Lunasi Utang, BUMI Tawarkan 13,7 Miliar Saham

NERACA

Jakarta- PT Bumi Resources Tbk (BUMI) masih akan terus bekerja keras untuk melunasi utang perseroan ditengah melemahnya nilai tukar rupiah. Mensiasati selain pinjaman perbankan untuk mendanai utang perseroan, BUMI juga akan melakukan penambahan modal tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD). Rencananya, perseroan akan mengeluarkan saham baru dengan nilai nominal yang berbeda dengan saham yang telah diterbitkan perseroan. “Saham jenis baru ini akan memiliki nominal Rp200 sehingga saham yang telah dan akan diterbitkan menjadi dua seri saham.” kata Sekretaris Perusahaan BUMI, Dileep Srivastava dalam keterangan resminya di Jakarta pekan kemarin.

Dua seri saham tersebut, sambung dia, yaitu seri A dengan nominal Rp500 yang merupakan saham-saham yang telah ditempatkan dan disetor penuh, dan seri B dengan nominal Rp200. Untuk mendukung transaksi ini, perseroan akan menawarkan secara terbatas atas saham baru yang akan dikeluarkan sebanyak-banyaknya 13.665.552.942 saham di harga Rp425 per saham.

Menurut dia, saham baru ini akan diterbitkan dan ditawarkan kepada beberapa kreditur perseroan yang berminat ikut dalam program penyelesaian utang melalui konversi utang menjadi saham. Untuk itu, perseroan akan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 20 Desember 2013.

Seperti diketahui, manajemen PT Bumi Resources tengah mengupayakan penyelesaian utangnya dengan PT China Investment Corporation Ltd (CIC). Disebutkan, di awal transaksinya dengan CIC, total utang tercatat US$1,9 miliar dengan tingkat bunga tetap 12% p.a. dan 19% IRR Payable on Principle Repayment Date. Dari total utang tersebut, pada bulan November 2011 BUMI telah melakukan refinancing tahap I sebesar US$600 juta kepada CIC yang sebenarnya baru akan jatuh tempo pada 30 September 2013.

Dengan begitu perseroan telah melakukan refinancing 2 tahun lebih awal berdasarkan kesepakatan para pihak. Selain itu, pihak manajemen menilai refinancing ini telah mengurangi beban bunga perseroan secara efektif kurang lebih US$72 juta per tahun. Perhitungannya, biaya refinancing sebesar Libor + 6,7% pa vs. 12% coupon + IRR.

Selanjutnya, keduanya membuat kesepakatan baru terkait penyelesaian transaksi utang piutang tersebut. Dalam perjanjian baru yang disepakati, pelunasannya akan dilakukan dengan mengkonversikan nilai utang menjadi saham. Skema tersebut yaitu untuk 42% saham milik perseroan di PT Bumi Resources Minerals (BRMS) sebesar US$257 juta atau Rp268 per saham, dan 19% kepemilikan saham perseroan di PT Kaltim Prima Coal (KPC) sebesar US$950 juta. Selain itu perseroan juga akan mengeluarkan saham baru (rights issue) senilai US$150 juta.

Dengan begitu, penerimaan CIC adalah sebesar US$1.357 juta dari yang seharusnya diterima CIC untuk pembayaran utang pokok plus beban bunga (Agustus-November 2013) sebesar US$1.787 juta. Sehingga sisa utang yang dicatatkan perseroan sebesar US$430 juta.

Nantinya dengan menyerahkan saham anak usaha dan rencana rights issue, perseroan juga berniat akan mengonversikan nilai utang ini sebagai pinjaman berdurasi tiga tahun. Pinjaman ini dikenai bunga suku bunga antar bank London alias London Interbank Offered Rate (LIBOR) plus 6,7% per tahun. Asal tahu saja, ditahun ini perseroan memastikan belum mampu membagikan dividen kepada pemegang saham lantaran masih di derita rugi sebesar Rp US$ 377,5 juta di kuartal ketiga tahun ini. (lia)

Related posts