangkit listrik. “Estimasinya Rp500 miliar. Tapi kita lihat dulu karena tahun ini bukan tahun yang mudah.” ujarnya.

Dari beberapa produk yang dikelolanya saat ini, dia mengaku, total dana kelolaan (Under Asset Management/AUM) Mandiri Investasi saat ini mencapai Rp20,7 triliun yang disumbang dari reksadana, discretionary fund, dan beberapa subscription.

Terkait kenaikan pajak reksa dana, Direktur Utama BNI Asset Manajemen Idamshah Runizam juga mengakui kenaikan pajak reksadana bakal menurunkan minat kalangan investor terhadap produk reksa dana berbasis obligasi karena adanya kenaikan pajak penghasilan (PPh) untuk reksa dana dan obligasi dari semula 5% menjadi 15%.”Jelas kebijakan pajak reksa dana akan memberatkan. Pasalnya yang akan terkena dampaknya langsung itu tentu ke investornya. Kalau pajaknya naik berarti return yang mereka peroleh akan lebih kecil. Bisa-bisa minat investornya turun,” jelasnya.

Menurut dia, dengan adanya penurunan minat ini, secara tidak langsung akan berdampak pada penjualan produk reksa dana, terutama reksa dana berbasis obligasi. Pasalnya, dengan kenaikan pajak tersebut, maka Asset Management atau Manajer Investasi juga bisa kesulitan melakukan pemasaran karena dalam berinvestasi, investor tentunya akan melihat berapa return-nya atau imbal hasil yang didapat.

Kepala Eksekutif Pasar Modal OJK, Nurhaida sebelumnya mengatakan, belum mengetahui sampai kapan penundaan kenaikan pajak reksa dana dan obligasi sebesar 15%. Yang pasti, pada 2014 ini tetap berlaku 5%. “Sudah ditandatangani Presiden karena itu peraturan pemerintah (PP). Nah kan beberapa waktu yang lalu sedang diproses tentang perubahan PP tersebut supaya bunga obligasi itu pajaknya tetap 5%,” ucapnya. (lia)

BERITA TERKAIT

Berinvestasi Mudah Gak Pake Ribet - Ketika Semua Kemudahan Berada Dalam Genggaman

Di era digital saat ini, segala sesuatunya sangat mudah dilakukan. Tengok saja inovasi layanan industri keuangan baik itu perbankan hingga…

Geliat Sektor Industri - Anak Usaha Barito Pacific Jual Lahan 12,6 Hektar

NERACA Jakarta – Geliat pembangunan industri akan berdampak besarnya permintaan lahan industri di beberapa kota besar, maka melihat potensi tersebut,…

Danai Pengembangan Bisnis - Dana Brata Luhur Lepas Saham IPO 35 Juta Saham

NERACA Jakarta – Perkuat modal guna mendanai ekspansi bisnisnya, PT Dana Brata Luhur Tbk berencana melaksanakan penawaran umum perdana (initial…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Pengumuman Kabinet Baru - Tren IHSG Berpeluang Lanjutkan Penguatan

NERACA Jakarta – Pembentukan susunan kabinet baru Joko Widodo –Ma’aruf Amin masih menjadi sentimen positif terhadap laju indeks harga saham…

Penjualan Sunson Textile Tumbuh 4,9%

NERACA Jakarta – Di kuartal tiga 2019, PT Sunson Textile Manufacturer Tbk (SSTM) membukukan penjualan sebesar Rp 317,98 miliar atau…

Bisnis Makin Legit, ROTI Raup Untung 211,7 Miliar

NERACA Jakarta – Di kuartal tiga 2019, PT Nippon Indosari Corporindo Tbk (ROTI) berhasil membukukan untung bersih sebesar Rp 211,7…