Kemerosotan Rupiah Menuju Ekuilibrium Baru

NERACA

Depok - Pemerintah mengklaim nilai tukar rupiah yang terus terdepresiasi hingga mencapai Rp12 ribu per dolar AS merupakan langkah menuju ekuibrium baru. Dengan begitu, nilai tukar rupiah akan ada di posisi yang lebih normal. Karena selama ini nilai rupiah hanya diperkuat oleh ramainya investasi asing.

“Dunia yang normal itu dunia tanpa QE (quantitative easing). Sedangkan rupiah kita melemah kali ini karena QE. Jadi ini sebetulnya sedang menuju ekuibrium baru,” kata Kepala Pusat Kepala Pusat Kebijakan Ekonomi Makro Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan, Luky Alfirman di FEUI, Depok, Jawa Barat, Selasa (3/12).

Dia mengatakan, nilai rupiah yang terasa kuat pada tahun-tahun sebelumnya karena ramainya investasi asing. Sebab, Indonesia pada saat itu sedang menjadi emerging market. Sehingga banyak dari likuiditas global, khususnya Amerika Serikat (AS) yang masuk ke dalam negeri.

“Waktu itu banyak uang masuk hasilnya tentu rupiah kita terapresiasi. Tapi ketika ada capital outflow seperti sekarang ini berarti rupiah kita kembali normal. Jadi bukan kurang tepat kalau disebut krisis,” tutur Luky. Kemudian dirinya mengungkapkan, pelemahan nilai tukar rupiah kali ini tidak sama dengan krisis 1998. Pasalnya waktu itu Bank Indonesia (BI) belum punya hak independen.

“Sedangkan sekarang BI punya otoritas dan utang swasta juga tidak sebesar dahulu bahkan sekarang sudah di-hedging. Memang ada potensinya kita menuju krisis tapi tidak besar,” tambahnya. Untuk itu, Luky menegaskan Pemerintah saat ini sedang menghadapi tantangan dalam menghadapi hal tersebut.

Sebagai harapan, Pemerintah dapat menjaga proses QE dengan mulus. Sehingga tidak menimbulkan gejolak ekonomi yang hebat di tengah masyarakat. “Kita juga belum tahu yang normal itu apakah Rp11 ribu atau Rp12 ribu per dolar AS. Kita masih mencari posisi yang sebenarnya. Tantangannya adalah bagaimana proses itu bisa berjalan mulus dalam artian tidak terlalu volatile,” ungkap Luky. [lulus]

Related posts