Pasar Modal Dihadapkan Tantangan Besar - Sambut AEC di 2015

NERACA

Jakarta – Menyambut masyarakat ekonomi Asean atau "ASEAN Economic Community" (AEC) pada 2015. Industri pasar modal dalam negeri bakal menghadapi tantangan besar menghadapi persaingan dengan negara lain, “Tantangan pasar saham domestik jauh lebih besar dibandingkan tahun ini, apalagi pada 2015 nanti ada integrasi ekonomi 'ASEAN Economic Community',”kata Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Indonesia OJK, Nurhaida di Jakarta, kemarin.

Menurutnya, untuk memenangi persaingan ASEAN Economic Community", pasar modal Indonesia harus dapat memiliki "level of playing field" yang sama dengan negara ASEAN lainnya, seperti Singapura, Thailand, dan Malaysia. Maka untuk mensiasati hal tersebut, OJK bersama dengan "self regulatory organizations" (SRO) terus melanjutkan pengembangan infrastruktur pasar modal sebagai upaya pembenahan berkelanjutan dan integrasi dengan sektor lain.

Nurhaida juga menegaskan, OJK akan menerbitkan "road map" tata kelola perusahaan yang baik (GCG) untuk seluruh emiten di Indonesia agar pasar modal Indonesia berkembang lebih baik di masa depan."Hal itu penting karena mempengaruhi persepsi investor," ucapnya.

Lanjutnya, dalam menyikapi tantangan ke depan, OJK dan Bursa Efek Indonesia (BEI) mengajak perusahaan-perusahaan tertutup untuk memanfaatkan Pasar Modal sebagai sumber pendanaan. Dia mengatakan, pihaknya akan melakukan kerja sama dengan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) untuk mendorong jumlah perusahaan melakukan penawaran umum perdana saham (IPO)."Pada 2014 OJK memiliki program, yakni kita akan mengundang 100 perusahaan yang memiliki prospek untuk IPO bekerja sama dengan Kadin agar jumlah emiten di pasar modal bertambah," kata Nurhaida.

Selain itu, OJK juga akan melakukan diskusi dan presentasi kepada calon emiten mengenai manfaat melakukan IPO bagi perusahaan dalam menjalankan bisnisnya."Dalam rangka mencapai tujuan itu, OJK dan BEI telah melakukan 'Focus Group Discussion' (FGD) dengan Kadin, dan tiga perusahaan efek (PT Danareksa Sekuritas, PT Bahana Sekuritas, PT Mandiri Sekuritas) untuk mendiskusikan permasalahan-permasalahan yang dihadapi para calon emiten potensial untuk masuk ke pasar modal,"tuturnya.

Sementara Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D Hadad mengungkapkan, keterbatasan jenis produk pasar modal menjadi tantangan di tahun 2014. Dia menyebutkan, saat ini produk-produk yang tersedia sebagai pilihan investasi pemodal masih terbatas, baik dari jumlah maupun jenis,”Produk yang berkembang juga baru dalam bentuk saham dan obligasi. Tantangan selanjutnya, belum optimalnya jumlah investor domestik, karena jumlahnya masih sangat kecil atau hanya 0,2% dari jumlah penduduk Indonesia”, ungkapnya.

Sebagai informasi, jumlah emiten di Bursa Efek Indonesia masih sedikit dibandingkan dengan bursa saham di negara ASEAN. Tercatat data per 23 Desember 2013, sebanyak 484 emiten tercatat di BEI. Sementara jumlah perusahaan tercatat di negara lain seperti Hong Kong sebanyak 1.602 emiten, Singapura 780 emiten, dan Malaysia 910 emiten. (bani)

Related posts