Indofarma Pesimis Capai Target - Dampak Pelemahan Rupiah

NERACA

Jakarta- Terdepresiasinya nilai tukar rupiah atas mata uang dolar dinilai memberikan dampak negatif bagi beberapa perusahaan. Tidak terkecuali, PT Indofarma Tbk (INAF). Manajemen perseroan mengaku hal tersebut menyebabkan pihaknya mengalami kerugian hingga Rp61,16 miliar di sembilan bulan tahun 2013 ini

Direktur Utama Indofarma, Elfiano Rizaldy mengatakan, kerugian tersebut dikarenakan beban pokok penjualan perseroan yang mengalami peningkatan menjadi Rp447,05 miliar, atau naik sebesar 1,46% dibanding tahun lalu sebesar Rp440,6 miliar. Oleh karena itu, dirinya pun persikap skeptis terhadap target penjualannya di akhir tahun ini. “Sampai akhir tahun ini, penjualan kita mungkin hanya tercapai 1,2 triliun rupiah.” katanya di Jakarta, pekan ini.

Padahal di awal tahun lalu, emiten pelat merah ini mematok penjualan sekitar Rp1,4 triliun hingga akhir tahun 2013. Hal tersebut, menurut dia, ditenggarai akibat melemahnya nilai tukar rupiah, meningkatnya upah minimum provinsi (UMP) dan kenaikan bahan baku yang memberatkan seluruh industri, termasuk perseroan.“Belum lagi perseroan juga melakukan renovasi pabrik, yang mengakibatkan penurunan produksi obat, sehingga wajar jika penjualan obat juga mengalami penurunan per September 2013,” jelasnya.

Oleh karena itu, kata dia, kondisi ini juga berimbas pada target laba bersih yang akan dikantongi perseroan pada tahun 2013. Meski demikian, di kuartal keempat ini, pihaknya akan menyelesaikan beberapa tender obat sehingga dapat memberikan kontribusi dan optimis akan dapat memperbaiki kinerjanya.

Di sisi lain, perseroan juga berencana mengurangi utangnya sebesar Rp100 miliar hingga Rp150 miliar. Nilai ini disebut sebut akan dikurangi dengan piutang yang dimiliki perseroan. Tercatat, hingga kuartal tiga tahun ini, piutang perseroan Rp231,75 miliar rupiah, naik 26% dibandingkan periode akhir tahun lalu yang Rp184,27 miliar.

Sementara itu, sampai dengan September 2013, total utang perbankan yang dicatatkan perseroan sekitar Rp269,97 miliar dari nilai utang akhir tahun lalu yang mencapai Rp75,95 miliar. Sementara terkait proses akuisisi produsen bahan baku paracetamol, PT Riasima Abadi Farma, Elfiano mengatakan, pihaknya membatalkan niatan akuisisi tersebut.

Hal ini dikarenakan tidak cocoknya harga dengan aset yang dimiliki perusahaan tersebut. Nilai akuisisi yang ditawarkan oleh Riasima mencapai Rp60 miliar- Rp80 miliar. Proses akuisisi ini sendiri telah dijalankan sejak bulan April, dan mengalami kebuntuan. Dengan begitu, perseroan akan tetap menggantungkan pasokan bahan bakunya dari luar negeri.

Sebagai informasi, rencana akuisisi tersebut untuk memperkuat sektor hulu dalam industri farmasi nasional di bisnis obat generik, agar perseroan tidak bergantung terhadap impor bahan baku. Namun akibat gagalnya akusisi tersebut, lanjut Elfiano mengatakan, pada tahun depan perseroan berencana membangun pabrik bahan baku obat bersama perusahaan BUMN farmasi lainnya yakni PT Kimia Farma Tbk (KAEF) dan PT Biofarma (Persero). Kendati demikian, dirinya belum bisa menceritakan niatan ini secara detail karena baru akan mulai proses pembicaraan dengan beberapa pihak terkait. (lia)

Related posts