Dari Apresiasi Presiden Hingga Ditiru Negara Lain - Pendidikan Vokasi Ala Sekolah Perikanan

NEARACA

Jakarta – Kunci utama dalam kemajuan di semua sektor bertumpu pada kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Oleh karenanya butuh metode yang jitu untuk dapat mengembangkan SDM tersebut. Salah satu metode yang sudah dimplementasikan di Pendidikan Kelautan dan Perikanan adalah program pendidikan vokasi, yang kini sudah mampu menciptakan tekhnologi spektakuler yaitu Budidaya Udang Skala Mini Empang Plastik (Busmetik) dan budidaya lele teknologi bioflok mini, yang mendapatkan apresiasi dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), dan kini mulai ditiru oleh banyak negara.

“Program pendidikan vokasi, merupakan revolusi metode pendidikan di Sekolah Perikanan. Dan implementasi dari revolusi program pendidikan ini sudah mampu menghasilkan bukti nyata yang sudah diaparesiasi oleh banyak orang bahkan dicontoh oleh negara lain,” kata Suseno Sukoyono, Kepala Badan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Periakan (BPSDMKP), Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), saat berbincang dengan Neraca di kantornya di Jakarta, Rabu (12/12).

Jadi pendidikan vokasi ini pendekatannya pada teaching factory, dengan pola pendidikan praktik sebanyak 60% dan teori 40%. Dengan demikian para sisiwa bukan hanya mendapatkan teori saja, melainkan praktek lapangan yang lebih banyak sehingga mereka lebih mudah mengeksploitasikan inovasinya untuk dituangkan dalam hasil konkret dalam bentuk temuan-temuan dari para siswa-siswi sekolah perikanan. “Pola lain juga boarding school atau menginap di asrama sehingga mereka mampu mengamati lebih jauh perkembangan dari temuan-temuannya itu,” imbuhnya.

Intinya dari pola pendidikan vokasi ini memang untuk menciptakan SDM unggul, mandiri dan berdaya saing. Sedangkan untuk membangun manusia unggulan ada tiga hal yang ditempuh yaitu jangka pendek menengah dan jangka panjang. Jangka pendek melakukan pelatihan-pelatihan, penyuluhan, sedangkan jangka menengah dan panjang bisa melalui pendidikan. “Adapun untuk pelatihan dan pendidikan yang kami terapkan saat ini menuju pada tantangan industrialisasi,” terangnya.

Selain itu juga kami arahkan bagaimana teman-teman dari Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP) atau Kementrian lain, Bahkan masyarakat itu melihat suatu alternatif baru yang tadinya tidak mempunyai nilai ekonomis menjadi nilai ekonomis, yang tadinya tidak mempunyai daya saing menjadi punya daya saing. “Seperti temuan dari anak-anak yaitu Busmetik dan budidaya lele bioflok, yang mampu menggali temuan dari tekhnologi yang sederhana menjadi luar biasa,”jelasnya.

Sebagai gambaran, jika menggunaka tambak konvensional memerlukan lahan yang luas 1 hektar , bahkan ada yang 3000 meter. Dan apabila menggunakan lahan sempit costnya mahal mengingat harus menggunakan air rator, dan listrik yang besar, semen, dan lainnya. Untuk menyikapai lahan yang terbatas, maka lahirlah temuan Busmetik itu hanya cukup dengan lahan 20x30 m tapi dengan dengan hasil yang sama bahkan lebih besar bisa mencapai 2,2 Ton selama 100 hari, sedangkan dengan tambak konvensional hanya menghasilkan 1,8 Ton. “Dari sini dapat disimpulkan bahwa inilah hasil dari revolusi pendidikan, bahwa pemikiran manusia dapat diaktualisasikan menjadi sebuah bukti nyata yang mampu yang bisa ditiru dan dilakukan oleh orang banyak” ujarnya.

Ini adalah bukti revolusi dari anak didik perikanan, adanya revolusi ini harapannya mampu ditiru oleh sekolah-sekolah lain karena sampai dengan saat ini ada sekitar 167 sekolah kejuruan jika mampu mengimplementasikan program pendidikan vokasi ini pasti kedepan banyak temuan-temuan yang lebih luar biasa. “Dengan pendidikan vokasi ini mampu menciptakan telor atau generasi muda emas yang unggul, mandiri, dan berdaya saing untuk menjawab tantangan industrialisasi modern dimasa mendatang,” tegasnya.

Lahirnya Wirausaha Muda

Perkembangannya dunia sangat cepat oleh karenanya kita harus mampu menyesuaikannya, untuk menyesuaikannya itu tentu dengan menyiapkan tenaga terampil sesuai dengan kebutuhan dinamika pasar. Kami dari BPSDM KP bergerak ke arah sana, oleh karenanya kami memberikan pelatihan disekolah dan penyuluhan kepada masyarakat arahnya kesana.

Selain itu juga kita melihat fenomena, sekarang ini penduduk dunia berada pada kisaran 8 milliar manusia, yang terjadi seperti Indonesia lahannya pertanian, perkebunan, pertanian tergerus menyempit karena banyaknya manusia, disamping itu lapangan kerja terbatas, maka dari itu harus ada alternatif, dan solusi disamping sekolah menjadi tempat belajar tapi menjadi gudang inovasi.

“Dengan pendidikan vokasi, bukan hanya mampu menciptakan temuan yang spektakuler. Dari pendidikan ini juga mampu melahirkan wirausaha muda yang lebih kompeten kedepan. Karena sudah diajarkan sejak dibangku sekolah, setelah lulus hanya mengembangkan saja,” ungkapnya.

Selain di pendidikan formal, BPSDM KP juga melakukan penyuluhan kepada masyarakat dalam rangka mensosialisasikan hasil temuan dan menampung temuan dari masyarakat yang kemudian coba untuk terus dikembangkan. Adapun kendalanya adalah dimana Indonesia mempunyai daerah yang luas sedangkan tahun 2014 nanti diperkirakan kami mempunyai 15.000 penyuluh itu pun dirasa masih sangat kurang untuk dapat menjangkau seluruh wilayah Indonesia.

“Makanya alrentaif yang kami gunakan dengan “Cyber Extention”, dan untuk mempermudah dengan bekerjasama dengan Kementrian Komunikasi dan Informasi (Keminfo) untuk program Pusat Layanan Informasi Kecamatan (Plik), agar informasi atau sosialiasi tentang perikanan dapat masuk ke desa-desa,” ujarnya.

Kedepan dengan adanya sosialisasi maupun pendidikan mampu menemukan temuan-temuan yang bermanfaat, baik yang baru ataupun sedang dilaksanakan, atau yang sudah ada hanya saja belum bisa diekspose lebih jauh dan butuh penyempurnaan. Untuk kita tonjolkan sehingga bermanfaat bagi orang banyak. “Intinya kami ingin membangkitkan semangat anak didik dan masyrakat untuk terus berinovasi untuk menghasilkan sebuah karya yang bermanfaat dan berdaya guna,” pungkasnya.

Related posts