Melangitnya Utang Indonesia - Oleh: Satria Dwi Saputro, Mahasiswa Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam, IAIN Sumut

Diberbagai media di Indonesia baru-baru ini telah banyak bermunculan berita-berita mengenai melejitnya jumlah utang negera Indonesia kepada luar negeri yang mencapai Rp. 2.276,89 triliun pada Oktober 2013.

Melejitnya jumlah utang Indonesia menjadi kekhawatira semua pihak akan terjadi inflasi yang akan merugikan rakyat miskin dengan melonjaknya harga-harga kebutuhan pokok dimana pendapatan tetap. Ini tentu harus direnungkan oleh para pemimpin di negeri ini mengapa jumlah hutang negara kita begitu banyak.

Indonesia digelar sebagai surganya dunia atau atlantis yang hilang. Ini bukanlah kajian baru atau pujian yang diucapkan oleh para turis dan pejabat luar terhadap Indonesia tapi itu merupakan kenyataan yang benar adanya. Bayangkan saja hampir semua kekayaan negara asing terdapat juga di tanah Indonesia, misalnya minyak, tambang, emas, hutan, satwa, air yang melimpah, dan lain-lain bahkan penduduk terdapat pun juga Indonesia termasuk. Tetapi pertanyaannya, mengapa negeri kaya tampak jadi negeri pengemis?

Pertanyaan tersebut tentunya haruslah dijawab mengenai pujian dunia terhadap Indonesia sebagai atlantis yang hilang dengan realita kemiskinan yang juga tak kalah tinggi presentasinya. Melihat data yang dilangsir oleh Badan Pusat Statistik menyatakan bahwa jumlah orang miskin di Indonesia pada Maret 2013 mencapai 28,07 juta orang sedikit turun jumlahnya ketimbang tahun lalu yang mencapai 28,59 juta orang.

Walaupun presentasi jumlah orang miskin telah menurun apakah itu berarti jumlah SDM kita sudah bertambah pesat sehingga bisa melunasi hutang negara yang melangit. Jawabnya masih belum, angka 28 juta jiwa adalah jumlah yang tidak karena negara masih membutuhkan banyak subsidi untuk menyokong masyarakat miskin agar dapat bisa hidup mandiri dan sejahtera. Tetapi yang sering dipertontonkan di media-media lebih kepada kasus korupsi yang melibatkan tersangkanya para pejabat negara yang menguras habis uang rakyat mencapai miliaran rupiah. Sehingga sedikit memperjelas bahwa tumpukan utang negara tersebut penyebab terbesarnya adalah korupsi yang beranak pinak di birokrasi pemerintahan.

Ini tak dapat dipungkiri bagaimana diungkap oleh KPK melalui website resminya kpk.go.id menunjukkan bahwa dari tahun 2004 awal KPK dibentuk sampai tahun 2013 jumlah kasus korupsi yang sudah masuk dalam penyelidikan sebanyak 578 kasus dengan eksekusi baru hanya sejumlah 240.

Sungguh melonjaknya jumlah kasus korupsi dari data yang diliris oleh KPK telah menunjukkan pada kita akan bobroknya negeri kita ini untuk menjadi negara mandiri tanpa utang. Tapi itu serasa tidak mungkin karena jumlah hutang yang melangit sejatinya sudah menjadi tanggungjawab yang harus ditanggung sama-sama walaupun uang luar negeri yang dipinjam Indonesia tidak dirasakan bersama-sama.

Kemana Kekayaan Negara?

Tadi sudah disebutkan bahwa Indonesia adalah negara kaya akan kekayaan sumber daya alam yang tidak dimiliki oleh negara luar tapi mengapa kita masih saja miskin dimanakah kekayaan negara kita. Itu adalah pertanyaan yang wajar dilontarkan siapapun yang merasa tidak masuk akal akan jumlah hutang Indonesia yang bisa untuk mensejahterakan perekonomian dan pendidikan masyarakat sampai ke ujung negeri.

Kekayaan alam negara yang dikatakan mampu untuk melunasi jumlah utang negara kita kepada asing hampir semuanya dikuasai oleh asing sehingga pemasukan negara menjadi tidak maksimal dan pertumbuhan ekonomi rakyat pun terhambat. Ini dapat dijelaskan dari data yang dituliskan oleh banjarmasingpost.co.id yang mengatakan bahwa pihak asing mengelola 178 juta hektar tanah dari luas seluruhnya yang mencapai 195 juta hektar yang meraup untung sampai Rp. 20 triliun. Sehingga sisa dari 195 juta hektar itu hanyalah 17 juta hektar saja yang dikuasai oleh Indonesia dan jumlah pendapatannya pun tak lebih dari Rp. 1 Trilliun. Dan akan sulit bagi kita untuk bisa meningkatkan taraf hidup masyarakat dimana SDA sudah dilahap oleh asing apalagi untuk mencicil utang kita akan semakin sulit dijalankan.

