BI Rate Bertahan, IHSG Malah Meradang

NERACA

Jakarta – Kebijakan Bank Indonesia yang tetap mempertahankan BI rate di level 7,5% belum cukup membawa IHSG ke zona hijau, akibat bursa saham Asia kurang mendukung.

Kepala riset Trust Securities Reza Priyambada menyatakan pelaku pasar awalnya merespon positif karena BI rate sesuai dengan ekspektasi namun, di sisi lain ternyata laju bursa saham Asia kurang mendukung dimana berada di zona merah seiring imbas sentimen pembahasan anggaran AS dan tappering off stimulus The Fed,”Belum lagi laju Rupiah yang masih mengalami pelemahan dengan sentimen dari AS tersebut sehingga rilis BI rate seolah-olah hanya di anggap angin lalu. Pembukaan pasar saham Eropa yang negatif turut melemahkan laju IHSG”, ujarnya di Jakarta, Kamis (12/12).

Tercatat sepanjang perdagangan, IHSG menyentuh level 4248,34 di level tertingginya di pertengahan sesi kedua dan menyentuh level 4212,22 pada level terendahnya jelang preclosing dan berakhir di level 4212,22. Volume perdagangan turun dan nilai total transaksi naik dengan investor asing mencatatkan nett sell dengan penurunan nilai transaksi beli dan kenaikan transaksi jual. Investor domestik mencatatkan nett buy. Sementara, laju rupiah masih melanjutkan pelemahannya meskipun Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) telah memutuskan untuk mempertahankan level BI rate di 7,5%.

Dia menilai, pelaku pasar lebih memilih masuk pada mata uang yang lebih jelas sentimen dan trennya,”Dolar masih menjadi pilihan dengan tren kenaikan yang masih berlanjut seiring kian dekatnya pembahasan anggaran dan tappering off”, katanya.

Sentimen yang sama masih menerpa laju bursa saham Asia dimana pelaku pasar kian merespon negatif isu tappering off stimulus The Fed akan dilakukan bulan ini. Tak terelakkan lagi, aksi jual pun masih mewarnai laju bursa saham Asia. Rilis stabilnya unemployment rate Australia dan tetapnya suku bunga Korea Selatan seperti halnya suku bunga acuan Indonesia yang tidak berubah tidak mampu mengimbangi aksi jual yang terjadi.“Pelaku pasar masih khawatir dan memilih kembali wait & see terhadap langkah para senat AS untuk membatasi pengurangan pengeluaran AS dan kemungkinan terjadinya shutdown ekonomi seperti sebelumnya, termasuk sentimen jadi atau tidaknya tappering off dilakukan bulan ini”jelasnya.

Tidak hanya masalah tappering off stimulus The Fed saja yang dihadapi pelaku pasar, permasalahan kesepakatan anggaran ekonomi AS kembali mencuat seiring dengan kembali khawatirnya pelaku pasar akan terjadinya ekonomi shutdown seperti sebelumnya sehingga membuat bursa saham AS kembali melemah.

Padahal beberapa hari sebelumnya, kongres telah menyetujui kesepakatan anggaran yang akan memudahkan pemotongan belanja otomatis senilai US$60 miliar selama dua tahun dan akan mengurangi defisit sebesar US$20 miliar hingga US$23 milyar.

Pada perdagangan Jumat (13/12) diperkirakan IHSG akan berada pada support 4186-4196 dan resistance 4227-4238. Berpola menyerupai evening doji star dekati lower bollinger bands (LBB). MACD menurun dengan histogram negatif yang memanjang. RSI, William's %R, dan Stochastic mulai downreversal meski terbatas. Laju IHSG kembali berada di bawah kisaran target support (4238-4245) seiring maraknya sentimen negatif sehingga memberikan gambaran masih akan terjadinya aksi jual. IHSG pun akan sulit bangkit dengan maraknya aksi jual tersebut.

Pertimbangan saham-saham adalah PTPP Spt1110-1140 Rst1160-1180|Inverted hammer. RSI upreversal|Trd buy slm up1130 , AKRA 4600-4750 Rst4850-4900|Tweezers up lewati middle bollinger band(MBB)|Trd buy slm up4800, UNVR 26250-26400 Rst26650-26750|Inverted hammer di bawah MBB|BoW if below 26350 , MLPL Spt350-360 Rst375-385|White marubozu di area LBB|Trd buy slm up360.

Saham-saham lainnyaSMCB 2350-2450|Trd buy slm up2375 , CTRA 700-780|Trd buy slm up730 , TAXI 1500-1580|Trd buy slm up1550 , ENRG 65-72|Trd buy slm up68 , BWPT 1250-1380|Trd buy slm up1320. (nurul)

Related posts