Pengusaha Tetap Jaga Lingkungan dan Berjiwa Sosial - Tingkatkan Daya Saing

NERACA

Jakarta – Persaingan bisnis semakin sengit. Untuk itu Global Reporting Initiative (GRI) bekerjasama dengan National Center for Sustainability Reporting (NCSR) meluncurkan G4 atau Pedoman Pelaporan CSR untuk kawasan Asia Tenggara, tujuannya untuk menjadikan pedoman dan potok banding bagi para pengusaha dalam menjalankan bisnisnya yang berwawasan lingkungan dan kepedulian sosial.

Perusahaan merupakan salah satu kunci sukses keberhasilan suatu negara dalam pembangunan yang berkelanjutan. Namun demikian, kesadaran pelaku bisnis untuk menjalankan usaha yang ramah lingkungan tentu saja menjadi corong utama guna keberlangsungan kehidupan generasi yang akan datang. “Suatu perusahaan boleh saja menjalankan bisnis dan usahanya secara berkelanjutan, hanya saja pengusaha juga harus memikirkan untuk keberlangusangan masa depan,” kata Emir Salim, saat peluncuran G4, di Jakarta, Selasa malam (17/12).

Oleh karenanya dalam menjalankan usahanya, para pengusaha di harapkan menjaga kelestarian lingkungan dan berjiwa sosialis yang tinggi dalam menjalankan bisnisnya. “Tingkat persaingan dalam dunia usaha saat ini tinggi, namun demikian kelestarian lingkungan dan kepedulian sosial tetap jangan dipinggirkan,” sambungnya.

Sedangkan menurut Ali Darwin, Ketua NCSR, mengatakan, laporan CSR atau Laporan Keberlanjutan memuat kinerja perusahaan mengacu pada tiga dimensi yaitu ekonomi, lingkungan, dan sosial. Dan sampai dengan akhir tahun ini, sudah ada 50 perusahaan di Indonesia yang membuat Laporan CSR dengan menggunakan Pedoman GRI. “Jumlah ini akan terus bertambah seiring dengan tekanan dari investor agar perusahaan-perusahaan menjalankan bisnisnya berdasarkan prinsip 3 P. Yakni People, Planet, dan Profiit,” tegasnya.

Laporan ini menjadi alat bagi para pemangku kepentingan untuk menilai sejauh mana perusahaan mengatasi isu keberlanjutan seperti penghematan dan konservasi energi, pengelolan air, pengelolaan limbah, mengatasi pencemaran udara serta isu social seperti partisipasi perusahaan dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat setempat.

”Kini semakin banyak investor yang meminta perusahaan mengungkapkan aspek lingkungan dan sosial dalam laporan tahunan. Sehingga investor mendapat kepastian tentang masa depan investasinya di tinjau dari aspek lingkungan dan aspek social,” katanya.

Dalam kesempatan yang sama Direktur Interim GRI Asthildur, menjelaskan, adanya pedoman CSR Pedoman pelaporan CSR tersebut telah dibuat dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan dan proses pembuatannya memakan waktu dua tahun. Dan dengan adanya system pelaporan internasional ini, perusahaan dapat menggunakannya sebagai patok banding dalam menjalankan bisnis yang berwawasan lingkungan dan kepedulian sosial tinggi.

Dan pedoman pelaporan CSR G4 ini bukan merupakan hal yang baru. GRI telah membuat pedoman ini pertama kalinya pada 2000 lalu. Tapi dengan perkembangan dunia usaha dan komplesitas isu keberlanjutan dari masa ke masa, maka Pedoman Pelaporan juga perlu disesuaikan. Semenjak tahun 2002, pedoman itu telah direvisi beberapa kali, hingga akhirnya keluarlah pedoman terbaru yang merupakan generasi ke 4 atau disingkat G4. “G4 ini penyempurnaan dari yang sebelum-sebelumnya, pedoman yang dibuat sesuai dengan kebutuhan dunia usaha sekarang,” jelasnya.

Menurut Junardy, Ketua Global Compact Indonesia, pedoman ini bukan hanya untuk perusahan besar saja disektor UKM juga peerlu menggunakan pedoman ini. ”Daya saing UKM di Indonesia akan meningkat di pasar internasional bila menggunakan Pedoman Pelaporan G4,” ujarnya.

Pedoman yang disebut GRI G4 tersebut, pertama kalinya diluncurkan pada 22 Mei 2013 yang lalu di Amsterdam, Belanda dalam Konferensi Global Pelaporan Keberlanjutan, yang dihadiri 1600 peserta dari 70 negara termasuk 20 orang delegasi dari Indonesia. Acara peluncuran di Jakarta yang dihadiri 120 peserta termasuk yang datang dari kawasan Asia Tenggara.

Related posts