Rights Issue Pilihan Tepat Cari Modal - Dampak Khawatiran Isu Tapering

NERACA

Jakarta – Masa kejayaan mencari dana melalui IPO dan obligasi sudah lewat, hal ini di picu kekhwatiran kondisi buruk adanya penarikan stimulus oleh The Fed. Maka sebagai penggantinya, right issue menjadi pilihan yang tepat bagi perusahaan untuk mencari dana segar di pasar modal.

Pengamat ekonomi dan pasar modal Yanuar Rizky mengatakan, kondisi keemasan IPO dan obligasi sudah melewati masanya di tahun 2013 ini yaitu hingga Juni 2013. Sehingga dengan adanya isu tappering off saat ini dari The Fed, right issue merupakan cara tepat untuk mendapatkan dana, “Obligasi dan IPO sudah berat hingga akhir tahun ini, keduanya akan menarik jika dijadikan konsolidasi”, ujarnya di Jakarta, Rabu (20/11).

Dia menyebutkan langkah yang diambil Bank Muamalat untuk menunda IPO merupakan langkah tepat. Selain itu, khususnya dalam IPO banyak pelaku pasar akan menilai bagaimana bisnis calon emiten dan juga kemampuan mengelola bisnisnya. Sehingga, jika calon emiten memiliki usaha yang cukup besar dan luas jaringannya, ada kemungkinan banyak yang akan tertarik.“Bagus jika ditarik sementara untuk menunggu kondisi pasar benar-benar membaik, tetapi tidak perlu terlalu mengkhawatirkan tahun politik pada 2014 mendatang”, katanya.

Tahun depan sebagai tahun politik, kata Yanuar Rizki tidak perlu ditakutkan. Hal ini dikarenakan yang bergolak adalah politiknya dan bukan ekonomi apalagi sektor pasar modal, “Kemungkinan untuk pasar modal tidak akan terlalu membahayakan, karena politik tidak akan terlalu mendominasi kondisi ekonomi secara keseluruhan,”ujarnya.

Dia menambahkan, hampir semua pelaku pasar sudah memahami dan mengetahui kondisi saat ini terkait penarikan stimulus The Fed. Sehingga banyak yang melakukan hedging dan dampaknya yaitu nilai tukar.

Sebelumnya, Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau The Federal Reserve menunda pengurangan stimulus yang kemudian direspon positif oleh pelaku pasar modal untuk melakukan aksi beli terhadap saham-saham yang sudah terdiskon. Namun bagi analis PT Buana Capital, Alfred Nainggolan, penundaan pengurangan stimulus atau pengetatan ekonomi (tapering) tersebut tidak serta merta membuat pasar bergairah dan IHSG bergerak ke arah tren positif, “Pertumbuhan setelah adanya keputusan tersebut hanya karena over reactive dari pelaku pasar, “ungkapnya.

Meski demikian, dia meyakini, AS akan mengambil kebijakan konservatif untuk mulai mengurangi stimulusnya di tahun ini karena dapat mempengaruhi bursa saham global dan menimbulkan kontraksi di pasar. Tidak terkecuali bagi negaranya yang termasuk masih rentan.

Alfred pernah bilang, pengetatan ekonomi Amerika Serikat merupakan sentimen yang dalam jangka pendek dapat memberikan kejutan di pasar modal Indonesia. Pasalnya, untuk saat ini belum ada dana masuk yang dapat menggantikan besarnya quantitative easing (QE). Adanya pengetatan ekonomi yang dilakukan AS, sambung dia, tentu akan memicu keluarnya dana-dana asing di pasar modal (capital outflow), meskipun untuk saat ini masih dalam penundaan. Tak ayal, hal ini akan menekan laju IHSG dan memangkas kapitalisasi di pasar. “Adanya tapering berarti likuiditas di pasar akan berkurang. Kapitalisasi di pasar dari Rp4.400 triliun menjadi Rp 4.000 triliun.” ucapnya. (nurul)

Related posts