Punya Cadangan Batubara 5 Kali Lipat RI, China Malah Rajin Impor - Strategi Pengelolaan Sumber Daya Mineral Ala Negeri Tirai Bambu

NERACA

Jakarta - Indonesia sebagai salah satu produsen batubara masih mengeksploitasi secara besar-besaran energi tersebut. Bahkan dengan adanya aturan pelarangan ekspor mineral mentah pada 12 Januari 2014, sebagian pengusaha akan menggenjot ekspor batubaranya. Sayangnya, sebagian besar ekspor batubara Indonesia lebih banyak ditujukan kepada China. Padahal, negara dengan julukan tirai bambu tersebut memiliki jauh lebih banyak cadangan batubara di perut buminya.

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Susilo Siswoutomo menyatakan bahwa China memiliki cadangan batubara mencapai 110 miliar ton atau 5x lipat dari cadangan batubara Indonesia. "Cadangan batubara Indonesia ada sekitar 27 miliar ton, sedangkan China ada lima kali lipatnya yaitu 110 miliar ton batubara. Hebatnya adalah ekspor batubara Indonesia lebih banyak ke China," ungkap Susilo di Jakarta, akhir pekan kemarin.

Menurut Susilo, setiap tahunnya negara tirai bambu tersebut telah mengimpor batubara dari Indonesia mencapai 180 juta ton. Ia berpendapat, China tetap tidak mengeksploitasi cadangan batubara yang dimilikinya agar kelak batubara yang China miliki bisa dimanfaatkan untuk pembangkit listrik pada masa mendatang.

Susilo khawatir, jika Indonesia terus mengeruk sumber daya batub ara untuk dieskpor, maka generasi mendatang hanya mendapatkan kabar bahwa Indonesia menyia-nyiakan potensi sumber energinya. "Kalau seperti ini, tahun 2030 anak cucu kita hanya bisa mendengar cerita kalau Indonesia bisa mengekspor batu bara," kata Susilo.

Kutipan Pajak

Sebelumnya, pada 30 Agustus 2013, China menerapkan pajak impor 3% terhadap batu bara dengan nilai kalori di bawah 4.500 kkal per kilogram berbasis net as received (NAR), dengan kandungan abu kurang dari 25% dan sulfur di bawah 1%. Pada 2012, Indonesia mengapalkan sekitar 60 juta ton batubara ke China atau 25% dari total ekspor Indonesia. Pada 2013, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral memperkirakan ekspor meningkat menjadi 65 juta ton.

Namun demikian, Kebijakan China yang mengutip pajak impor 3% untuk batu bara berkalori rendah diyakini tidak akan mengganjal ekspor Indonesia. Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan Indonesia tidak banyak mengapalkan batu bara berkalori rendah atau low rank coal ke Negeri Tirai Bambu.

Hambatan tarif di China, lanjutnya, justru harus dianggap sebagai peluang untuk melakukan penghiliran di dalam negeri, misalnya untuk bahan baku pupuk dari hasil gasifikasi batubara. “Jadi, jangan dianggap sebagai ancaman, tapi opportunity untuk meningkatkan kemampuan dalam negeri kita,” katanya.

Namun, Hatta enggan mengomentari apakah kebijakan yang diterapkan China melanggar perjanjian perdagangan bebas Asean-China (Asean-China Free Trade Agreement) mengingat kesepakatan itu mengatur liberalisasi tarif, termasuk tarif impor 0% di antara dua kawasan. Menurutnya, hal itu akan dicermati lebih lanjut oleh Kementerian Perdagangan. “Saya hanya ingin melihat dari sisi lain bahwa kalau kita memiliki sumber daya mineral, maka diupayakan jangan jual barang mentah,” ujarnya.

Tidak Takut

Asosiasi Pengusaha Batu Bara Indonesia (APBI) menyatakan bahwa belum ada kepastian terkait larangan impor batu bara dengan kalori rendah (low rank coal) ke China. Namun, para pengusaha batu bara tidak takut jika larangan tersebut diberlakukan.

Direktur Eksekutif APBI Supriatna Sahala mengatakan, jika larangan itu diberlakukan, maka ekspor akan dialihkan ke beberapa negara, seperti Pakistan, Srilanka, India dan negara-negara Asean lainnya. Dia optimistis produsen batu bara Indonesia bisa menjajaki pasar di luar China. "Dampak ke pasar pasti ada tapi tidak siginifikan. Kita bisa diversifikasi ke beberapa negara," kata dia.

Pengaruh itu, dia menjelaskan karena ekspor batu bara Indonesia ke China mencapai 90 juta ton, dimana setengahnya didominasi oleh batu bara berkalori rendah. "Jadi, diperkirakan kehilangan 40 hingga 45 juta ton," kata dia.

Menurut Supriatna, permintaan batu bara dengan kalori rendah masih memiliki prospek cukup cerah. Pasalnya, ekspor setiap negara tergantung jarak dan kualitasnya. Negeri Tirai Bambu, kata Supriatna, mengonsumsi batu bara sekitar 3,4 miliar ton per tahun. Sedangkan untuk produksi hanya 3,2 miliar ton. "Perkiraannya, per tahun mengalami defisit hingga 200 juta ton batu bara," jelas dia.

Related posts