Mariculture Bakal Dikembangkan di Sejumlah Daerah - Perikanan Budidaya

NERACA

Batam – Minimnya pemanfaatan perairan laut untuk budidaya perikanan laut membuat pemerintah, baik pusat maupun daerah, ingin mengembangkan program yang disebut mariculture. Program pengembangan budidaya laut ini menjadi bagian penting dari program besar di bawah minapolitan.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Slamet Soebjakto mennjelaskan, di luar rumput laut, porsi pemanfaatan perairan laut masih sangat minim, yakni hanya 0,9%. Berbeda dengan perairan darat yang telah mencapai 20%.

“Masih 0,9% saja pemanfaatannya. Masih sangat kecil. Kalau darat 20%. Itu pun perairan umum masih sangat luas. 0,9% karena orang biasanya lebih memilih yang mudah. Kalau di darat teknologinya sudah relatif lebih maju. Sekarang teknologi air laut sudah kita kembangkan,” jelas Slamet di sela kunjungannya di Batam, Provinsi Kepulauan Riau, Sabtu (23/11).

Mariculture, sebut Slamet, pada 2015 mendatang, akan masuk di RPJM pemerintah. “Kita akan manfaatkan bertahap, 10% (pemanfaatan perairan laut-red) sudah luar biasa. Selain di Kepulauan Riau, kita akan kembangkan mariculture di Kepulauan Seribu, Lampung, Sumbar, NTT, Ambon, Maluku, Papua,” beber Slamet.

Slamet menegaskan, mariculture di Kepri tentu saja akan dikembangkan dengan berbasis minapolitan. Di daratan, saat ini lebih banyak minapolitan, karena sudah ada tata ruangnya. “Di laut sedang kita kerjakan zonasi tata ruang. Kita dorong tiap daerah mengembangkan melalui minapolitan. Kita harapkan tiap daerah menyiapkan tata ruang,” urainya.

Kepri, lanjut Slamet, sudah memproklamasikan mariculture. Dibanding daerah lain, provinsi ini lebih dulu menyiapkan zonasi dan infrastruktur pendukung. “Untuk menjadikan Kepri industrialisasi berbasis mariculture ini, kita berusaha menyelesaikan masalah pakan dan permasalahan lainnya,” ujar Slamet.

Prospek Cerah

Slamet mengungkapkan, budidaya laut menjadi usaha yang mempunyai prospek cerah. Apalagi, pengembangan budidaya laut dinilai masih mempunyai peluang yang sangat besar. Dengan luas indikatif potensi lahan pengembangan budidaya laut nasional luas 3,8 juta ha baru dimanfaatkan untuk usaha budidaya sekitar 1.9%.

“Padahal banyak jenis ikan konsumsi yang mempunyai nilai jual tinggi. Diantaranya, ikan Kerapu, Bawal bintang dan Kakap putih merupakan komoditi ekspor yang banyak diminati pasar luar negeri. Untuk itu diperlukan banyak investasi guna mendorong peningkatan produksi perikanan budidaya dari sector laut dan memanfaatkan potensi alam kita secara optimal,” sebut Dirjen Slamet.

Pihaknya akan terus berupaya menggenjot produksi perikanan budidaya melalui optimalisasi pemanfaatan potensi budidaya, salah satunya adalah dengan mendorong percepatan pengembangan kawasan budidaya laut. “Prospek pengembangan budidaya laut khususnya pada area off shore mempunyai peluang besar sebagai alternative usaha yanga akan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir. Usaha ini memerlukan investasi dalam jumlah yang besar dan sangat menarik investor untuk mengembangkannya, dan salah satunya adalah Kadin,” cetusnya.

Dijelaskan Slamet, pengembangan usaha dan investasi di bidang perikanan budidaya merupakan tanggung jawab seluruh stake holder perikanan budidaya, baik pemerintah pusat dan daerah, swasta, perbankan dan juga pelaku usaha.

“Peningkatan dukungan pemerintah dilakukan secara terus menerus dalam hal penyediaan infrastruktur seperti saluran irigasi dan fasilitas listrik. Selain itu, kepastian hukum yang diikuti dengan kemudahan perizinan dan jaminan keamanan, juga terus diterapkan. Kemudahan akses terhadap sarana produksi dan juga permodalan dari perbankan, akan terus didorong. Pada prinsipnya komunikasi yang efektif, kerjasama dan sinergi dengan semua stake holder harus tetap dijaga dan ditingkatkan agar pemanfaat potensi perikanan budidaya dapat dilaksanakan dengan baik dan berkelanjutan,” kata dia.

Sementara di mata Wakil Ketua Kadin Bidang Kelautan dan Perikanan Yugi Prayanto, potensi perdagangan perikanan di Kepri sungguh besar, namun kurang promosi. “Sekarang ini permintaannya tinggi, dari Singapura. Sebenarnya masalah market saja, kurang promosi saja di sini,” papar Yugi.

Di tengah pelemahan rupiah terhadap mata uang dolar, eksportir ikan justru lebih untung. “Dolar lebih tinggi kita lebih untung. Ikan itu sehat, harganya terjangkau. Ikan jauh di bawah harga daging sapi dan lebih sehat. Saya tidak melihat, pelemahan ekonomi dunia, tidak bisa dilihat dari sisi makanan. Lebih untung kalau dolar lagi tinggi,” kata Yugi.

Yugi juga menambahkan bahwa, Kadin berminat untuk melakukan kerjasama pengelolaan Karamba Jaring Apung (KJA) budidaya air laut di BBL Batam. “Untuk tahap awal ini kami akan mulai bekerja sama dengan mengoperasikan di 120 lobang KJA di BBL Batam,” ungkapnya.

Adapun Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Propinsi Kepri, Raja Ariza, juga mendorong pengembangan budidaya air laut di wilayah propinsi Kepri. “Pada tahun 2014, propinsi akan menyebarkan 1000 lubang KJA. Ini selaras dengan program Pemerintah propinsi yang akan menjadikan Propinsi Kepri sebagai Mariculture Centre atau Pusat Budidaya Laut di Indonesia. Ini karena potensi laut yang luar biasa ada di Propinsi ini. Potensi Budidaya Laut Propinsi Kepri mencapai 400 ribu ha,” papar Raja.

Related posts