Impor Induk dan Benih dari Negara Terwabah Penyakit Segera Dilarang - Perikanan Budidaya

NERACA

Jakarta – Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus mendorong pencegahan masuknya penyakit ikan ke Indonesia. Salah satunya, menurut Dirjen Perikanan Budidaya Slamet Sobjakto, KKP akan segera merilis Keputusan Menteri (Kepmen) yang melarang impor induk, benih, pakan ikan dari negara-negara yang terjangkit wabah penyakit ikan seperti Early Mortality Syndrom (EMS) atau Acute Hepatopancreatic Necrosis Desease (AHPND).

Kendati sampai saat ini Indonesia dinyatakan terbebas dari penyakit EMS, Kepmen itu dimaksudkan sebagai langkah preventif mencegah masuknya EMS dan penyakit baru lainnya ke budidaya perikanan nasional. “Kita melakukan suatu terobosan dengan melakukan pembatatasan atau pelarangan masuknya induk-induk, benih-benih, dan pakan dan sekaligus udang beku karena sebagai karir EMS, yang berasal dari negara yang ada wabah EMS ini,” kata Slamet kepada pers usai membuka acara One Day Seminar Overview EMS/AHPND, di Hotel Sehati, Jakarta Selatan, Jumat (6/12).

Slamet mencontohkan, saat ini, negara yang terjangkit EMS antara lain Malaysia, Vietnam, Thailand, China, dan belakangan India. Dari negara-negara itu, pengusaha akan dilarang mengimpor induk dan benih, baik untuk udang windu maupun vanamei. Dalam penjelasan Slamet, ancaman wabah EMS tidak main-main. Sebuah negara, bisa rontok produktivitas udangnya jika terjangkit EMS.

“Kalau EMS ini mewabah, bisa mematikan budidaya udang, apalagi kita ini sedang gencar-gencarnya revitalisasi tambak, ingin menggenjot produksi. Sekarang di Thailand saja, yang beroperasi hanya 20-30% saja. Di Vietnam juga, di China juga. Ini kerugiannya triliunan. Kalau sudah masuk, sulit mengembalikan lagi. Betul-betul endemis, sulit melakukan pengobatan. Kita preventif, bukan kuratif,” beber Slamet.

Ssaat ini, direktorat yang dia pimpin, tandas Slamet, benar-benar fokus menghadang masuknya EMS ke tambak-tambak di Indonesia. Termasuk belakangan ini, pihaknya aktif melakukan Safari EMS, untuk mensosialisasikan pencegahan penyakit itu sekaligus melatih para pembudidaya melakukan pencegahan. Selain Safari EMS, pihaknya juga aktif mensosialisasikan penerapan cara budidaya ikan yang baik, mendatangkan pakar-pakar dari luar negeri, termasuk membentuk Tim Buser (Buru Sergap) untuk proaktif mencegah penyakit berbahaya ini.

Jika ada pembudidaya yang memberikan informasi tentang adanya suatu penyakit, buru-buru Tim Buser tersebut dikirim untuk mengecek langsung ke lokasi. Memang, sejauh ini, ketika mengecek langsung ke tambak dari banyak laporan, Tim Buser memang belum pernah menemukan adanya penyakit EMS. Yang banyak ditemukan adalah penyakit white spot yang juga bisa menjangkiti ikan di bawah 30 hari. Itu sebabnya, Slamet meminta seluruh pemangku kepentingan untuk tidak buru-buru mengatakan adanya EMS karena belum tentu EMS, melainkan penyakit white spot.

Merancang Induk Lokal

Memang, menurut Slamet, pihaknya telah mengkaji dan mengecek langsung negara asal impor induk dan benih, yakni Hawai dan Florida. Di sana, kata Slamet, cara pembuatan induknya memang sesuai prosedur kesehatan perikanan budidaya, termasuk tidak mengandung virus dan penerapan biosecuruty. Karena itu, dia yakin, jika induk diambil dari dua wilayah itu, maka dipastikan aman dari penyakit berbahaya.

Namun, Slamet juga mengaku merancang program jangka panjang, yakni dengan merancang produksi induk dalam negeri. “Apalagi ke depan, seiring dengan banyaknya penyakit dari induk luar, kita tidak bisa terus bergantung pada induk impor. Maka kita siapkan induk dari dalam negeri. Seiring pasar bebas permintaan induk luar negeri akan banyak, dan pasokan ke Indonesia bisa berkurang. Nah, kita sudah siapkan induk dari dalam negeri. Karena induk impor itu kita berisiko memasukkan penyakit,” jelasnya lebih lanjut.

Kecuali terus berupaya mencegah masuknya penyakit ikan, di mata Slamet, turunnya produksi perikanan budidaya negara lain akibat wabah penyakit menjadi kesempatan yang bagus bagi perikanan nasional untuk menggenjot produksi dan meningkatkan ekspor. Kesempatan itu semakin lebar terbuka tatkala selain bebas EMS, Indonesia juga dinyatakan bebas tuduhan dumping, bebas residu, dan bebas anti biotik. “Ini menjadi peluang yang sangat besar. Dari negara lain sedang drop produksinya, Indonesia punya kesempatan untuk mengisi pasar dunia. Saya kira kesempatan yang bagus sekali,” ujarnya.

Produksi udang nasional saat ini sudah mencapai 500 ribu-an dari target 608 ribu di tahun ini. Angka ini merupakan jumlah total dari produksi udang vanamei, windu, galah, dan lain-lain. Nah, khusus untuk udang windu, DJPB mengaku produksinya disentralisasi di Kalimantan Timur dan akan dikembangkan Kalimantan Barat serta daerah lain. Pasar ekspor pun juga menyerap dengan kencang produksi udang windu. Terutama udang windu yang organik, karena hanya dimilki Indonesia. “Saya kira 2014 masih bagus pasar internasional,” sambungnya.

Sementara itu, masih di tempat yang sama, Bambang Widigdo dari PT. Central Proteinaprima Tbk berharap agar seluruh pemangku kepentingan tidak buru-buru menyimpulkan adanya penyakit EMS di Indonesia, karena akan mendatangkan sentimen negatif, terutama dari negara lain yang mengimpor hasil produksi udang nasional.

Di samping itu, dia juga mewanti-wanti agar pengusaha udang nasional tidak terlena dengan harga dan permintaan yang tinggi terhadap udang Indonesia yang saat ini bebas penyakit. Alasannya, ketika harga udang tinggi, pengusaha ingin secara cepat meningkatkan produksi dengan mendatangkan induk dan benih yang lebih murah. Padahal, boleh jadi, induk tersebut berasal dari negara yang terjangkit EMS. “Itu akan menjadi petaka buat kita. Selama kita belum bisa mengobati EMS, jangan mengambil dari negara yang kena EMS,” tegas Bambang.

Related posts