Telkom Targetkan Pendapatan Rp10 Triliun

NERACA

Jakarta - PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) menargetkan pendapatan dari segmen enterprise dan Small Medium Enterprise (SME) sebesar Rp10 triliun pada tahun 2014.

Direktur Enterprise and Business Service PT Telekomunikasi Indonesia Tbk Muhammad Awaluddin mengatakan, dari target tersebut segmen enterprise berkontribusi 76% sedangkan 24% dikontribusi segmen SME yang tumbuh 10% dibandingkan tahun 2013,”Segmen enterprise dan SME menjadi pusat pertumbuhan revenue unconsole bagi Telkom. Jumlah UKM yang memiliki badan usaha di Indonesia ada sekitar empat juta dan merupakan peluang pasar yang harus digarap”, ungkapnya dalam keterangan resmi perseroan di Jakarta, Senin (6/1).

Dia menambahkan, memasuki 2014 perseroan akan fokus masuk ke segmen pasar UKM melalu tiga revenue driver, seperti Small Office Home Office (SOHO), Business Solution for Community (BSC), serta Digital Media Solutions.“Dari ketiga business driver tersebut Telkom memproyeksikan pendapatan sekitar Rp100 miliar”, katanya.

Dia menyebutkan, semenjak program IndiPreneur diluncurkan tahun lalu sudah bergabung sekitar 150 ribu UKM dan pada tahun ini diharapkan dapat menjangkau 500 ribu UKM. Sedangkan pada 2015 perseroan menargetkan dapat menjangkau 1 juta UKM.

Sementara itu, perseroan tetap melakukan rencana monetisasi anak usaha di bisnis menara PT Dayamitra Telekomunikasi (Mitratel) meskipun Komisi VI DPR-RI akan membentuk Panitia Kerja (Panja) terkait pelepasan aset tersebut.

Direktur Utama PT Telekomunikasi Indonesia Tbk Arief Yahya menyatakan perseroan ingin melakukan peningkatan nilai aset (unlock value) di bisnis menara. Secara praktik, dia menilai bisnis menara harus independen dan tidak terikat oleh operator tertentu.

Menurut dia, jika bisnis menara tidak dimonetisasi maka perusahaan bisa kehilangan peluang. “Selanjutnya menara kalau tidak independen maka tenancy ratio-nya menjadi rendah. Lihat saja operator yang mengelola menara sendiri. Padahal value dari menara itu ada pada tenancy ratio”, ungkapnya.

Perseroan sendiri tengah mengkaji 4 opsi untuk unlock value dari menara Mitratel yakni menjualnya, penggabungan (merger), share swap, atau melepas saham ke publik (Initial Public Offering/IPO). Namun, dia memastikan perseroan tidak akan menjualnya. “Untuk opsi selanjutnya, merger secara teknis tidak mungkin. Sehingga tinggal opsi share swap ataupun IPO. Mana yang terbaik masih dikaji. Kalau IPO dan mayoritas dimiliki Telkom, perusahaan itu tidak independen. Jadi belum tentu juga IPO”, jelasnya.

Selain itu, setelah menyatakan memperoleh pinjamn sindikasi dari 3 bank BUMN sebesar Rp4,5 triliun, perseroan berharap mendapatkan kepastian pinjaman tersebut pada Januari 2014. Rencananya, dana tersebut akan digunakan perseroan sebagai belanja modal (capital expenditure/capex) 2014 dan anak usahanya. (nurul)

Related posts