Bank Dunia Tak Yakin Kemiskinan Menurun

NERACA

Jakarta – Bank Dunia mengklaim Pemerintah Indonesia akan gagal menurunkan target kemiskinan pada tahun ini, sehingga kebijakan bantuan sosial untuk mengentasan kemiskinan masih terus dibutuhkan. Hal ini makin diperparah pada 2014 harga-harga komoditas semakin meningkat.

“Menuju tahun 2014 harga-harga komoditas akan lebih tinggi, serta lambannya pertumbuhan ekonomi akan menambah tantangan pengentasan kemiskinan di Indonesia. Untuk itu kami memproyeksikan target pengentasan kemiskinan di Indonesia tahun 2014 akan mencapai 8%-10%. Tapi tampaknya hal itu tidak akan tercapai,” kata Kepala Ekonom Bank Dunia untuk Indonesia, Ndiame Diop di Jakarta, Senin (16/12).

Penilaian itu dilontarkan Ndiame mengingat program-program pengentasan kemiskinan Pemerintah belumlah berkualitas. Misalnya saja, Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM) yang diberikan setiap empat bulan sekali. “Namun pada faktanya pencapaian pengentasan kemiskinan hingga Maret 2013 baru hanya mencapai 11,4%. Padahal target kemiskinan 2013 mencapai 10% sampai 11%,” tambah dia.

Lebih jauh Ndiame mengungkapkan, pertumbuhan ekonomi tahun depan juga akan melambat. Bank Dunia melaporkan proyeksi pertumbuhan akan mencapai 5,1% hingga Maret 2014 dibanding Maret 2013. Sedangkan inflasi akan tumbuh sampai 7,2% pada Maret 2014 dibanding Maret 2013.

“Pencapaian pengurangan tingkat kemiskinan hingga 1% per tahun hingga Maret 2014 tidak akan tercapai. Kemungkinan hingga Maret 2014 kemiskinan akan tetap di level 11% sampai 11,1%. Artinya target pengentasan kemiskinan di tahun 2014 juga akan mengalami perlambatan” tambah Ndiame.

Meski begitu, Ndiame menilai Pemerintah Indonesia tetap membutuhkan program pengentasan kemiskinan dengan model bantuan sosial (bansos) yang berkelanjutan di tahun 2014. Namun harus dilakukan melalui konsep yang efektif. Jika tidak maka akan sama dengan program-program sebelumnya yang secara nyata tidak berhasil.

“Misalnya Program Keluarga Harapan atau PKH yang telah diperluas dari 1,1 juta rumah tangga penerima pada tahun 2012 menjadi 2,4 juta pada tahun 2013. Dengan rencana perluasan lebih lanjut pada tahun 2014 menjadi 3,2 juta rumah tangga merupakan hal yang positif untuk mendorong percepatan pengentasan kemiskinan. Pada waktu yang sama anggarannya juga perlu ditambah dari sebelumnya sebesar Rp1,4 triliun menjadi Rp1,8 triliun,” terang Ndiame.

Lanjut, Ndiame menjelaskan untuk selain menggalakkan program PKH di tahun 2014 pemerinta juga perlu strategi tambahan untuk mempercepat pengentasan kemiskinan. “Pemerintah juga perlu memperhatikan kualitas kesehatan masyarakat. Juga menggalakan pendidikan bagin rakyat miskin dalam hal ketrampilan pelayanan.”

Juga perlu diketahui, Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga akhir tahun lebih kecil dari pertumbuhan tahun 2013 sebesar 5,6% menjadi 5,3% di tahun 2014. Harga indeks konsumen juga akan melemah di level 6,1% pada tahun 2014 sedangkan tahun 2013 sebesar 7%. Sedangkan defisit neraca berjalan akan ada perbaikan menjadi di level 2,6% tahun 2014 dari sebelumnya 2,5% pada tahun 2013.

“Defisit APBN juga turun dari 2,5% terhadap PDB pada tahun 2013 menjadi 2,1% pada tahun 2014. Sedangkan PDB mitra dagang akan tumbuh menjadi 3,9% pada tahun 2014. Sedangkan sebelumnya baru ada di level 3,4% pada tahun 2013,” tukas Ndiame. [lulus]

Related posts