Buana Finance Kantongi Pinjaman US$ 10 Juta - Kesepakatan Kredit Dengan JA Mitsui Leasing Ltd

NERACA

Jakarta- PT Buana Finance Tbk (BBLD) mengantongi dana pinjaman senilai US$ 10 juta dari JA Mitsui Leasing Ltd. Pinjaman tersebut seiring disepakatinya perjanjian kredit yang dilakukan antara kedua pihak. Informasi tersebut disampaikan Direktur Utama PT Buana Finance Tbk, Soetadi Limin dalam keterangan resminya di Jakarta, Selasa (17/12).

Disebutkan, penandatanganan perjanjian kredit telah dilakukan oleh pihak manajemen perseroan dengan JA Mitsui Leasing Ltd pada 16 Desember 2013. Pemberian pinjaman kepada perseroan sebesar US$ 10 juta ini memiliki jangka waktu 36 bulan yang dijamin dengan piutang milik perseroan.

Tercatat, sepanjang sembilan bulan tahun 2013, perusahaan pembiayaan ini mencatatkan laba bersih tahun berjalan Rp 105,02 miliar, atau mengalami penurunan sebesar 4% dibanding periode sama tahun lalu senilai Rp 109,48 miliar. Penurunan tersebut didorong karena beban yang dicatatkan perseroan lebih besar, mencapai Rp328,23 miliar, naik 13,47% dibandingkan akhir September 2012.

Pada periode ini pertumbuhan pendapatan yang dicatatkan perseroan 7,40% year-on-year menjadi Rp 468,38 miliar di akhir September 2013. Meski demikian, pembiayaan perseroan mengalami pertumbuhan sebesar 80% menjadi Rp 2,2 triliun dibanding periode sama tahun lalu. Targetnya, hingga akhir tahun ini manajemen perseroan mematok pembiayaan senilai Rp 3 triliun. “Target konservatif Rp 2,7 triliun,” kata Direktur Buana Finance, Herman Lesmana.

Diketahui, pertumbuhan pendapatan sewa pembiayaan berhasil menopang pendapatan perseroan pada tahun lalu naik 44,2% menjadi Rp 590 miliar hingga akhir 2012 dari akhir 2011 Rp 409,57 miliar. Kenaikan total pendapatan tersebut ditopang oleh pertumbuhan pendapatan sewa pembiayaan sebesar 54,94% menjadi Rp 428,69 miliar dari Rp 276,69 miliar. Alhasil, laba bersih sepanjang tahun lalu sebesar 62,28% menjadi Rp 154,17 miliar dari akhir 2011 Rp 95 miliar.

Manajemen perseroan sebelumnya mengaku untuk mengantisipasi minimnya penyaluran kredit adalah dengan mencari pembiayaan dengan margin yang tinggi. Salah satunya, melalui penyaluran pembiayaan alat berat dengan margin yang tinggi, dan pembiayaan pada tahun-tahun sebelumnya. Namun pada 2012, harga komoditas masih belum membaik sehingga mempengaruhi penjualan alat berat perusahaan.

Penyaluran pembiayaan alat berat juga turun akibat pengenaan bea keluar produk mineral mulai 6 Mei 2012 terkait implementasi Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara. Undang-undang tersebut melarang ekspor barang mineral non-olahan mulai 2014. Oleh karena itu, pada tahun lalu perseroan hanya mencatatkan penyaluran pembiayaan sebesar 95% atau Rp 2,47 triliun-Rp 2,56 triliun dari target revisi sepanjang tahun lalu Rp 2,6 triliun-Rp 2,7 triliun.

Pihak manajemen menilai, tidak tercapainya target pembiayaan pada tahun lalu karena belum membaiknya kondisi perekonomian global. Ke depan, perseroan berharap kondisi perekonomian Indonesia yang masih membaik akan menjadi pendorong penjualan alat berat. Penjualan alat berat perusahaan diestimasi akan lebih banyak berasal dari sektor infrastruktur dan konstruksi khususnya di Indonesia bagian Timur. (lia)

Related posts