Struktur Organisasi Bank dan Manajemen Risiko - Oleh: Achmad Deni Daruri, President Director Center for Banking Crisis

Kita perlu berhati-hati tentang interpretasi, karena Daud Llewellyn telah mengingatkan kita tentang apa yang terjadi pada prakteknya sering sangat berbeda dari kenyataan. Munculnya kasus Whale London di JP Morgan tak lepas dari konteks struktur organisasi bank dan manajemen risiko yang tidak cocok.

Birokrasi adalah sebuah struktur dengan tugas-tugas operasi yang sangat rutin yang dicapai melalui spesialisasi, aturan dan ketentuan yang sangat formal, tugas-tugas yang dikelompokkan ke dalam berbagai departemen fungsional, wewenang terpusat, rentang kendali yang sempit, dan pengambilan keputusan yang mengikuti rantai komando.

Di pihak lain, kekuatan Birokrasi perbankan sering dianggap memiliki peran penting dalam pengawasan perbankan itu sendiri bahkan ketika tidak menjadi tanggungjawab lembaga tersebut secara formal. Apa pun rincian dan bentuk suatu struktur organisasi, mereka yang bertanggungjawab atas pengawasan perbankan di Otoritas Jasa Keuangan, pengawasan di masing-masing bank dan mereka yang berada di Bank Sentral adalah yang paling peduli dengan stabilitas keuangan, terpaksa harus bekerjasama.

Jika demikian, maka dapat dikatakan bahwa rincian tepat dari suatu struktur organisasi adalah, pada sebagian besar, berada pada urutan kedua terpenting, dan bahwa skala perhatian yang diberikan kepada masalah ini dalam prakteknya merupakan indikasi dari kejadian ‘turf wars' dari pada urusan substansi yang nyata.

Untuk mendukung proposisi ini, seseorang dapat mengemukakan fakta bahwa hubungan organisasi antara pengawas perbankan dan Bank Sentral telah dibentuk dengan banyak cara terpisah di negara-negara yang berbeda (lihat Goodhart dan Schoenmaker (1995a dan b), dan Goodhart, Hartmann, et al. (1998)).

Ada beberapa faktor perubahan yang tidak dapat diragukan lagi bahwa pergeseran keseimbangan ke arah preferensi untuk satu, atau lainnya, struktur kelembagaan (ini akan dibahas lebih lanjut nantinya) serta perubahan mode sudut pandang dalam bidang ini. Namun kenyataannya bahwa keanekaragaman organisasi telah begitu umum menunjukkan bahwa tidak mungkin memiliki pengaruh utama pada hasil.

Meskipun beberapa studi mengklaim untuk menemukan perbedaan signifikan pada berbagai hasil tergantung pada struktur organisasi yang diadopsi (lihat, Misalnya, Heller (1991), Briault (1997), dan Di Noiadan Di Giorgio (1999)), implikasi praktis dari keanekaragaman yang diamati bisa jadi bahwa itu bukan masalah dari momen pertama.

Memang, masalah mencoba untuk mengases struktur organisasi yang terbaik tidak dipermudah oleh kecenderungan semua institusi, terutama termasuk Bank Sentral, berdebat, dan dengan keyakinan yang sangatbesar, bahwa, apapun struktur yang mereka miliki saat ini mungkin, adalah yang optimal, atau setidaknya jika ada sedikit dana tambahan dan kekuasaan bisa membuatnya menjadi optimal!

Jika kita menerima, sebagai hipotesis yang dipertahankan, bahwa pengawas perbankan (secara individu maupun sistemik) dan Bank Sentral harus bekerjasama, apapun struktur organisasinya, mengapa struktur menjadi begitu berarti? Ada berbagai alasan, salah satu alasan utama atas kepedulian tentang perbedaan-perbedaan tersebut adalah bahwa struktur organisasi dapat memiliki pengaruh pada jenis orang yang terlibat dalam melaksanakan pengawasan perbankan, kaliber dan keterampilan profesional mereka, dan etos dan budaya organisasi di mana mereka bekeja.

Salah satu hal penting adalah kita harus menekankan masalah pengaruh struktur organisasi terhadap personil yang terlibat, khususnya yang berhubungan dengan negara-negara berkembang dan transisi. Dengan demikian struktur organisasi bank harus mendukung sistem pengawasan di dalam bank dengan regulator dan regulasi pengawasan perbankan yang ada.

Sebagaimana yang telah dikemukakan oleh H. Kaufman (2000), hal 219, dimana ia mengatakan sebagai berikut: "Seperti yang saya lihat, tanggungjawab yang tepat dari bank sentral (menjamin keuangan masyarakat yang baik) memerlukan keterlibatan yang intim antara pengawasan keuangan dan regulasi.

Hal ini harus menjadi prinsip pengatur utama yang ada di belakang reformasi komprehenif peraturan keuangan dan pengawasan apapun di Amerika Serikat”. Permasalahannya, sejauhmana struktur organisasi bank dapat mencapai tujuan pengawasan bank yang sehat karena pada hakekatnya struktur organisasi juga menciptakan birokrasi. Kekuatan utama birokrasi ada kemampuannya menjalankan kegiatan-kegiatan yang terstandar secara sanga tefisien, sedangkan kelemahannya adalah dengan spesialisasi yang diciptakan bisa menimbulkan konflik-konflik subunit, karena tujuan-tujuan unit fungsional dapat mengalahkan tujuan keseluruhan organisasi.

Kelemahan besar lainnnya adalah ketika ada kasus yang tidak sesuai sedikit saja dengan aturan, tidak ada ruang untuk modifikasi karena birokrasi hanya efisien sepanjang karyawan menghadapi masalah yang sebelumnya telah mereka hadapi dan sudah ada aturan keputusan terprogram yang mapan. Karena itu birokrasi pengawasan perbankan seyogyanya mengacu juga kepada satu tujuan yang sama dan jugaharus memiliki fleksibilitas untuk bekerja di luar pakem yang dianggap biasa, agar kejdian di JP Morgan tak berulang di masa depan.

Related posts