BNI Aset Manajemen Bidik Dana Kelola Rp 8 T - Perkuat Reksa Dana Saham

NERACA

Jakarta – Di tahun 2014 ini, menjadi tantangan besar bagi industri reksa dana. Pasalnya, pemerintah bakal menaikkan pajak reksa dana dari 5% menjadi 15% yang tentunya bakal mempengaruhi minat investor pasar modal. Namun kondisi tersebut, tidak menyurutkan PT BNI Asset Manajemen (BNI AM) untuk menargetkan kinerja keuangan lebih agresif.

Direktur Utama BNI Asset Manajemen, Idamshah Runizam mengatakan, tahun ini perseroan membidik dana kelolaan atau asset under management (AUM) sebesar Rp8 triliun,”Tahun ini, dana kelolaan kita bidik di kisaran Rp8 triliunan. Kita optimistis bisa tercapai,"katanya di Jakarta, kemarin.

Bila tahun lalu, perseroan merevisi target dana kelolaan menjadi Rp7 triliun dari sebelumnya ditargetkan sebesar Rp8,2 triliun. Revisi target tersebut karena kinerja pasar saham yang cenderung volatile, sehingga mempengaruhi besaran nilai dana kelolaan dan penambahan jumlah investor yang ingin berinvestasi di reksa dana.

Idhamshah mengatakan, perusahaan pada awal 2013 menargetkan kenaikan dana kelolaan sebesar 28,12% menjadi Rp8,2 triliun dari perolehan dana kelolaan 2012 sebesar Rp6,4 triliun. Namun kinerja pasar saham yang cenderung memburuk beberapa waktu lalu berdampak pada upaya perusahaan untuk mencapai target dan dana kelolaan, sehingga tidak begitu banyak mengalami kenaikan.

Sementara itu, bila melihat target revisi tersebut, maka target dana kelolaan tahun ini naik hingga 14,28%. Target dana kelolaan tersebut akan dikontribusi dari reksa dana saham,”Tahun depan kita akan besarkan reksa dana berbasis saham,"ungkapnya.

Selain itu, kata Idamshah, perseroan juga akan membesarkan porsi penerbitan reksa dana berbasis saham menyusul naiknya pajak penghasilan (PPh) reksa dana dan obligasi pada 2014 menjadi 15% dari sebelumnya 5%, “Tahun depan kita akan besarkan reksa dana berbasis saham. Jadi, peraturan kenaikan pajak yang 15% itu bisa kita kurangi karena yang terkena terutama yang dari obligasi,"ujarnya.

Dia menuturkan, saham-saham yang akan menjadi fokus perseroan terutama adalah saham-saham di sektor konsumsi. Hal ini mengingat fundamental usahanya yang cenderung stabil dan tahan goncangan."Kalau saham yang dihindari, kami lihat ada sektor konstruksi dan turunannya. Saham perbankan juga akan terpengaruh kalau konstruksi turun karena penyaluran kredit perbankan juga akan ikut terdampak kalau investasi konstruksi menurun,”jelasnya.

Sebelumnya, Chief Investment Officer Director of PT CIMB Principal Asset Management Fajar Hidayat pernah bilang, meskipun trennya melambat, industri reksa dana di 2014 masih tetap prospek untuk pertumbuhan dana kelolaan dengan tingkat imbal hasil yang lebih tinggi ketimbang tahun ini.

Dirinya memperkirakan, pertumbuhan nilai kelolaan hingga 20% masih terbuka, mengingat performa IHSG sebagai indeks acuan reksa dana berbasis ekuitas tumbuh dalam kisaran level yang sama dalam jangka waktu 10 tahun hingga 15 tahun. (bani)

Related posts