Volatilitas Tinggi, Cermati Pembalikan Arah IHSG

NERACA

Jakarta- Volatilitas pasar saham belakangan ini cukup tinggi. Sejumlah sentimen yang berpengaruh terhadap pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tidak bisa tidak menjadi perhatian para pelaku pasar. Salah satunya terkait kondisi makro ekonomi, seperti kenaikan inflasi, tingkat suku bunga, dan pelemahan rupiah. Termasuk sentimen global terkait adanya isu penarikan stimulus The Fed di pasar.

Bahkan akibat beberapa sentimen tersebut, selama sepekan kemarin IHSG dinilai telah mengalami koreksi sebesar 1,42%. Sementara sepanjang November kemarin terperosok 5,63% dengan aksi jual bersih (net sell) oleh investor asing mencapai Rp18,61 triliun. “Harapan terakhir pada 2013 adalah di Desember ini yang akan bergerak dalam kisaran 4.132-4.449.” kata Kepala Riset MNC Securities, Edwin Sebayang di Jakarta, Senin (2/12).

Jika data makro ekonomi mengecewakan, menurut dia, bukan tidak mungkin dapat menahan laju aksi beli. Padahal, hal ini dibutuhkan sebelum masuk masa yang sangat volatile di semester pertama 2014. Pasalnya kondisi pada 2014 diperkirakan hampir sama seperti 2004, di mana belum dapat diketahui siapa kandidat kuat presiden dan partai yang akan menjadi mayoritas.

Sementara dari luar negeri, menurut dia, walaupun sejak tahun 1950 Dow Jones naik di bulan Desember, tetapi bukan berarti akan dilalui dengan mudah karena minggu ini data ekonomi yang dirilis cukup berat. Utamanya, retail sales setelah libur panjang Thanksgiving. Yang artinya, dimulainya holiday shopping season and employment yang akan dipakai sebagai petunjuk mengenai taperring off serta ketegangan antara China VS Jepang-Korsel-AS.

Selain itu, employment yang akan dirilis yaitu NFP bulan November. Konsensus ekonom diperkirakan 185.000 pekerjaan akan tercipta atau turun dibandingkan data Oktober sebanyak 204.000 pekerjaan. Namun bila dilihat dari lajunya, kata dia, secara teknikal IHSG tampak mulai bergeser pada tren penguatannya sehingga di pekan ini dia memprediksi rentang IHSG di kisaran 4.231-4.282. “Pola piercing terbentuk atas IHSG mengindikasikan bullish reversal,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Riset Trust Securities, Reza Priyambada mengatakan, masih turunnya nilai tukar rupiah dan bahkan bertambah parah saat menembus level ketahanannya menimbulkan persepsi semakin dalamnya laju pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Apalagi dengan anjloknya harga-harga obligasi pemerintah.

Dia memperkirakan, IHSG akan berada pada rentang support 4195-4238 dan resisten di level 4289-4367. Beberapa data ekonomi yang akan menjadi perhatian sentimen sepekan ke depan antara lain Balance of trade & inflation rate KorSel; Capital spending Jepang; NBS manufacturing PMI, HSBC services PMI, & non- manufacturing PMI China; Building permits, retail sales, GDP, & RBA interest rate Australia; Inflation rate, balance of trade, HSBC PMI Indonesia. (lia)

Related posts