Tingkat Pemeriksaan UMA Naik Double Digit

NERACA

Jakarta- Otoritas PT Bursa Efek Indonesia mengaku, aktivitas transaksi saham di luar kewajaran (Unusual Market Activity/UMA) sepanjang tahun 2013 mengalami penurunan dibanding tahun-tahun sebelumnya. Namun di sisi lain, pemeriksaan yang dilakukan pihak otoritas terkait aktivitas perdagangan saham ini mengalami peningkatan. “Tahun ini pemeriksaannya lebih banyak. Pemeriksaan naik double digit, tapi secara UMA single digit penurunannya. Jumlah efeknya juga menurun, turunnya almost double digit.” kata Direktur Kepatuhan Anggota Bursa Efek Indonesia (BEI), Uriep Budiprasetyo di Jakarta, Kamis (2/1).

Istilah UMA, kata dia, hanya sebagai informasi adanya perdagangan yang di luar kebiasaan atau sebagai tanda peringatan (alert). Sementara dalam pengawasan transaksi, tidak hanya terfokus pada anggota bursa (AB), tetapi juga emiten dan investor. “Tiga hal itu yang saya lihat. Kan bisa AB-nya, bisa investor, bisa juga emitennya.” ujarnya.

Biasanya, setelah saham dikategorikan UMA, sambung dia, pihaknya akan menindaklanjuti dengan permintaan data untuk pemeriksaan, dan apakah setelah itu cenderung diperiksa lebih lanjut atau tidak. Adapun parameter yang dilihat antara lain terkait hal-hal yang dinilai fundamental, isu, maupun aksi korporasi emiten, “Semua kita lihat kewajarannya. Kalau di luar kewajaran, UMA kita keluarkan.” ucapnya.

Jika dihitung secara persentase, menurut dia, pemeriksaan di tahun 2013 mengalami peningkatan sebesar 20% dibandingkan tahun 2012 lalu. Hal tersebut ditengarai sejak diberlakukannya Single Investor Identity (SID) secara lebih ketat kepada setiap investor. Oleh karena itu, pihaknya akan mendorong peningkatan kualitas SID dari sisi validitas dan akuntabilitas oleh KSEI. Sehingga dapat meminimalisir penggunaan SID ganda atau praktik-praktik yang mengarah pada insider trading. “SID itu jadi sangat bagus untuk pengawasan. Jadi lebih cepat lebih mudah, dan gampang.” kata Uriep.

Lebih lanjut dia mengatakan, tingkat kepatuhan anggota bursa sepanjang tahun 2013 juga mengalami peningkatan. Hal tersebut dilihat dari hasil audit rutin dan khusus, seperti pemenuhan MKBD dan margin. Begitu juga dengan pemenuhan SOP di perusahaan efek. “Kita bisa lihat dari butir yang harus diperiksa, dan hasilnya semakin lama semakin ke depan perusahaan efek semakin memperhatikan, mulai dari SOP, melakukan pengawasan, dan monitoring.” tuturnya.

Selain terkait pengawasan terhadap MKBD, pihak otoritas juga memperhatikan nasib rekening efek pada perusahaan yang tercatat akan keluar dari anggota bursa. Pasalnya, jika telah keluar dari keanggotaan bursa maka secara otomatis mereka tidak mengadministrasi lagi rekening nasabahnya lagi. “Jadi, harus dipastikan keamanan nasabah seperti apa.” imbuhnya.

Sementara untuk pembenahan yang akan dilakukan di tahun 2014 ini, kata dia, pihaknya masih akan fokus pada dua hal tersebut. Pertama, terkait margin trading yang menyangkut peraturan V.D.6. Salah satu contohnya, terkait saham-saham yang boleh dilakukan pembiayaan oleh perusahaan efek. Kemudian dilanjutkan dengan modal kerja bersih disesuaikan (MKBD) dalam peraturan V.D.5. “Pemeriksaan ini sudah dilakukan mulai tahun 2012 akhir, kita ingin periksa lagi. Artinya, parameter-parameter yang ada, ada yang salah dalam membukukan pos-posnya itu kembali kita lihat sehingga 2014 itu meningkat.” pungkasnya. (lia)

Related posts