Masihkah Jadi Pembunuhan di Jalan Raya? - KONDISI TRANSPORTASI UMUM DI JAKARTA

KONDISI TRANSPORTASI UMUM DI JAKARTA

Masihkah Jadi Pembunuhan di Jalan Raya?

Masyarakat sangat galau terhadap kondisi transportasi terutama di Jakarta. Bikin semrawut, harus senam jantung setiap hendak naik, saat di atas kendaraan angkutan, maupun saat hendak turun.

Tingkat kewaspadaan kia masing-masing harus super tinggi agar kita para penumpang tidak celaka. Apalagi, saat ini masing-maisng individu tidak peduli dengan kondisi di sekitarnya, yang penting diri sendiri selamat. Para penumpang dikelilingi seabrek kejahatan jalanan, misalnya bahaya pencopetan dan penggarongan berkedok pengamen, pengemis dan peminta-minta sumbangan, pedagang asongan, pelecehan seksual, dan sebagainya.

Pengemudinya ugal-ugalan hingga membahayakan pemakai jalan yang lain. Mereka kebut-kebutan berebut penumpang. Kalau tidak, ngetem lama hingga penumpang banyak menggerutu, kapan jalannya. Tak jarang, terjadi korban tabrak oleh angkutan kota di Jakarta, seperti Kopaja, Metromini, PPD, juga Mayasari Bakti.

Hal itu terjadi karena tak ada jaminan kesejahteraan bagi para awak angkutan umum. Karenanya mereka harus mengejar setoran setiap hari jika asap dapurnya tetap mengepul. ASpek keselamatan penumang dan orang lain bukan urusan dia. Yang dia urus adalah bagaimana dia bisa membawa rupiah buat anak istrina di rumah.

Bahkan, satu ketika terjadi di sebuah rumah sakit, seorang ibu dengan marahnya berani membentak seorang berseragam marinir. Dia tahu itu arinir karena mengenakan baret ungu. Sang tentara itu adalah pemilik Metromini yang beberapa hari lalu menabrak anak kedua ibu tersebut. Sang anak masih tergeletak di tempat tidur dengan kepala gegar otak di bagian kanannya.

Betapa marahnya sang ibu itu ketika si tentara itu memohon agar Metromini miliknya dikeluarkan dari kantor polisi biar bisa buat narik penumpang, dan agar keluarga sang sopir bisa mengepul asap dapurnya. “Jangan bawa-bawa tentara ke sini, anak saya temannya jenderal, mau apa. Saudara urusi dulu sopir itu, kalau di jalanan kayak setan seenaknya sendiri, tapi kalau kena musibah mengiba-iba,” ujar sang ibu.

Angkutan Umum Masa Kini

Itu kondisi transportasi umum kita pada rentang 1980-1990an. Itu sebabnya, Darmaningtyas, peneliti di Lembaga Pengembangan Inisiatif Strategis untuk Transformasi (LPIST) dan juga pendiri Institut Studi Transportas (Instran) menuliskan wajah transportasi di Jakarta bak sosok malaikat pencabut nyawa, dalam sebuah buku berjudul ‘Transportasi di Jakarta: Menjemput Maut’.

Penerapan tarif angkutan umum oleh gubernur DKI yang rendah memberi kesan bahwa sang sopir harus memberikan subsidi kepada para penumpang pelajar dan mahasiswa. Sebab, masih ada pembedaan tarif antara umum dan pelajar/mahasiswa. Dan tarif untuk pelajar/mahasiswa jauh di bawah biaya operasional dan setorannya.

Bagaimana kondisi transportasi pada dasawarsa berikutnya, tahun 2000-2010 dan hingga kini 2013? Menurut Darmaningtyas, memang sudah ada upaya perbaikan dalam sistem transportasi di Jakarta. Hal itu ditandai dengan adanya konsep yang dikembangkan Gubernur DKI terdahulu, yaitu Sutiyoso dengan Pola Transportasi Makro (PTM).

Bang Yos, sapaan Sutiyoso, pertama kali meluncurkan jaringan busway dengan armada bus Transjakarta pada Januari 2004 yang diadopsi dari Bogota, Columbia. Transjakarta. Kepala UP Transjakarta Busway selaku pengelola busway, Muhamad Akbar ketika itu, dan juga Direktur Indonesia Institute of Transportation dan Development (ITDP) Yoga Adiwinanto menyaranan agar seluruh angkutan umum di Jakarta disinergikan dengan jaringan busway.

“Jika disinergikan, tidak ada lagi angkot yang ngetem di tempat terlarang untuk berhenti, juga tidak ada kebut-kebutan para angkot, sebab mereka diminta menyamakan standar minimum layanan kepada penumpang. “Untuk itu, pemerintah daerah (Pemda) DKI Jakarta mengulurkan subsidi bagi penumpang, sama seperti subsidi kepada UP Transjakarta atas nama penumpangnya,” kata Yoga.

Usulan itu hingga kini belum dilaksanakan. Kopaja 2/AC yang bertrayek di rute Lebak Bulus – Pasar Senen, misalnya, dia dibolehkan masuk ke jalur busway. Tapi ongkosnya tidak sama dengan ongkos busway yang besarnya Rp 2.000 pada pukul 05.00 07.00 dan Rp 3.500 pada pukul 07.00 – 23.00. Enaknya melaju di jalur busway, menyebabkan banyak kini angkutan lintas kota ke Jakarta yang berpola sama seperti Kopaja 20/AC, yaitu Angkutan Perbatasan Terintegrasi Busway (APTB). Ongkosnya juga beda. Misalnya APTB Cileungsi- Blok M. Jika naik di jalanan di Jakarta, tarifnya hanya Rp 5.000. Sedangkan kalau dari Cileungsi atau sudah di luar jalur busway, Rp 12.000. (saksono)

Related posts