Indocement Targetkan Tumbuh 6% di 2014 - Produksi Bertambah 1,9 Juta Ton

NERACA

Jakarta – Meskipun tahun depan adalah tahun politik, tidak menyurutkan target bisnis PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP). Bahkan ditahun 2014 nanti, produsen semen ini optimis akan mengalami pertumbuhan perusahaan menjadi 6%. Pada tahun 2013 ini, perseroan menargetkan pertumbuhan perusahaan sebesar 5,5%, meskipun pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2013 mengalami penurunan.

Direktur Bidang Komersial Daniel Kundjono Adam mengatakan, sebagai perusahaan negara berkembang, perseroan akan terus membantu perkembangan negara dengan berkontribusi memberikan bantuan dibidang infrastruktur agar pembangunan tidak terlambat, “Pembangunan fisik tidak boleh terlambat, kita support perkembangan negara. Pertumbuhan perusahaan tahun depan akan didukung oleh penambahan mesin baru, dengan adanya mesin produksi semen baru maka kapasitas produksi akan bertambah 1,9 juta ton,”ujarnya di Jakarta, kemarin.

Dia menambahkan, VRM perseroan segera siap karena penambahan ini untuk mengisi pasar. Dia menyebutkan VRM akan selesai pada kuartal pertama dan semen mill dengan kapasitas 1,9 juta ton di Citeureup. Sementara itu, pada tahun depan perseroan masih akan fokus untuk mengincar pasar domestik. Nantinya, perseroan akan berusaha memenuhi kebutuhan pasar domestik 100% pada tahun depan.

Selain itu, pada tahun depan perseroan telah menyiapkan dana belanja (capital expenditure/capex) sekira Rp4 hingga Rp5 triliun. Direktur Keuangan perseroan Tju Lie Sukanto menuturkan, capex ini akan digunakan untuk menggenjot kapasitas produksi dengan pembangunan pabrik integrated semen di Citeureup, Jawa Barat.

Nantinya, pabrik baru tersebut memiliki kapasitas 4,4juta ton semen per tahun di Citeruep. Selain untuk pabrik, capex perseroan juga akan digunakan untuk proyek-proyek lain meskipun yang utamanya adalah pembangunan pabrik. Dana capex perseroan menggunakan dana internal karena perseroan mempunyai cadangan yang cukup.

Sebelumnya, perseroan menyatakan tidak bisa memprediksi pertumbuhan industri semen akibat pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Perseroan mengakui saat ini pasar sangat dinamis dan berbeda pada 2011-2012 dimana rupiah masih bisa stabil.

Dia menyebutkan, permintaan industri semen tergantung pada suku bunga, pelemahan rupiah, kenaikan inflasi yang menyebabkan BI menaikan BI rate dan sangat sulit prediksi. Meski demikian, perseroan berharap dengan adanya proyek penambahan pengerjaan infrastruktur dari pemerintah serta swasta dapat meningkatkan demand semen.

Dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) kemarin, para pemegang saham menyetujui adanya pergantian dan pemilihan direksi atau pengurus perusahaan. Pemegang saham telah menyetujui pengunduran diri Nelson Borch sebagai Direktur Bidang Komersial per 6 Desember 2013 dan Daniel Lavalle sebagai Direktur Utama per 1 Mei 2014. Kemudian pengangkatan Daniel Kundjono Adam sebagai Direktur Bidang Komersial per 6 Desember 2013 serta pengangkatan Chritian Kartawijaya sebagai Direktur per 1 Januari 2014 dan sebagai Direktur Utama per 1 Mei 2014 menggantikan Daniel Lavalle. (nurul)

Related posts