Menunggu BI Rate, IHSG Bergerak Konsolidasi

NERACA

Jakarta – Akhir pekan kemarin, indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup melemah 36,106 poin (0,86%) ke level 4.180,788. Sementara Indeks LQ45 terpangkas 7,922 poin (1,13%) ke level 691,025. Masih terkoreksinya nilai tukar rupiah menjadi sentimen negatif indeks BEI. Pelemahan indeks BEI ini sudah terjadi selama sepekan, sehingga membuat pelaku pasar banyak melepas saham.

Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada mengatakan, sentimen negatif masih menyelimuti bursa saham Indonesia menyusul mata uang rupiah yang kembali dalam tren pelemahannya,”Laju rupiah yang kembali dalam tren pelemahan menjadi sentimen negatif bagi pasar saham," katanya di Jakarta kemarin.

Dia menambahkan, melemahnya laju bursa saham AS juga masih memberikan imbas yang cukup negatif pada laju bursa saham Asia sehingga IHSG BEI ikut tertekan. Di sisi lain, belum adanya berita yang positif dari dalam negeri membuat IHSG juga belum dapat beranjak dari area pelemahannya.

Sementara analis HD Capital, Yuganur Wijanarko mengatakan, pelaku pasar saham cenderung mengambil posisi aman menjelang keputusan mengenai stimulus keuangan (tappering off) the Fed,”Kondisi itu kembali mendorong pelaku pasar melakukan aksi jual pada saham-saham sehingga indeks BEI mengalami koreksi lebih lanjut," kata dia.

Berikutnya, indeks BEI Senin awal pekan diproyeksikan masih akan bergerak konsolidasi dengan kecenderungan melemah. Dimana pelaku pasar masih bersikap wait and see menunggu kabar keputusan Bank Indonesia soal suku bunga bank atau BI Rate.

Perdagangan kemarin, saham-saham bank kelas berat terkena tekanan jual paling banyak. Dibuntuti saham-saham konsumer dan infrastruktur. Aksi jual banyak dilakukan investor asing. Perdagangan berjalan cukup sepi dengan frekuensi transaksi sebanyak 120.547 kali pada volume 4,196 miliar lembar saham senilai Rp 4,205 triliun. Sebanyak 97 saham naik, sisanya 155 saham turun, dan 98 saham stagnan.

Bursa-bursa di Asia menutup perdagangan akhir pekan dengan mixed. Pelaku pasar menahan diri untuk bertransaksi gara-gara sentimen dikuranginya stimulus oleh The Federal Reserve. Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya (PTSP) naik Rp 700 ke Rp 4.000, Astra Agro (AALI) naik Rp 650 ke Rp 24.700, Garda Tujuh (GBTO) naik Rp 240 ke Rp 1.210, dan Jembo Cable (JECC) naik Rp 150 ke Rp 2.650.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain HM Sampoerna (HMSP) turun Rp 2.000 ke Rp 61.500, Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 800 ke Rp 28.850, Gudang Garam (GGRM) turun Rp 450 ke Rp 39.150, dan Bank Mandiri (BMRI) turun Rp 300 ke Rp 7.300.

Perdagangan sesi pertama, indeks BEI juga ditutup melemah 33,913 poin (0,80%) ke level 4.182,981. Sementara Indeks LQ45 melemah 7,870 poin (1,13%) ke level 691,077. Perdagangan berjalan cukup sepi dengan frekuensi transaksi sebanyak 62.941 kali pada volume 1,705 miliar lembar saham senilai Rp 1,911 triliun. Sebanyak 77 saham naik, sisanya 117 saham turun, dan 96 saham stagnan.

Bursa-bursa di Asia kompak melemah gara-gara sentimen negatif dari bank sentral AS. Belum ada pelaku pasar yang berani bertaruh di tengah situasi yang tak kondusif. Tercatat saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya Astra Agro (AALI) naik Rp 250 ke Rp 24.300, Garda Tujuh (GBTO) naik Rp 220 ke Rp 1.190, United Tractor (UNTR) naik Rp 200 ke Rp 19.100, dan Vale (INCO) naik Rp 125 ke Rp 2.625.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain HM Sampoerna (HMSP) turun Rp 1.500 ke Rp 62.000, Gudang Garam (GGRM) turun Rp 400 ke Rp 39.200, Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 350 ke Rp 29.300, dan Unilever (UNVR) turun Rp 250 ke Rp 25.250.

Diawal perdagangan, indeks BEI sudah dibuka terkoreksi 20,05 poin atau 0,50% menjadi 4.195,84. Sedangkan indeks 45 saham unggulan (LQ45) melemah 6,34 poin (0,91%) ke posisi 692,61,”Bursa global kembali melanjutkan koreksinya, termasuk IHSG BEI seiring dengan spekulasi pasar terkait 'tappering off' the Fed yang kemungkinan terjadi lebih cepat menyusul data ekonomi AS yang membaik," kata analis Samuel Sekuritas, Yualdo Yudoprawiro.

Dia mengemukakan bahwa produk domestik bruto (PDB) AS di kuartal ketiga 2013 tumbuh 3,6% dibanding kuartal sebelumnya, melebihi estimasi pasar dan klaim pengangguran AS mengalami penurunan yang lebih baik. Meski demikian, dirinya memperkirakan bahwa IHSG berpotensi menguat setelah melemah selama tiga hari berturut-turut dan diharapkan dengan penguatan nilai tukar rupiah membawa imbas positif bagi saham-saham domestik.

Head of Research Valbury Asia Securities, Alfiansyah menambahkan, dalam laporan survey bisnis "Beige Book" di AS, aktivitas manufaktur AS terus berkembang, belanja konsumen juga mengalami peningkatan, kondisi itu memberikan petunjuk di tengah perdebatan kapan akan dimulainya pengurangan stimulus AS.

Menurut dia, semakin membaiknya situasi ekonomi AS maka dikhawatirkan pengurangan stimulus bisa datang lebih awal. Bursa regional, diantaranya indeks Hang Seng dibuka melemah 80,17 poin (0,34%) ke posisi 23.632,40, indeks Nikkei-225 naik 30,99 poin (0,21%) ke posisi 15.208,13 dan Straits Times melemah 12,15 poin (0,39%) ke posisi 3.112,23. (bani)

Related posts