Pendapatan Bea Cukai Capai Rp147,04 Triliun

NERACA

Jakarta – Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) mengklaim hingga Desember 2013 realisasi pendapatan sudah mencapai Rp147,04 triliun. Angka itu menunjukan pencapain sebesar 96,01% dari target akhir tahun 2013 sebesar Rp153,15 triliun. Namun pencapaian itu masih dibantu oleh arus bea masuk atau impor.

“Hingga pertengahan bulan Desember 2013 pendapatan DJBC sudah mencapai Rp 147,04 triliun. Pendapatan itu hanya 96,01% dari target yang ditetapkan pemerintah di tahun 2013 sebesar Rp 153,15 triliun. Secara rinci penerimaan bea masuk sudah mencapai Rp29 triliun. Sedangkan penerimaan bea keluar Rp14,4 triliun. Dan pendapatan melalui cukai sebesar Rp102 triliun,” kata kata Direktur Jenderal (Dirjen) DJBC Agung Kuswandono di kantornya, Selasa (17/12).

Kemudian Agung mengakui pencapaian pendapatan DJBC tahun 2013 ini sangat tertolong oleh tingginya bea masuk atau impor. Tanpa kecenderungan impor pada target penerimaan dalam APBN 2013 diakui pencapaian DJBC akan sangat sulit. "Bea masuk tahun ini sedikit dapat naik terutama untuk impor permesinan dan barang modal," ujarnya.

Sedangkan pendapatan DJBC melalui ekspor mengalami penurunan. Pasalnya harga komoditas unggulan dalam negeri yaitu Crude Palm Oil (CPO) mengalami pelemahan. Pelemahan CPO sendiri terjadi dalam waktu yang relative panjang antara Januari hingga Oktober 2013.

"Pendapatan bea keluar di bawah target karena salah satunya disebabkan harga CPO yang dari bulan Januari hingga Oktober turun jauh. Bea keluar ini kita kenakan tarif progresif dengan harga yang pas. Sedangkan CPO bari mulai naik lagi harganya pada bulan November ini. Jadi pendapatan bea keluar agak drop mengingat hampir sepanjang tahun harga CPO anjlok,” tutur Agung.

Lanjut, dengan dua minggu tersisa Agung optimis bisa mengejar kekurangan pencapain pendapatan DJBC sebesar Rp6,11 triliun lewat penerimaan bea masuk barang impor. Pasalnya DJBC memang hanya bisa mengandalkan bea masuk untuk menutupi kekurangan target. Karena bea keluar turunnya cukup jauh. “Tapi dari hitung-hitungan kita totalnya bisa tercapai," tutur Agung.

Pegawai baru

Lanjut, Agung menklaim lembaga DJBC kekurangan sumber daya manusia (SDM) sebanyak 5.000 pegawai. Kebutuhan SDM baru ini dianggap mendesak. Pasalnya jumlah pegawai Ditjen Bea Cukai yang masuk usia pensiun terus bertambah.

"Sementara ini kita memiliki 10 ribu pegawai yang tersebar di seluruh Indonesia. Tapi dalam beberapa tahun terakhir jumlah PNS di lingkup DJBC terus menyusut karena banyak pegawai yang masuk masa pensiun. Sehingga untuk saat ini kita kekurangan 5.000 pegawai,” terang Agung.

Kemudian Agung mengaku di tahun 2013 ini pihkanya telah mengajukan penambahan pegawai sebanyak 2.500 orang. Namun hingga saat ini usulan tersebut belum digubris oleh pemerintah. Meski begitu ia mengerti proses birkorasi di Indonesia memang tidak mudah dan membutuhkan waktu.

. “Tapi pemerintah sendiri sudah menyetujui penambahan alokasi pegawai baru setidaknya 1.000 pegawai yang sudah kita rekrut beberapa waktu lalu. Seluruh pegawai tersebut kini tengah dalam proses di Kementrian Keuangan. Selain itu kemarin kita sudah ada tambahan 950 pegawai dari kampus STAN yang sudah kita sebar ke seluruh Indonesia," tukas Agung. [lulus]

Related posts