Pengusaha Logistik Optimis Mampu Tumbuh 8%

NERACA

Jakarta - Para pelaku industri logistik nasional optimistis kondisi makro ekonomi nasional tetap membaik pada tahun 2014, dengan kondisi itu turut serta mendorong pertumbuhan industri logistik nasional, diperkirakan kenaikan pertumbuhan itu mencapai 7% hingga 8% pada tahun ini.

Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bidang Logistik sekaligus Bendahara Carmelita Hartoto mengatakan para pelaku usaha bidang logistik sudah merembukkan prospek bisnis di tahun kuda ini secara positif. “Pelaku usaha memiliki keyakinan akan cerahnya perekonomian nasional ke depan,” kata Carmelita dalam keterangan resmi, Senin (6/1).

Menurutnya, pelaku usaha logistik ini berpegang pada kondisi makro ekonomi secara keseluruhan, terutama terkait level pertumbuhan ekonomi nasional. Berdasarkan level pertumbuhan ekonomi nasional yang menurut rilis Bank Dunia berkisar 5,3%, para pelaku usaha logistik ini berkesimpulan bahwa kinerja pemerintah berhasil menjaga level pertumbuhan. “Optimisme pertumbuhan itu sejalan dengan proyeksi indikator makro ekonomi APBN 2014,” ungkap Carmelita.

Terlebih lagi, Carmelita mengamati kecenderungan adanya peningkatan pada sektor konstruksi dan proyek-proyek migas, sehingga menepis kekhawatiran ikut surutnya sektor logistik akibat penurunan pertumbuhan di beberapa bidang, seperti properti dan industri tekstil.

Makin Menggiurkan

Ketua Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) Zaldy Mashita mengatakan, bisnis logistik di Indonesia semakin menggiurkan dengan nilai yang terus naik. Dia menyebut hingga akhir tahun 2013, nilai bisnis logistik menembus angka US$ 150 miliar atau Rp 1.722 triliun. Tak heran, jika pada 2014 industri ini diperkirakan bias meraup hingga US$170 miliar atau Rp1.951 triliun.

Menurutnya, pertumbuhan tersebut didukung dengan adanya peningkatan distribusi pengiriman barang terkait Pemilu 2014, selain pengembangan jaringan maupun rantai suplai perusahaan-perusahaan logisitik yang beroperasi di Indonesia. “Logistik nasional diproyeksi bisa tumbuh hingga 15% dengan nilai bisnis mencapai US$ 170 miliar pada 2014 ini,” katanya.

Di Indonesia, pasar logistik sangat menggiurkan.Pasalnya, Indonesia merupakan negara dengan tipikal kepulauan yang membuat kebutuhan logistik sangat tinggi. Hal ini memerlukan penguatan sistem logistik dengan cara menyeimbangkan jumlah angkutan cargo atau komoditas antarwilayah. Tak heran, jika prospek bisnis ini menarik perhatian para penyedia jasa logistik multinasional untuk berinvestasi ke dalam negeri. Selain itu, tahun depan ada Masyarakat Ekonomi ASEAN.

ALI mencatat dua perusahaan asing telah merampungkan akuisisi perusahaan logistik nasional senilai Rp 800 miliar dengan skema private equity pada November 2013 lalu. Sementara tiga perusahaan investasi asing juga tengah memproses pembelian perusahaan logistik nasional dengan nilai sekitar Rp 1 triliun.

“Mereka ikut berebut pangsa pasar di bisnis ini. Tercatat, antara lain DHL, FedEx, TNT, dan UPS. Sebagian perusahaan multinasional ini tak berdiri sendiri, tetapi bekerja sama dengan perusahaan logistik lokal. Sebagai contoh Fedex yang bermitra dengan RPX, dan DHL menggandeng PT Birotika Semesta untuk menangani aktivitas logistiknya,” ucapnya.

Akibatnya, kata dia, industri logistik pun sangat terfragmentasi karena banyak sekali para pemain di bisnis ini. Perusahaan logistik multinasional tersebut memiliki pangsa pasar yang cukup besar di Indonesia, yakni hingga 60%.

Menurut dia, sepuluh pemain besar di dunia, masing-masing memiliki pangsa pasar setidaknya 30% secara global. Sisanya sebesar 40% barulah diperebutkan oleh para pemain dalam negeri. Para pemain lokal, seperti Tiki JNE, Pandu Siwi, dan Nusantara Card Semesta (NCS) untuk sementara masih berjaya memperebutkan pangsa pasar retail lokal lebih dari 70%.

Zaldy pun menyebutkan, selama 2013 penyedia jasa logistik lokal harus bertahan dari gempuran bisnis penyedia jasa logistik asing yang membanjiri Indonesia. Tahun 2013 pun menjadi tahun terberat, karena berbagai faktor yang terjadi. Antara lain, kenaikan harga BBM bersubsidi yang mencapai 30 %. “Di pertengahan tahun terjadi stagnasi di Pelabuhan Tanjung Priok yang juga menambah beban berat bagi pertumbuhan logistik di Tanah Air. Toh, bisnis ini bakal terus tumbuh dan tak akan pernah surut. Apalagi, peluang bisnis logistik di Indonesia masih terbuka lebar sejalan dengan makin melebarnya industri lain,” pungkasnya.

Related posts