Penggalan-penggalan Waktu - Oleh Prof Dr Komaruddin Hidayat, Rektor UIN Jakarta

Kita hidup di dalam waktu, sebagaimana ikan hidup di dalam lautan. Karena waktu itu abstrak dan kita tak mampu mengukur panjangnya, kapan waktu bermula dan kapan berakhir, maka manusia menciptakan sekat-sekat, seakan waktu dipenggal-penggal jadi potongan yang terukur.

Manusia membuat rumah dan bilik-bilik kecil dalam rentangan waktu agar merasa lebih nyaman. Bukankah manusia senang membuat kamar-kamar ketika membangun rumah besar agar merasa lebih nyaman dan merasakan privasi? Kita menciptakan batas dan perhitungan sejak dari detik, menit, jam, dan hari. Selama satu hari atau 24 jam, kita susun agenda dan batas-batas untuk penanda perjalanan hidup yang tak kenal berhenti, agar kita tahu sampai di mana kita melangkah dan apa saja yang kita jalani.

Akumulasi tujuh hari lalu disebut seminggu, dan sebanyak empat minggu kita namakan sebulan. Lalu kita namakan setahun ketika mencapai 12 bulan. Seakan waktu yang abstrak tadi menjelma bagaikan penggalan-penggalan bahan baku, lalu kita bangun halte, tenda atau rumah tempat bernaung dan beraktivitas di dalam lorong waktu mengurung kita semua, yang penuh misteri dan tak terjangkau asal-usul dan ujung-pangkalnya. Kita semua lahir, beraktivitas, dan mati dalam pelukan waktu, bagaikan ikan dalam pelukan lautan.

Yang kemudian membuat kita sibuk serta heboh adalah sederet festival yang diciptakan pada setiap penggalan waktu ketika menandai tahun baru. Tonggak-tonggak penanda waktu tadi lalu mendorong manusia berkreasi untuk merayakan masa lalu dan menjemput masa depan. Agar peta dan arah perjalanan hidup lebih tergambar, maka diciptakan penggalan-penggalan agak panjang, seperti sewindu, satu dasawarsa, seabad. Ada lagi batasan yang agak longgar seperti era, zaman, masa yang semuanya mengundang imajinasi yang berkaitan dengan peristiwa-peristiwa natural dan kultural.

Persepsi kita terhadap ruang dan waktu jelas berbeda. Ruang relatif statis, manusia yang bergerak ke sana ke mari di dalam ruang. Ada orang yang pernah berkeliling dunia dan menjelajahi ratusan negara. Tetapi ketika planet bumi ini diposisikan seperti kelereng di antara triliunan kelereng planet lain di jagat semesta ini, maka sejauh-jauh manusia bepergian, sesungguhnya masih di situ-situ juga. Bagaikan semut yang hanya bergerak mengitari sebuah jeruk. Lalu, waktu ini sesungguhnya bergerak lurus dan linier ke depan, ataukah berbentuk lingkaran yang pada akhirnya tak ada ujung dan pangkalnya?

Andaikan waktu bergerak ke depan bagaikan kereta, apakah datar saja ataukah naik-turun secara tajam? Lagi-lagi, jangan-jangan diskusi manusia untuk mengetahui hakikat ruang dan waktu ibarat semut yang naik pesawat terbang, dia tak mampu mengukur luas ruang serta jarak perjalanannya. Ada nasihat klasik, yang paling penting itu hiduplah sekarang dan di sini, now and here. Buatlah penggalan-penggalan waktumu ibarat sawah, lalu sebarkanlah biji tanaman sebanyak- banyaknya agar lingkunganmu menjadi rindang dan mendatangkan buah.

Manusia tidak menciptakan waktu, namun terlempar di dalam ruang dan waktu. Yang dituntut adalah bagaimana membuat penggalan waktu dan bilik ruangmu bermakna bagi dirimu dan lingkunganmu. Peringatan Alquran sangat tajam dan rasional tentang penggunaan waktu ini. Sungguh manusia selalu dibuntuti kerugian akan kehilangan modal waktu, yang sekali berlalu tak akan kembali lagi dan tidak bisa ditemukan lagi. Maka segera isi ketika waktu datang menemuimu dengan iman dan amal kebajikan. Jika tidak, kamu akan bangkrut, merugi.

Namun karena kita sering lupa dan memandang murah akan waktu, manusia diperintahkan untuk saling memperingatkan dan saling mengajak melakukan investasi kebenaran. Lagi-lagi, betapa beratnya bersikap konsisten beramal saleh dan selalu menegakkan kebenaran, maka kita diingatkan untuk bersikap sabar, committed, dan konsisten. Makanya, jangan hanyut dengan hiruk-pikuk festival. Festival itu bisa sarat dengan makna dan pesan kehidupan Ilahi yang bersifat transenden dan menghibur.

Tetapi festival juga bisa tak lebih sebagai gemuruh dalam sekat-sekat waktu tanpa visi dan makna. Untuk memotong kejenuhan akibat rutinitas hidup lalu diganti dengan hiburan sesaat. Pada setiap event dan pergantian tahun, tanyakan pada dirimu, investasi kebajikan apa yang aku tanamkan selama ini. Apa maknanya bagi anak-cucuku dan bagi rakyat serta bangsaku. Pertanyaan ini sangat relevan direnungkan oleh para politisi dan pejabat tinggi negara yang senang menciptakan momen-momen dan festival politik, terutama momen lima tahunan untuk memilih wakil rakyat dan presiden serta wakilnya.

Orang mudah terperangkap pada sekat-sekat hari, minggu, bulan dan tahun. Padahal untuk membangun bangsa, orang mesti melihat dan berpikir peta era dan zaman guna menciptakan warisan sejarah yang ditandai dengan tembok abad. Orang kecil dan pikiran kecil hanya cocok untuk ruang yang kecil dan sempit. Tetapi bangsa yang besar diperlukan pikiran dan langkah besar, berpikir dalam rentang waktu melampaui batasan bulan dan tahun. (uinjkt.ac.id)

Related posts