Kabupaten Kuningan, Kabupaten Ramah Investasi - Jabatan Bupati dan Wakil Bupati Berakhir

Kuningan - Selasa 3 Desember 2013, berakhir sudah masa kepemimpinan H Aang Hamid Suganda-H Momon Rochmana dalam tampuk Bupati dan Wakil Bupati Kuningan periode 2009-2013. Keduanya berhasil membawa Kuningan menjadi sebuah kabupaten yang cukup beragam, dinamis, modern dan tetap bersahaja. Pemikiran yang cukup inovatif di tampuk keduanya patut ditiru dan diteruskan kepemimpinan baru dipundak Hj Utje Choeriyah Suganda-H Acep Purnama.

Lima tahun tentu bukan waktu yang lama untuk merubah Kuningan ke arah perubahan. Tidak sedikit yang merasa kesulitan merubah Kuningan kearah yang lebih dinamis, tapi tidak bagi Bupati Aang dan Wabup Momon. Pembangunan fisik menjadi muka tersendiri bagi alam Kuningan dan mencerminkan kehidupan didalamnya, tentu berdampak pada masalah kesejahteraan rakyatnya.

Kita tengok perkembangan ekonomi di Kabupaten Kuningan menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), dan secara umum mengalami peningkatan. Hal tersebut diindikasikan dari tingkat laju pertumbuhan ekonomi daerah yang meningkat dari 4,99% menjadi 5,49%. Indikasi positif perekonomian daerah lainnya dapat dilihat dari daya beli yang meningkat, dari Rp549.100, meningkat menjadi Rp551.320, di tahun berikutnya.

“Kalau dilihat dari persentase tersebut, berarti terjadi penurunan persentase tingkat pengangguran dari 5,17 % menjadi 4,61%, dan penghasilan masyarakat Kuningan mengalami peningkatan. Tentu ini bukan tidak dengan cara dalam melakukan perubahan ini,” papar Kabag Humas Setda, Asep Budi Setiawan kepada Harian Ekonomi Neraca, kemarin.

Salah satu cara yang cukup jitu dalam melakukan perubahan sektor ekonomi yaitu dari aspek penanaman modal. Selama ini, investor selalu mengeluh sulit dan ribet ketika harus berinves di Kuningan, dan wajar jika Kuningan tidak dinamis. Hal itulah yang menjadi pemikiran serius bagi Bupati Aang untuk merubah image tersebut.

Akhirnya terealisasi, keinginan untuk menarik investor menanamkan modalnya di Kuningan pun terwujud. Kemudahan pelayanan dalam satu atap menjadi investor nyaman untuk melakukan bisnisnya di Kuningan. Dampaknya, pengangguran yang terus meningkat setiap tahunnya bisa terserap dan diberdayakan, investor lokal di Kuningan pun cukup nyaman dan menjalankan bisnisnya dengan lancar dan maju.

Dari data Badan Pelayanan Perijinan Terpadu (BPPT), setiap tahun target realisasi investasi terus meningkat, bahkan di tahun 2011 target Rp 181 milyar bisa terealisasi hingga Rp 282 milyar (156 %). Kenaikan yang cukup signifikan. “Ini menunjukan adanya trust dari investor kepada Pemkab Kuningan. Untuk itulah, Kami akan terus berupaya agar Kuningan menjadi kabupaten ramah investasi dan kemitraan,” ujar Kepala BPPT, Sadudin.

Di sisi lain sayap ekonomi dikembangkan di daerah perbatasan. Melalui kegiatan monumental, Bupati Aang menggagas Kuningan Summit yang melibatkan perbatasan Jawa Barat-Jawa Tengah, dan telah mendapat dukungan dari delapan daerah (Kuningan, Majalengka, Cirebon, Banjar, Ciamis, Brebes, Cilacap). Pemerintah Provinsi Jawa Barat pun respon dan langsung mengalokasikan bantuan keuangan untuk membuka akses daerah perbatasan di delapan daerah tersebut.

Kita bisa lihat, masyarakat di daerah perbatasan masih kesulitan dalam melakukan aktifitas pengembangan dirinya, termasuk dalam pengembangan ekonominya. Namun setelah dibentuk Kuningan Summit, diharapkan masyarakat di perbatasan itu bisa dimanjakan dengan fasilitas pasar, baik pasar tradisional maupun pasar modern.

Sebuah langkah yang cukup inovatif, dan tentu akan ringan dilakukan oleh pemimpin Kuningan yang baru tersebut. “Masih banyak pekerjaan rumah (pr) yang belum terselesaikan. Kami berharap pr-pr itu bisa diteruskan, digarap dan diselesaikan menjadi sebuah program yang membanggakan Kuningan dan masyarakat tentunya. Saya titip Kuningan,” harap Bupati Aang.

Related posts