Tingkatkan Kemampuan Bidan

NERACA

Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012 menunjukkan peranan bidan dalam meningkatkan derajat kesehatan perempuan di Indonesia sangat penting.

Profesi ini berkontribusi terhadap 50,2% dari pelayanan kontrasepsi dan 62% dari proses persalinan. Bidan juga mengambil porsi yang cukup besar dalam program pemberian imunisasi.

Ikatan Bidan Indonesia (IBI) memiliki 88.796 anggota, dan menjadikannya sebagai organisasi profesi kebidanan terbesar di dunia. Diperkirakan jumlah bidan di Indonesia termasuk yang tidak menjadi anggota IBI mencapai 200.000 orang.

Mr. Todd Callahan, Country Director DKT Indonesia mengatakan, dengan jumlah 200.000 orang, bidan sebenarnya memiliki posisi strategis dalam peningkatan derajat kesehatan ibu dan anak di Indonesia. Apalagi saat ini Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia masih menjadi salah satu yang tertinggi di Asia.

“Karena itu upaya pembinaan dan peningkatan mutu SDM bidan harus senantiasa dilakukan. DKT memiliki komitmen membantu IBI menciptakan SDM bidan yang berkualitas dan mampu memberikan solusi terhadap masalah kesehatan di negara ini”, tuturnya.

Sedangkan Dr. Emi Nurjasmi, ketua PP IBI mengatakan, tantangan terbesar dalam pendidikan kebidanan adalah menciptakan lulusan yang memenuhi standar kompetensi. “Kuriklum pendidikan kebidanan sudah dibuat untuk memenuhi kebutuhan. Kompetensi medis seorang bidan bisa berkembang lewat pembelajaran di lapangan dan praktek,” tutur Emi.

Namun, kata dia, dengan semakin berkembangnya zaman, dan masalah kesehatan di masyarakat juga semakin kompleks, bidan dituntut untuk tidak hanya bisa berperan sebagai tenaga kesehatan.

Hal ini yang menjadi landasan inisiatif program Akademi Andalan oleh DKT dan IBI. Melalui program ini, DKT dan IBI memilih 12 orang mahasiswi program DIII akademi kebidanan berprestasi untuk menerima beasiswa senilai USD 1.000 dan mengikuti workshop dengan topik “Peranan Bidan Sebagai Social Entrepreneurs Untuk Meningkatkan Derajat Kesehatan Masyarakat”.

“Kami ingin membantu para calon bidan ini untuk bisa mengidentifikasi masalah yang ada di lingkungan mereka, dan mencari peluang untuk menciptakan solusi kreatif terhadap masalah tersebut. Ini merupakan ciri-ciri seorang entrepreneur”, ungkapnya.

Akademi Andalan kali ini merupakan yang ke-2 kalinya dilaksanakan oleh DKT dan IBI. Pendaftaran program dibuka selama periode Juni sampai dengan Agustus, dan berhasil menjaring 398 peserta. Penerima beasiswa dinilai berdasarkan prestasi akademis dan non-akademis yang pernah mereka peroleh selama dan sebelum menjadi mahasiswi kebidanan.

DKT sebagai organisasi pemasaran sosial untuk KB dan kontrasepsi, telah memiliki pengalaman panjang dalam menjalankan kegiatan capacity building. Melalui Program KB Andalan, di tahun 2013 DKT menjangkau 70,000 bidan lewat pelatihan dan seminar.

Selain program Akademi Andalan, DKT bersama IBI juga sudah merancang program beasiswa yang menargetkan mahasiswi S1 kebidanan. “Ide ini sudah muncul sejak 2 tahun yang lalu, dan kami sudah mencapai kesepakatan final dengan pihak Universitas Brawijaya. Selain beasiswa, kami juga akan membantu pengembangan kapasitas bagi para pendidik disana,” jelas Mr. Callahan.

Related posts