Tahun Depan, Tarif Tiket Pesawat Akan Naik

NERACA

Jakarta - Kementerian Perhubungan (Kemenhub) masih mengkaji kenaikkan tarif tiket pesawat. Masalah kenaikkan tarit tersebut akan diputuskan pada Januari tahun depan. Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono mengatakan, pihaknya masih menimbang usulan dari Indonesia National Air Carriers Association (INACA) terkait kenaikkan tarif tiket pesawat. Namun, pihaknya juga memperhitungkan dampak kenaikkan tarif itu terhadap daya beli masyarakat dan efek inflasinya. ''Targetnya Januari sudah diputuskan,'' kata dia di Kemenhub, Jakarta, Rabu (11/12).

Selain itu, kata Bambang, Kemenhub juga masih mengkaji rencana kerja sama pemerintah dengan swasta untuk pembangunan proyek 10 bandara. Pihaknya, ujar dia, sedang melakukan perhitungan kembali yang didasarkan pada masukan dari pihak-pihak terkait.

Bambang menerangkan, pola kerja sama antara pemerintah dan swasta masih dikaji. ''Sedang diolah Kemenhub dan Kementerian Keuangan,'' jelas dia.

Nantinya, lanjut dia, juga akan melibatkan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). Tujuannya untuk mempelajari pola kerja sama. Ada dua pola kerja sama yang bisa dilakukan, yakni kerja sama pemerintah dengan swasta atau kerja sama pemanfaatan. Kerja sama tersebut dengan memanfaatkan fasilitas yang sekarang sudah ada. Artinya, kepemilikkan masih di tangan pemerintah. Namun, pemerintah hanya melakukan kerja sama operasi pengembangan dan pemeliharaan. Hal itu bertujuan, agar pelayanan publik dapat ditingkatkan.

Sebelumnya Dirjen Perhubungan Udara Kemenhub, Harry Bakti Gumay mengatakan akan memenuhi permintaan Asosiasi Perusahaan Penerbangan Indonesia atau Indonesia National Air Carrier Association (INACA) untuk menyesuaikan kenaikan biaya operasional (cost surcharge operation).

Kemenhub akan membeikan keputusan tersebut di Desember ini dan bisa diterapkan mulai awal tahun depan. "Kami harapkan bulan ini beres. Ini menjadi hadiah tahun baru," kata dia.

Sayang Harry masih belum bersedia memberikan berapa besar penyesuaian biaya operasional. Yang jelas, katanya, nilainya sedikit di bawah permintaan INACA.

Kemenhub sengaja mencari waktu yang tepat untuk mengumumkan penyesuaian tarif tersebut. Bahkan, ia memastikan pada peak season musim liburan akhir tahun ini, tidak akan terjadi perubahan harga tiket.

Arif Wibowo, Ketua Umum INACA justru berharap sebaliknya. Menurutnya, penyesuaian harus diberikan mengingat kondisi saat ini yang semakin diperparah dengan depresiasi nilai tukar rupiah yang sudah mencapai Rp 12.000.

Pria yang juga Direktur Utama PT Citilink Indonesia ini malah meminta kenaikan tiket diputuskan sebelum liburan akhir tahun nanti."Pemerintah harus mempertimbangkan keberlangsungan maskapai karena semua maskapai mengalami tekanan yang cukup signifikan," paparnya.

Soal tarif penyesuaian yang lebih rendah dari harapan INACA, menurut Sekjen INACA, Tengku Burhanuddin, belum bisa membantu operasional maskapai penerbangan. Ia beralasan, patokan kenaikan biaya operasional yang INACA usulkan masih berpatokan kurs sebesar Rp 11.000 per dollar AS.

Sebelumnya, INACA mengajukan penyesuaian tarif batas atas yang kini berlaku. Tetapi, permintaan itu ditolak pemerintah. Kemhub hanya memberikan restu untuk penyesuaian biaya operasional yang dihitung per kilometer akibat lonjakan harga avtur dan bahan baku lainnya.

Related posts