Jangan Seperti Bandung Bondowoso - PENYERAPAN ANGGARAN NEGARA

PENYERAPAN ANGGARAN NEGARA

Jangan Seperti Bandung Bondowoso

DPR dan DPRD sudah menyetujuan anggaran pendapatan dan belanja Negara (APBN) maupun daerah (APBD). Masing-masing lembaga pemerintah baik kementerian maupun non kementerian serta daerah mempunyai anggaran yang berbeda-beda.

Yang menjadi persoalan nasional adalah seberapa besar tingkat penyerapan masing-masing instansi pemerintah tersebut terhadap anggaran yang sudah disetujui DPR dan DPRD? Jawabnya, orang sekelas Jokowi, Gubernur DKI Jakarta pun tak mampu sendirian mengatasinya agar dana yang ada dapat dieksekusi sebesar-besarnya. Jokowi semula menargetkan serapan hingga 97%.

“Gubernur Jokowi bilang maunya 97%, tapi kalau melihat seperti sekarang ya tidak mungkin, memangnya Bandung Bondowoso. Saya bisa pastikan SiLPA (Sisa Lebih Perhitungan Anggaran) pasti besar," tutur anggota Komisi C DPRD DKI Jakarta Ahmad Husin Alaydrus.

Siapakah Bandung Bondowoso? Dia tak lain adalah raja zalim dari Kerajaan Pengging yang hendak mencaplok Kerajaan Prambanan, yaitu satu daerah di perbatasan antara Yogyakarta dan Jawa tengah. Bahkan hendak menyunting putri raja Prambanan yang bernama Loro Jonggrang yang cantik jelita. Tak ingin dijadikan permaisuri Bondowoso, Loro pun meminta syarat yang menurut dia sulit dituruti, yaitu minta dibuatkan 1.000 candi (Candi Sewu) hanya dalam satu malam.

Tentu saja Raja Bandung bersedia walaupun terlihat marah karena permintaan itu sebetulnya sangat berat. Dikerahkanlah seluruh pasukan jinnya untuk membuat candi-candi itu. Loro tahu, proyek itu bakal gagal jika matahari terbit. Namun rupanya Bandung Bondowoso sangat serius melaksanakan syarat kerja semalam (SKS) seperti yang diminta pujaan hatinya.

Loro cemas, mendekati subuh, candi-candi itu hampir selesai dibuat pasukan jin. Bagaimana akal agar jin gagal bekerja karena diburu pagi.

Loro pun mengerahkan para pembantu kerajaan unuk mengusir pasukan jin itu. Caranya? Mereka disuruh menumbuh padi di lesung dan membakar jerami terlihat nyala api yang terang. Itu tanda hari mendekati pagi, dan jin pun gelisah takut ditelan sinar matahari.

Pagi harinya Bandung pun mengajak Loro untuk memeriksa satu per satu candi yang dipintanya. Walhasil, ternyata julahnya kurang satu, hanya sebanyak 999. Murkalah si Bandung. “Kalau begitu kamu saja yang melengkapi candi itu agar genap seribu,” kata dia kepada Loro. Maka jadilah candi Loro Jonggrang yang tak jauh darti candi Sewu.

Kemendagri dan Sanggahan

Hingga akhir Oktober, dana yang terserap di DKI Jakarta baru 42,42%. Gubernur Jokowi pun mengumpulkan segenap anak buahnya. Jokowi mengatakan, Satuan Kerja Pemerintah Daerah (SKPD) di DKI yang lambat menyerap anggaran antara lain Dinas Pekerjaan Umum (PU), Dinas Pertamanan dan Pemakaman, Dinas Perhubungan, Dinas Perumahan Permukiman dan Gedung Pemda, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana, Dinas Kelautan dan Pertanian, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, serta Dinas Olahraga dan Pemuda. Dia pun segera memerintahkan diadakan lelang.

Kepala Badan Pengelola Keuangan Daerah (BPKD) DKI Jakarta Endang Widjajanti mempertanyakan Kemendagri karena cukup lama mengoreksi APBD Perubahan 2013. Menurutnya, proses lelang proyek juga banak erjadi sanggahan hingga memperlambah realisasi proyek.

Hingga akhirnya, pada 23 Desember posisi serapan sudah mencapai 71%. Jokowi yakin jumlahnya akan membengkak lagi mendekati 97%. "Itu 71%, tapi nanti akhir tahun akan kelihatan, yah yang jelas nanti gede," ujarnya kepada wartawan di Balaikota.

Mantan walikota Solo ini mengakui kontrol atau pengawasan proyek di DKI Jakarta belum maksimal. Karenanya, ke depan, yaitu 2014, seluruh proyek harus sudah selesai pada November. "Tergantung APBD-nya kalau Desember rampung. Kalau misalnya disetujui ya langsung digenjot awal tahun. Dengan pergubnya juga, proyek harus selesai November atau Oktober. Jangan sampai di Desember," jawab Jokowi. (saksono)

Related posts