Indeks Saham dan Nilai Rupiah Tetap Loyo - BI RATE TERNYATA GAGAL PERBAIKI KONDISI

NERACA

Jakarta – Janji Bank Indonesia bahwa kenaikan suku bunga BI Rate akan mampu memperbaiki nilai rupiah, ternyata belum terbukti hingga kemarin (21/11). Hal yang sama juga dialami perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia, dimana indeks harga saham gabungan (IHSG) terkoreksi 24,581 poin (0,56%) ke level 4.326,205.

Pelemahan indeks BEI dan nilai tukar rupiah terhadap US$ tidak hanya dipicu isu tapering off oleh bank sentral AS, tetapi akibat pengaruh kebijakan BI yang menaikkan suku bunga acuan dalam lima bulan terakhir menjadi 7,5% dari semula 5,75% (Juni 2013).

Begitu besarnya sentimen negatif terhadap indeks BEI, banyak kalangan analis pasar modal menilai skeptis prestasi indeks BEI akhir tahun bisa tembus di level 5000. Kepala Riset MNC Securities, Edwin Sebayang mengatakan, dalam sisa 26 hari perdagangan jelang penutupan akhir tahun 2013, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus berpotensi mengalami koreksi lebih dalam.

Menurutnya, sentimen global dan pengaruh kenaikan BI Rate ternyata tidak serta merta mampu mendorong penguatan rupiah akan menjadi perhatian pasar untuk melakukan transaksi. Apalagi laju rupiah atas mata uang dolar terus melemah dan sempat menembus level Rp11.700 pada perdagangan kemarin. “Ada potensi laju rupiah atas dolar AS menuju level 12.000 dalam beberapa waktu ke depan. Saya pun memperkirakan IHSG berpotensi turun.”ujarnya kepada Neraca di Jakarta, Kamis.

Tercatat, pasca setelah BI Rate naik sebesar 25 basis poin menjadi 7,5% pada bulan ini, IHSG pun terjungkal di level 4380,64. Oleh karena itu, dia menilai, hal ini semakin menguatkan bahwa di akhir 2013 peluang IHSG ditutup hanya pada level 4.571. “Syukur-syukur tidak tersungkur di bawah level 4.300,” ujarnya.

Selain tidak confident-nya kondisi perekonomian dalam negeri, pergerakan IHSG juga diwarnai kejatuhan Indeks Dow Jones. Di Amerika Serikat misalnya, apa yang dikhawatirkan investor kakap dan besar di Wall Street yang juga salah satu pemegang saham terbesar Apple, Carl Icahn yang mengatakan very cautious ada potensi Dow Jones akan turun tajam akhirnya terjadi.

Terbukti, pada perdagangan kemarin Dow Jones turun 66,21 poin (0,41 persen) ditutup di level 15.900,82. Sentimen tersebut semakin kompleks karena dikaitkan dengan isi minutes meeting The Fed 29-30 Oktober lalu yang mengatakan bahwa Bank Sentral AS mungkin dapat memulai scale back paket stimulusnya dalam salah satu dari beberapa pertemuan FOMC Meeting terdekat mendatang, dimana FOMC Meeting terdekat akan dilakukan 17-18 Desember 2013.

Sementara Kepala riset Buana Capital Alfred Nainggola menturkan, target indeks akan aman di 4.500-4.600 jika tidak ada berita dan isu-isu miring dalam negeri. Namun, jika ada lagi isu-isu yang tidak menyenangkan, indeks bisa jatuh ke 4.200,”Kondisi saat ini memang tidak ada yang dapat membuat indeks bergerak naik, jadi kemungkinan target akhir tahun di level 4.500-4.600an, itupun dengan catatan tidak ada berita dan kondisi negatif khususnya dalam negeri yang dapat menjatuhkan indeks lebih parah lagi,”tandasnya.

Beratkan Emiten

Selain itu, dia menilai saat ini yang menjadi fokus pelaku pasar adalah arah pergerakan rupiah dan kebijakan pemerintah terkait rupiah yaitu BI Rate. Dia menambahkan, bila BI Rate dinaikan lagi dan suku bunga ikut naik, maka akan membuat kinerja emiten cukup berat dan membuat indeks semakin terperosok.“Indeks sulit naik karena fundamental dalam negeri yang tidak mendukung, kalau isu tapering off sudah biasa, hanya di awal saja membuat pasar khawatir dan ada kemungkinan pada Maret 2014 adalah puncaknya”, katanya.

Dirinya juga memperkirakan, hingga akhir tahun pasar obligasi dan IPO kurang diminati dan menarik bagi investor asing ataupun dalam negeri. Menurut dia, melihat yang sudah ada di pasar saja, belum tentu terserap semua, keccuali ada bisnis baru yang akan masuk pasar modal, “IPO tidak akan menarik lagi, kecuali bisnisnya cukup baru dan struktur perusahaannya kuat. Seperti Blue Bird, memang sudah ada bisnis transportasi di pasar saham, namun Blue Bird merupakan taksi reguler yang bisa dibilang nomor satu. Sehingga akan sangat diminati pasar”, ujarnya.

Hal senada disampaikan pengamat pasar modal FEUI Budi Frensidy yang memproyeksikan IHSG akan terpaku pada angka 4.600-4.700 dikarenakan kondisi perekonomian Indonesia yang belum membaik. Hal ini dikarenakan current acount deficit (defisit neraca perdagangan) Indonesia tidak mengalami perubahan yang membaik, bahkan menurun, “Bahkan IHSG dalam triwulan III dan IV tidak mengalami kenaikan yang signifikan, malah terus mengalami penurunan. Oleh karenanya, untuk target proyeksi sampai akhir tahun hanya akan mencapai 4.600-4.700,”ungkapnya.

Kemudian dia menjelaskan pada akhir tahun nanti maka hampir semua sektor saham akan mengalami penurunan perdagangan sahamnya. Dengan penurunan IHSG yang terjadi belakangan ini maka tidak ada satu pun sektor saham bisa menaikkan nilai sahamnya.“Saya prediksi semua sektor saham akan mengalami kemerosotan pada akhir tahun ini sehingga mayoritas semua sektor saham akan mengalami penurunan,” ujarnya.

Menurut Budi, kenaikan BI Rate ini hanya akan meredam nilai rupiah yang semakin merosot dan untuk menekan besarnya impor yang masuk ke Indonesia. Kenaikan BI Rate juga akan memperlambat perekonomian Indonesia dan tidak berdampak yang signifikan atas IHSG maupun nilai rupiah. lia/nurul/mohar/bani

Related posts