Mengejar Produksi Perikanan Budidaya Negeri Tirai Bambu

NERACA

Sukabumi - Sektor kelautan dan perikanan nasional digadang-gadang akan menjadi salah satu pendukung ketahanan pangan di Indonesia maupun dunia. Oleh karenanya peningkatan produksi tentunya sudah menjadi prioritas utama yang harus dilakukan, salah satunya yaitu dengan penerapan teknologi yang adaptif dan inovatif, sebagai langkah mewujudkan perikanan Indonesia sebagai pilar ketahanan pangan nasional maupun global.

“Saat ini pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) sedang terus berupaya untuk terus meningkatkan produksi perikanan nasional, ini sebagai wujud dari realisasi kami dalam menjawab tantangan kita ke depan menjadikan perikanan nasional sebagai pilar ketahanan nasional mau pun global,” kata Muhammad Abdul Nuh Hidayat, Sekretaris Direktorat Jenderal (Sesditjen), Perikanan Budidaya KKP, Jumat akhir pekan lalu (22/11), pada saat membuka acara Press Tour II 2013, yang diselenggarakan oleh Pusat Data Statistik dan Informasi (Pusdatin) KKP, 22 -24 November 2013 di Sukabumi, Jawa Barat.

Sejauh ini, berdasarkan data yang dihimpun oleh Organisasi Pangan dan Pertanian (Food and Agriculture Organization/ FAO), pada tahun 2012 lalu produksi perikanan budidaya dunia telah mencapai 66 juta ton, jumlah itu melebihi produksi daging sapi yang hanya 63 juta ton. Dan untuk produksi ikan Indonesia berada di urutan ke-2 dengan target 2013 mampu memproduksi perikanan budidaya sebanyak 13 juta ton, ini masih kalah jauh dengan China yang bertengger diurutan 1 yang mampu memproduksi hingga 50 juta ton pertahun. “Oleh karena itu, kita harus terus meningkatkan dan mengoptimalisasi produksi perikanan nasional agar mampu mengejar ketertinggalan itu,” ujarnya.

Selain itu juga, di samping terus meningkatkan produksi untuk kebutuhan konsumsi nasional, tentu saja tujuan utama dari peningkatan produksi nasional untuk memenuhi kebutuhan ekspor ke pasar internasional. Karena memang untuk ekspor perikanan budidaya masih berada di urutan ke 12. “Selain konsumsi dalam negeri tentu saja orientasinya untuk memperbanyak ekspor untuk menambah devisa negara,” ucapnya.

Apalagi ditengah lesunya produksi perikanan di negara lain, tahun ini merupakan tahun keemasan bagi perikanan Indonesia karena mampu memproduksi ikan lebih baik dari pada negara lain. Oleh karena itu, hasil ikan Indonesia mendapatkan 3 kebebasan dalam mengekspor hasil perikanannya yaitu pertama bebas IMS, kedua bebas residu, dan ketiga bebas tuduhan subsidi.

“Inilah kesempatan yang baik buat Indonesia untuk bisa lebih meningkatkan lagi produksi perikanan nasional untuk memenuhi kebutuhan pasar international. Dan peningkatan produksi itu, tentu saja langkah yang harus dilakukan dengan penerapan teknologi secara cepat, tepat, dan efisien,” terangnya.

Sesuai dengan tema acara Press Tour II 2013 ini “Pencapaian Peningkatan Produksi Perikanan Budidaya Melalui Penerapan Teknologi yang Adaptif dan Inovatif”, Abdul pun mengakuinya bahwa penerapan teknologi sangat membantu dalam proses peningkatan produksi perikanan budidaya. Karena dengan teknologi mampu mempercepat dalam peningkatan produksi. “Dengan pemanfaatan teknologi hasil yang didapat sangat signifikan,” terangnya.

Karena memang dengan teknologi ini mampu memproduksi lebih cepat dan efisien, karena disamping hasilnya lebih baik, dapat memangkas biaya hingga 20%. “Dengan pemanfaatan teknologi ini sangat optimis bahwa kedepan perikanan budidaya mampu menjadi pilar ketahanan pangan nasional maupun global,” pungkasnya.

Menggali Potensi Lokal

Untuk bisa menjawab tantangan dalam pencapaian peningkatan produksi perikanan nasional, langkah yang harus dilakukan adalah dengan terus mengembangkan dan menggali potensi perikanan yang ada di daerah. Selain mengembangkan komoditas ikan yang sudah ada tentu saja terus mencari dan melahirkan produk-produk perikanan lokal yang dapat dikembangkan agar mampu mempunyai nilai tinggi.

“Langkah yang dilakukan dalam peningktan produksi ikan nasional tentu saja dengan terus mengembangkan ikan-ikan yang menjadi komoditas unggulan, tapi tidak lupa juga dengan menggali ikan spesifik lokal untuk di ekspose agar mempunyai nilai lebih,” kata Sarifin, Kepala Balai Besar Pengembangan Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi, KKP.

Salah satu contoh potensi lokal yang ada di Sukabumi adalah ikan Sidat yang saat ini banyak dilirik oleh dunia, dan tidak jarang pula para invetor asing yang sudah investasi untuk pembesaran ikan Sidat ini. “Saya rasa di Sukabumi masih banyak lagi ikan-ikan yang bisa dikembangkan, dan daerah lain juga tinggal bagaimana kita menggali dan mengembangkannya,” imbuhnya.

Sedangkan untuk pencapaian BBPBAT sampai dengan saat ini dengan menempati luasan tanah sekitar 26,6 hektar ini sudah mengembangkan sekitar 18 komoditas ikan diantaranya Lele Sangkuriang, Udang Galah, Nila, Ikan Mas, Patin, Gurame, ikan Sidat dan yang lainnya. “Intinya kami disini menciptakan induk-induk ikan unggulan agar mampu meningkatkan produksi perikanan budidaya, untuk menjawab kebutuhan benih nasional,” jelasnya.

Di samping mengembangkan induk ikan, di BBPBAT Sukabumi ini juga mengembangkan bagaimana cara berbudidaya ikan. Dan yang dikerjakan saat ini adalah pengembangan budidaya ikan Pembesaran Udang dengan Padi (Ugadi) dan Pembesaran Udang Galah, Gurame dan Padi (Ugamedi). Cara ini dirasa sangat efektif untuk peningkatan produksi ikan dan tentu saja meningkatkan taraf pendapatan para petani. “Dengan Ugadi dan Ugamedi para petani padi pun bisa dapat berbudidaya ikan agar taraf pendapatannya bisa lebih meningkat,” kata Jaka Trenggana Kepala Seksi (Kasi) Informasi BBPBAT Sukabumi.

Dengan pola-pola seperti inilah kedepan yang mampu mendorong peningkatan produksi perikanan nasional bisa meningkat tajam. “Melalui konsep ini produksi ikan tidak hanya terbatas oleh para petambak ikan saja, para petani lain juga bisa berbudidaya ikan,” tutupnya.

Related posts