Padahal jelas termaktub pada UUD 1945 pada pasal 33 ayat 3: “Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”, menunjukkan makna bahwa kekayaan alam berupa minyak bumi, tambang, air dan udara seharusnya dikuasai penuh oleh negara dan jangan sampai tersentuh oleh pihak asing.

Menyempitnya luas lahan untuk dikelola Indonesia menyebabkan terjadinya rasio kelambanan pertumbuhan ekonomi negara Indonesia. Apalagi maraknya kasus yang melibatkan kerusakan alam oleh perusahaan-perusahaan asing sangat jarang sekali diusut sampai tuntas sehingga tidak ada kepastian hukum yang jelas untuk menjaga alam negara Indonesia kita.

Kebutuhan yang Segudang

Tingginya hutang Indonesia yang mencapai Rp. 2.276 Trilliun bisa menyebabkan jumlah orang miskin akan bertambah naik pada tahun 2014 dan menyempitkan lowongan pekerjaan bagi yang ingin mencari kerja.

Meningkatkan kebutuhan dalam negeri adalah bagian dari penyebab hutang Indonesia terus membengkak. Ialah seperti menggaji para pegawai negeri, memperbaiki infrastruktur umum, memberikan subsidi yang tinggi terhadap konsumsi minyak oleh rakyat, dan yang cukup menarik adalah melayani keborosan para pejabat dalam memakai anggaran negara.

Minimnya rasa untuk berhemat anggaran negara oleh para pejabat negara menjadikan jumlah uang negara selalu kurang sehingga terpaksa terus mengutang keluar negeri sampai jumlah hutang menjadi menumpuk.

Pentingnya para pejabat membudayakan hidup hemat dengan membatasi berpergian keluar negeri dengan menggunakan uang rakyat dan menggunakan infentaris negara yang dititipkan padanya secara sewajarnya saja. Timbulnya sikap untuk hidup hemat oleh para anggaran negara maka jumlah kas negera pun bisa jadi bertambah dan uang tersebut bisa digunakan untuk meningkatkan kemakmuran rakyat yang sudah menjadi amanat bagi pemimpin.

Adanya kemapanan ekonomi, pendidikan, dan kejahteraan bagi para rakyat akan meningkatkan tingkat SDM negara kita sehingga bisa bersaing ketat untuk merebut kembali aset-aset penting negara yang dikelola oleh asing. Meningkatnya kamapanan SDM negara Indonesia akan cepat bagi kita untuk menjadi negara yang mandiri tanpa harus bergantung pada uang luar negeri yang mencekik leher rakyat dan bisa memperkecil jumlah utang negera kita.

Adalah suatu peringatan bagi negara kita bahwa pada 2014 nanti Indonesia harus mencicil utangnya sebanyak Rp. 294 triliun atau sekitar USD 25,7 miliar kepada pihak asing yang dilangsir oleh sindonews.com. Uang sebanyak itu bukanlah jumlah yang sedikit dan jika terget untuk mencicil utang tidak tercapai akan memukul perekonomian dalam negeri dengan tercemarnya nama Indonesia dimata dunia.

Dari itu bisa dikatakan bahwa banyaknya jumlah hutang Indonesia kepada pihak asing sejatinya tidak dibarengi dengan kesiapan pemerintah mengambil menyiapkan SDM yang tangguh untuk menanangi sumber daya alam yang dimiliki oleh negara kita.

Dengan adanya SDM yang berkualitas tentunya nasib negara ini bisa dirubah kearah yang betul-betul baik karena jumlah utang kita bisa saja menyusut drastis. Dan menjadi harapan oleh semua pihak agar pengelolaan negara agar lebih efisien dengan mengetatkan hukum sehingga prilaku-prilaku yang merugikan negara dapat dicambuk dan mengamankan uang negara untuk membayar utang.

Pada bagian paragraf terakhir ini penulis ingin menyampaikan bahwa jumlah utang Indonesia yang melangit dan tidak segera mencicilnya akan menjadikan anak cucu di hari esok akan menanggung utang tersebut dan alam ini bisa jadi tak bisa dinikmati lagi. Semoga tulisan ini menjadi renungan bagi pemerintah dan kita semua di akhir menjelang penutapan tahun 2013 ini. (analisadaily.com)

Related posts