Pembangunan Ekonomi Melalui BMT - Oleh: Moh. Fadlillah, Mahasiswa Perbankan Syariah FAI-UMJ

Lembaga keuangan mikro mempunyai peran signifikan dalam pengembangan ekonomi masyarakat melalui berbagai pembiayaan mikronya. Hal ini tidak terlepas dari kemudahannya diakses masyarakat. Mulai dekade akhir abad 20 di Indonesia mulai bermunculan lembaga-lembaga keuangan mikro berbasis syariah yang kini lebih dikenal dengan BMT atau Baitul Mall wat Tamwil. Kelahirannnya yang semula hanya bermodalkan semangat dan keprihatinan, kini telah melengkapi diri dengan profesonalitas. Tidak heran jika BMT kini mulai diperhitungkan baik oleh pemerintah maupun pihak perbankan.

Jadi, jika kita ingin melihat pemberdayaan ekonomi rakyat yang sebenarnya, tengoklah kiprah BMT. Sebagai lembaga keuangan mikro, BMT terus mengalami pertumbuhan yang signifikan. Kegiatan pokok BMT sendiri adalah menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan atau tabungan dan menyalurkannya lewat pembiayaan usaha masyarakat yang produktif dalam meningkatkan kualitas ekonomi umat, terutama pengusaha kecil yang memiliki keterbatasan modal.

Menurut Muhammad (2000), secara konsepsi BMT adalah suatu lembaga yang di dalamnya terdapat dua jenis kegiatan sekaligus. Pertama, adalah pengumpulan dana dari berbagai sumber, seperti zakat, infak, sedekah, serta sumber lainnya yang kemudian dibagikan atau disalurkan kepada yang berhak dalam rangka mengatasi kemiskinan. Kedua, adalah kegiatan produktif yang bertujuan menciptakan nilai tambah baru dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang bersumber daya manusia dengan menghindari riba dan menetapkan bagi hasil.

Dalam perjalanannya lembaga BMT ini sudah memberikan kontribusi yang sangat besar pada zaman Rasululllah SAW. Bahkan lembaga yang berasaskan syariah ini sudah membuktikan ketahanannya dalam menghadapi hantaman krisis yang menimpa Indonesia 1997 lalu.

M. Lutfi Hamidi dalam Jejak-Jejak Ekonomi Syariah (2003) mengungkapkan, bahwa peran BMT dalam memberikan kontribusi kepada bergeraknya roda ekonomi kecil jelas riil. Sementara perbankan dililit ‘lemak’dana yang tak mampu disalurkan. Bukan itu saja nilai strategis BMT. Satu yang paling istimewa, BMT juga menjadi agen pengembangan dan penyantun masyarakat papa.

BMT merupakan lembaga keuangan yang berpedoman pada al-Qur’an dan hadist, berbasis kerakyatan dengan pemberdayaan usaha kecil dan menengah, serta langsung bersinggungan dengan masyarakat di perkampungan dan desa-desa, sehingga keberadannya sangat membantu masyarakat terutama rakyat kecil dalam memperoleh dana. Pada tahun 2010 saja pertumbuhan aset BMT rata-rata 35-40 persen, financing to deposit ratio (dana yang disalurkan) mencapai sekitar 100 persen. Artinya, kinerja pembiayaan BMT di sejumlah daerah masih sangat bagus dalam beberapa tahun terakhir. Sedangkan dari segi jumlah, saat ini tercatat sekitar 3.900 unit dengan jumlah jaringan 5.000 kantor. Sementara pembiayaan rata-rata Rp 3,2 juta per nasabah. Dengan pembiayaan sebesar itu, BMT sangat efektif menyentuh kelas paling bawah dalam struktur masyarakat. Hal ini yang mendorong lonjakan pembiayaan sekaligus aset.

Mengoptimalkan Peran BMT

Dalam rangka optimalisasi peran BMT untuk pengembangan sektor ekonomi riil, maka fungsi BMT di bidang penyaluran dana khususnya dalam bentuk pembiayaan produktif perlu lebih ditingkatkan. Peran BMT di bidang penyaluran dana kepada masyarakat yang bergerak di sektor ekonomi riil perlu dioptimalkan. Adapun salah satu caranya selain peningkatan kapabilitas dan profesionalitas para pengelolanya, juga diperlukan pemahaman terhadap kondisi setempat di mana sebuah BMT berada. BMT yang berada di sekitar masyarakat petani, tentu berbeda dengan BMT yang ada di sekitar masyarakat pedagang. BMT yang berperan secara optimal diharapkan dapat memberikan andil dalam pembangunan ekonomi nasional, sehingga diharapkan kesejahteraan masyarakat dapat terwujud secara adil dan merata.

Dengan demikian kita berharap perekonomian Indoenesia bisa meningkat ke arah yang lebih baik dengan tersebarnya BMT-BMT di seluruh Indonesia khsusnya di pedesaan. Kita sebenarnya memiliki banyak potensi untuk mengembangkan perekonomian dalam rangka meningkatkan kemakmuran hidup. Banyaknya jumlah umat Islam Indonesia merupakan hal yang potensial untuk mengembangkan perekonomian jika dikelola dengan baik. Apabila di Indonesia tumbuh BMT-BMT yang mampu memberdayakan masyarakat, maka wajah perekonomian bangsa ini akan menjadi lebih baik dan lebih tahan dalam menghadang hantaman krisis.

Related posts