Alasan Rugi, BRI Agro Lagi Tunda Dividen

NERACA

Jakarta – Lantaran masih terus meruginya kinerja keuangan PT Bank Rakyat Indonesia Agroniaga Tbk (AGRO) sebesar Rp16 miliar, menjadi alasan perseroan untuk kembali menunda pembagian dividen kepada pemegang saham. Penundaan dividen perseroan sudah dilakukan sejak tujuh tahun lalu.

Direktur PT Bank Rakyat Indonesia Agroniaga Tbk, Sudarmin Sjamsoe mengakui, terakhir kali BRI AGRO membagikan dividen pada pemegang sahamnya adalah pada 2006 yakni sebesar Rp5 per saham atau 5% dari nominal saham, “Kami sudah sekitar tujuh tahun lamanya tidak membagikan dividen ke pemegang saham, kita tinggal berharap laba bersih meningkat, supaya bisa membagikan dividen ke para pemegang saham," ujarnya di Jakarta, Rabu (20/11).

Namun demikian, perseroan berkomitmen dapat mengalokasikan sebagian keuntungannya sehingga dapat melakukan pembagian dividen dari perolehan laba bersih Perseroan hingga akhir 2013, “Kami tetap akan meminta persetujuan kepada pemegang saham BRI AGRO, apakah nanti laba bersih yang diperoleh pada tahun ini akan dibagikan dalam bentuk dividen ataukah untuk mendukung permodal perseroan,”paparnya.

Sebagai informasi, hingga sembilan bulan pertama tahun 2013, perseroan berhasil mencatatkan pendapatan bunga bersih sebesar Rp163,96 miliar atau tumbuh 20,1 persen dibanding periode sama tahun 2012 sebesar Rp136,51 miliar.

Adapun laba operasional BRI AGRO juga meningkat dari Rp28,43 miliar di tahun 2012 menjadi sebesar Rp47,12 miliar di tahun 2013, “Pendapatan non operasional juga terus mengalami pertumbuhan mulai dari tahun 2011, 2012, dan 2013, atau masing-masing sebesar Rp1,58 miliar, Rp1,89 miliar, dan Rp20,95 miliar," kata Sudarmin Sjamsoe.

Dia menuturkan, peningkatan juga tak luput dari laba tahun berjalan sebelum pajak perseroan, yakni menjadi sebesar Rp68,08 miliar dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp30,33 miliar di 2012. Kemudian total taba berjalan per september 2013 BRI AGRO tercatat meningkat menjadi Rp52,36 miliar di 2013 dari sebelumnya sebesar Rp22,25 miliar di 2012. Disamping itu, perseroan juga berhasil menurunkan kredit macet atau NPL hingga September 2013 menjadi 2,76% dari sebelumnya 3,68%, “Kami memperhitungkan kehati-hatian dalam mengelontorkan kredit," kata Sudarmin Sjamsoe.

Menurut dia, penyaluran kredit hingga September mengalami kenaikan 35% menjadi Rp3,2 triliun dari sebelumnya Rp2,4 triliun. Sementara kenaikan rasio pinjaman terhadap deposit (LDR) mencapai 94,66%. Pencapaian kredit tersebut, kata Sudarmin, didukung dengan perkembangan industri kelapa sawit yang membaik. "Porsi kelapa sawit yang mencapai 50% dari pinjaman," ucap dia. (bani)

Related posts