Astra Belum Keluhkan Pelemahan Rupiah - Dampak Bagi Kinerja Perseroan

NERACA

Jakarta – Tren melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dalam beberapa pekan terakhir memberikan dampak bagi kinerja emiten, baik beban utang dalam dolar yang meningkat hingga nilai investasi yang terus membengkak. Namun kondisi ini rupanya belum memberikan dampak bagi PT Astra Internasional Indonesia Tbk (ASII) terhadap kinerja perseroan.

Presiden Direktur PT Astra Internasional, Prijono Sugiarto mengatakan, depresiasi rupiah akan memberikan tekanan pada lini bisnis otomotif terutama bisnis 2W dan 4W. Namun, divisi lainnya pada non auto seperti Astra Agro Lestari yang gain revenue dalam bentuk dolar serta PAMA Persada yang juga gain revenue dalam dolar, sehingga ada balancing antara depresiasi rupiah dan menguatnya dolar AS, “Untuk segment otomotif, rupiah sudah mencapai Rp11.000-an dan terus beranjak naik. Sehingga harus ada penyesuaian harga yang akan kami lakukan," kata Prijono di Jakarta akhir pekan kemarin.

Menurutnya, penguatan dolar AS terhadap rupiah mempunyai dampak yang baik serta buruk terhadap bisnis Astra. Pada divisi otomotif, penguatan rupiah dinilai lebih negatif, namun sebaliknya pada divisi alat berat dan Pertambangan serta Agribisnis, penguatan USD akan mempunyai dampak positif. Kendatipun demikian, Astra memastikan tidak akan pernah meninggalkan bisnis otomotif sebagai tulang pungggung pendapatan perseroan.

Dia memperkirakan, tahun 2014 kontribusi otomotif menyumbang 60% pendapatan ke perseroan. Hal ini, lanjutnya, dikarenakan konsentrasi bisnis perseroan lebih besar pada porsi otomotif dan turunannya. "Kami juga telah membentuk tim untuk membahas kemungkinan masuk ke sektor properti dan asuransi jiwa,”tandasnya.

Sektor otomotif, kata dia, kemungkinan akan didorong penjualan mobil murah dan ramah lingkungan (Low Cost Green Car/LCGC) yang beberapa waktu lalu menjadi program pemerintah. Sementara, untuk tahap awal masuknya Astra ke dalam bisnis properti hanya untuk memaksimalkan utilisasi atau penggunaan lahan yang telah dimiliki, “Kami memiliki lahan di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, melalui anak perusahaan kami, PT Brahmayasa Bahtera dan juga melalui pembelian lahan yang sebelumnya milik Toyota-Astra Motor, yakni sekitar 2,3-2,4 hektare. Di atas lahan ini, kami akan membangun dua fungsi, pertama membangun Menara Astra melalui anak perusahaan kami, PT Menara Astra,”ungkapnya.

Prijono menuturkan, menara Astra merupakan gedung perkantoran. Dimana akan menjadi kantor pusat Astra. Kedua adalah tiga residensial tower yang menempati area bagian belakang. Rencananya, residensial tower akan mempunyai 500 unit yang akan dikomersialkan. Nantinya, residensial tower akan beroperasi di bawah PT Brahmayasa Bahtera, sebuah entitas pengendalian bersama atau joint-venture antara Astra dengan Hong Kong Land dengan porsi kepemilikan 60:40%.

Selain itu, tahun depan menjadi fokus perseroan mengembangkan bisnis infrastruktur di sektor pengembangan jalan tol. Disebutkan, persroan alan menyelesaikan jalan tol Mojokerto-Kertosono. Disamping itu, Astra juga berencana mengembangkan bisnis infrastruktur lainnya, seperti pelabuhan, power plant dan industrial estate. (bani)

Related posts