Diburu Aksi Beli, IHSG Berpeluang Menguat

NERACA

Jakarta – Sentimen negatif melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS hingga ke posisi Rp 11.955 menjadi pemicu melemahnya pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG). Dimana mengakhiri perdagangan Rabu kemarin, indeks Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup anjlok 47,462 poin (1,11%) ke level 4.241,302. Sementara Indeks LQ45 ditutup jatuh 10,308 poin (1,44%) ke level 703,776.

Head of Research Valbury Asia Securities, Alfiansyah mengatakan, kendati data ekonomi Indonesia telah mencerminkan perbaikan teruma dari neraca perdagangan, namun sentimen "tapering off" AS mengeliminasi faktor positif dari dalam negeri,”Pembuat kebijakan di AS akan bertemu pada tanggal 17--18 Desember mendatang, pembelian obligasi bulanan yang sebesar US$ 85 miliar akan dikurangi jika ekonomi AS membaik sesuai ekspektasi," kata dia di Jakarta, Rabu (4/12).

Kepala Riset PT KDB Daewoo Securities, Bertrand Raynaldi menambahkan, secara teknikal penurunan IHSG Rabu masih dalam koreksi "sehat" dimana batas level bawah di possi 4.191 poin belum terlewati. Maka dengan pertimbangan kondisi seperti tersebut, dirinya merekomendasi untuk transaksi jangka pendek.

Dia memprediksikan, indeks BEI pada perdagangan Kamis (5/12) secara teknikal bakal kembali menguat. Para investor direkomendasikan untuk aksi beli dengan memanfaatkan peluang penguatan saham-saham seperti Aneka Tambang (ANTM), Harum Energy (HRUM), PP London Sumatra Indonesia (LSIP).

Pada perdagangan Rabu kemarin, aksi beli kembali marak menjelang penutupan perdagangan. Namun aksi yang banyak dilakukan investor asing ini gagal membawa indeks ke zona hijau. Beberapa investor asing juga ada yang mulai melepas saham. Hingga sore kemarin, transaksi investor asing tercatat melakukan pembelian bersih (foreign net buy) senilai Rp 33,13 miliar di seluruh pasar.

Perdagangan berjalan cukup sepi dengan frekuensi transaksi sebanyak 124.834 kali pada volume 5,765 miliar lembar saham senilai Rp 4,124 triliun. Sebanyak 87 saham naik, sisanya 138 saham turun, dan 110 saham stagnan.

Bursa-bursa di Asia ditutup mixed di penghujung perdagangan gara-gara sentimen melemahnya Wall Street. Hanya bursa saham China yang mampu ditutup positif. Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya Indo Tambangraya (ITMG) naik Rp 900 ke Rp 30.150, Astra Agro (AALI) naik Rp 350 ke Rp 23.050, Harum Energy (HRUM) naik Rp 150 ke Rp 3.225, dan Garda Tujuh (GBTO) naik Rp 150 ke Rp 780.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain HM Sampoerna (HMSP) turun Rp 1.500 ke Rp 64.500, Gudang Garam (GGRM) turun Rp 850 ke Rp 38.500, Unilever (UNVR) turun Rp 450 ke Rp 25.800, dan Jembo Cable (JECC) turun Rp 425 ke Rp 2.525.

Perdagangan sesi I, indeks BEI ditutup turun 37,741 poin (0,88%) ke level 4.251,023. Sementara Indeks LQ45 melemah 8,163 poin (1,14%) ke level 705,921. Indek sama sekali tidak menyentuh zona hijau sejak pembukaan perdagangan hingga sesi pertama. Posisi terendah yang sempat disinggahi indeks ada di level 4.248,587.

Perdagangan berjalan sepi dengan frekuensi transaksi hanya sebanyak 67.197 kali pada volume 3,233 miliar lembar saham senilai Rp 2,178 triliun. Sebanyak 71 saham naik, sisanya 142 saham turun, dan 80 saham stagnan. Bursa saham China mampu naik cukup tinggi di tengah maraknya sentimen negatif yang beredar. Bursa-bursa regional lainnya masih terjebak di zona merah.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya Indo Tambangraya (ITMG) naik Rp 500 ke Rp 29.750, Astra Agro (AALI) naik Rp 150 ke Rp 22.850, Harum Energy (HRUM) naik Rp 100 ke Rp 3.275, Garda Tujuh (GBTO) naik Rp 100 ke Rp 730.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain HM Sampoerna (HMSP) turun Rp 1.500 ke Rp 64.500, Unilever (UNVR) turun Rp 400 ke Rp 25.850, Mayora (MYOR) turun Rp 300 ke Rp 27.600, dan Indocement (INTP) turun Rp 250 ke Rp 18.850.

Diawal perdagangan, indeks BEI dibuka turun 22,73 poin atau 0,53% menjadi 4.266,04. Sedangkan indeks 45 saham unggulan (LQ45) melemah 5,82 poin (0,81%) ke level 708,27,”IHSG BEI kembali terkoreksi seiring dengan mayoritas bursa saham Asia, tekanan di pasar saham itu menyusul munculnya kembali ekspektasi pengurangan stimulus (tapering off) the Fed," kata Analis Anugerah Sekurindo Indah, Bertoni Rio.

Menurut dia, sentimen positif dari dalam negeri terkait data inflasi dan neraca perdagangan Indonesia yang telah dipublikasikan pada awal pekan ini (2/12) cenderung hanya sesaat, pelaku pasar kembali mengamati hasil kebijakan selanjutnya dari Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) AS.

Sementara itu, Tim Analis Teknikal Mandiri Sekuritas dalam kajiannya mengemukakan bahwa kekhawatiran akan percepatan pengurangan stimulus (tapering off) semakin membesar, sehingga membuat investor cenderung "wait and see". Di sisi lain, nilai tukar rupiah cenderung kembali melemah seiring meningkatnya kebutuhan dolar AS untuk pembayaran utang akhir tahun.

Bursa regional, di antaranya indeks Hang Seng dibuka melemah 208,37 poin (0,87%) ke level 23.702,10, indeks Nikkei-225 turun 393,26 poin (2,46%) ke level 15.361,66 dan Straits Times melemah 8,66 poin (0,27%) ke posisi 3.179,15. (bani)

Related posts