Kehidupan Menyedihkan Selama 10 Tahun Terakhir - Oleh: Prof Dr Imam Suprayogo, Rektor UIN Malang

Melihat kejadian dalam kehidupan dalam kurun waktu tertentu dan kemudian membandingkannya dengan waktu-waktu yang lain kadang menarik. Pada waktu tertentu muncul kejadian yang kadang serupa dan berbeda dari waktu lainnya. Sekitar sepuluh tahun terakhir, manakala masih sempat diingat, terjadi peristiwa alam yang agaknya aneh, mengerikan, dan juga dahsyat.

Sejak sekitar sepuluh tahun yang lalu, secara berturut-turut terjadi berbagai macam musibah di hampir semua wilayah. Dimulai dari peristiwa tsunami di Aceh yang menewaskan ratusan ribu penduduk. Mendengar dan apa lagi melihatnya, siapapun merasa amat sedih dan duka yang luar biasa. Belum selang begitu lama, peristiwa yang mengerikan di Aceh itu disusul oleh gempa bumi di Pulau Nias, di Yogyakarta, di Padang, dan juga di tempat-tempat lain. Puluhan dan bahkan ratusan ribu orang kehilangan rumah, harta benda, dan bahkan juga nyawa.

Setelah peristiwa tsunami dan juga gempa bumi di beberapa wilayah, disusul dengan jenis musibah lainnya, yaitu banyak gunung meletus, banjir bandang, angin puting beliung di mana-mana, ombak besar yang tidak terbiasa terjadi, dan lain-lain. Selain itu, musibah juga berupa munculnya berbagai jenis penyakit, yang sebagian tidak pernah dikenal sebelumnya, seperti misalnya flu burung, flu babi, dan seterusnya.

Musibah itu agaknya reda, tetapi ternyata disusul dengan kejadian-kejadian aneh lainnya yang juga tidak kurang mengerikan. Yaitu terjadi konflik di mana-mana. Pada saat itu, seolah-olah antar orang, antar kelompok, atau suku, antar daerah, menjadi sedemikian mudah tersulut oleh konflik. Di antaranya, yang saya masih ingat, yaitu konflik antara polisi dan mahasiswa di Sulawesi Selatan, di Jakarta dikenal konflik terkait makam Mbah Priuk, konflik antar kampung, antar suku, terjadi di mana-mana. Pada waktu itu, seolah-olah tiada hari tanpa berita konflik horizontal.

Tentu, musibah dan konflik pada kadar tertentu masih terjadi di beberapa tempat pada masa selanjutnya. Akan tetapi, kejadian itu tidak sedahsyat beberapa tahun sebelumnya. Selanjutnya, gejala yang tidak kurang mengerikan lagi, pada akhir-akhir ini, adalah fitnah. Peristiwa saling tuduh menuduh, saling salah menyalahkan, memasukkan orang ke penjara, dan semacamnya, dianggap menjadi hal biasa. Seolah-olah, orang-orang tertentu menyimpangkan uang negara, melakukan korupsi, penggelapan, dan seterusnya. Mereka itu disebut koruptor, dan kemudian dipenjarakan.

Perbuatan menuduh orang ternyata sedemikian mudah. Seolah-olah orang yang dituduh melakukan kesalahan itu tidak pernah berbuat baik dan memberi jasa apa-apa. Mereka diberi identitas sebagai koruptor. Padahal bisa jadi, orang yang memberi label itu belum tentu telah berbuat sesuatu apapun pada lingkungan dan juga apalagi terhadap bangsanya. Sedemikian mudah tuduhan dialamatkan kepada seseorang yang belum tentu benar-benar telah berbuat salah. Atas kenyataan itu, maka harkat dan martabat seseorang sedemikian murahnya.

Sejalan dengan kenyataan yang menyedihkan itu, beberapa waktu yang lalu, saya kedatangan tamu, seorang pimpinan perguruan tinggi negeri di kota ia bertempat tinggal. Ia mengeluhkan bahwa, beberapa stafnya telah ditahan oleh karena dituduh melakukan kesalahan dalam manajemen proyek. Sebagai seorang pimpinan, ia mengaku tahu bahwa stafnya itu tidak terlalu mengerti seluk-beluk administrasi pengadaan barang milik negara. Nmaun demikian, atas dasar niat baik, tugas itu ditunaikannya. Setelah datang pemeriksa keuangan, ternyata beberapa orang yang tidak terlalu paham managemen itu dinilai telah melakukan kesalahan, dan akhirnya dijadikan tersangka.

Orang-orang yang sebenarnya ingin berbuat baik itu, ternyata dianggap melakukan kesalahan, dan kemudian disebut sebagai koruptor. Sebagai resikonya, mereka ditahan dan selanjutnya dipenjarakan. Bisa dibayangkan, betapa besar penderitaan yang dirasakan oleh mereka itu. Tentu, penderitaan itu tidak saja dirasakan oleh dirinya sendiri, melainkan juga oleh isteri, atau suami, anak-anak, dan bahkan keluarga besarnya. Mereka harus menanggung malu, kehilangan pekerjaan, dan juga masa depannya.

Tulisan ini bukan bermaksud untuk tidak menyetujui terhadap gerakan pemberantasan korupsi. Korupsi harus diberantas hingga tuntas. Namun hal yang perlu diperhatikan adalah, bahwa gerakan mulia itu jangan sampai salah atau keliru sasaran. Jangan sampai terjadi, orang benar disalahkan dan sebaliknya, orang salah dibenarkan. Selain itu, jangan sampai dalam kegiatan pemberantasan korupsi melahirkan fitnah yang akibatnya lebih berbahaya dalam kehidupan ini.

Fitnah itu sangat mungkin terjadi. Sebab, seseorang yang semula berteriak anti korupsi ternyata dirinya sendiri yang korup. Koruptor berteriak koruptor. Pada kenyataannya, ada oknum jaksa, hakim, polisi, atau pejabat lainya terkena kasus, dan berakhir masuk penjara. Itulah bagian dari fitnah. Maka, atas kejadian itu, saya melihat, sejak sepuluh tahun terakhir, terjadi kecenderungan tertentu dalam kehidupan ini, yaitu diawali dengan berbagai musibah, lalu disusul dengan konflik, dan akhir-akhir ini tampaknya berganti dengan fitnah. Setelah itu, apa lagi ? Wallahu a’lam. (uin-malang.ac.id)

Related posts