Penerbitan Obligasi Capai Rp 70 Triliun

PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) memproyeksikan pada tahun 2014 nilai emisi dari penerbitan surat utang (obligasi) perusahaan, mencapai Rp70 triliun, “Tahun ini sebesar Rp55 triliun sampai Rp56 triliun dan tahun depan diperkirakan sebesar Rp60 triliun sampai Rp70 triliun,”kata Direktur Pemeringkatan Pefindo, Vonny Widjaja di Jakarta, Senin (16/12).

Menurut Vonny, pada tahun depan banyak tantangan bagi perseroan, mulai kenaikan BI Rate pada tahun ini yang akan berdampak ke perusahaan di tahun depan, serta adanya Pemilihan Umum (Pemilu).

Diperkirakan emiten banyak yang wait and see, mereka tunggu waktu yang tepat. Kemungkinan, penerbitan obligasi akan banyak setelah Pemilu. Tercatat pada kuartal pertama tahun depan, kata Vonny, Pefindo menargetkan akan ada beberapa perusahaan yang akan menerbitkan obligasi. "Totalnya mungkin sekitar Rp15 triliun. Ada juga perusahaan yang masih melihat pasar dan masih menunggu hasil pemilu," ujar dia.

Sebagai informasi, penerbitan obligasi pada 2014 mendatang diperkirakan akan meningkat. Ada beberapa faktor yang mendorong meningkatnya penerbitan obligasi tahun depan, yang pertama ialah jumlah obligasi korporasi yang mengalami jatuh tempo cukup tinggi sekitar Rp35-39 triliun.

Analis PT Millenium Danatama Indonesia Asset Management Desmon Silitonga pernah bilang, jumlah itu belum memperhitungan Medium Term Notes (MTN) yang jumlahnya sekitar Rp4-6 triliun, “Dari pengalaman, biasanya untuk membayar obligasi jatuh tempo ini korporasi biasanya akan menerbitkan obligasi baru sebagai sumber pendanaan untuk membayar obligasi jatuh tempo ini (refinancing),” kata Desmon.

Menurutnya, sektor pembiayaan (multifinance), perbankan, dan telekomunikasi merupakan tiga sektor yang mendominasi obligasi jatuh tempo tersebut. Faktor kedua adalah stabilnya inflasi dan suku bunga. Dikatakan Desmon, inflasi menurut proyeksi pemerintah 2014 sebesar 5,5%.

Lanjutnya, rendahnya inflasi ini dibandingkan tahun ini tidak terlepas dari tidak adanya rencana untuk menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Dia mengungkap, apabila inflasi rendah, tentu akan mendorong stabilnya suku bunga, “Stabilitas suku bunga akan mendorong turunnya yield obligasi di pasar modal dan ini akan menarik minat korporasi untuk menerbitkan obligasi,” ucap dia. (bani)

BERITA TERKAIT

Nusa Raya Incar Kontrak Baru Rp 3,5 Triliun

NERACA Jakarta – Tahun ini, PT Nusa Raya Cipta Tbk (NRCA) perusahaan jasa konstruksi swasta di Indonesia menargetkan kontrak baru…

Waskita Targetkan Kontrak Baru Rp 55 Triliun

NERACA Jakarta – Tahun ini, PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT) menargetkan total kontrak baru sekitar Rp55 triliun,”Total kontrak baru…

Utang Luar Negeri Naik 7% Jadi Rp5.220 Triliun

  NERACA Jakarta - Utang luar negeri Indonesia naik tujuh persen secara tahunan menjadi 372,9 miliar dolar AS per akhir…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Laba Dua Putra Utama Terkoreksi 57,96%

Emiten perikanan, PT Dua Putra Utama Makmur Tbk (DPUM) laba bersih di kuartal tiga 2018 kemarin sebesar Rp35,9 miliar atau turun…

BEI Suspensi Saham BDMN dan BBNP

PT  Bursa Efek Indonesia (BEI) menghentikan sementara waktu perdagangan dua saham perbankan yang direncanakan akan melakukan merger usaha pada perdagangan…

Chandra Asri Investasi di Panel Surya

Kembangkan energi terbarukan yang ramah lingkungan dalam operasional perusahaan, PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) menggandeng Total Solar untuk menghasilkan…