Eksistensi Semen Indonesia Kuasai Pasar Dalam Negeri - Menjawab Tantangan dan Peluang

NERACA

Jakarta – Terus menggeliatnya roda perekonomian seiring maraknya proyek-proyek pembangunan infrastruktur menjadi berkah bagi industri semen dalam negeri lantaran permintaan pasar semen terus meningkat. Oleh karena itu, kedepan industri semen diyakini tetap akan tumbuh dan apalagi booming sektor properti dalam tiga tahun terakhir ditengarai sebagai penyebab tingginya pertumbuhan konsumsi semen.

Data Asosiasi Semen Indonesia (ASI) menyebutkan, konsumsi semen untuk sektor properti memang selalu lebih besar dari sektor lainnya. Tercatat sebanyak 80% konsumsi semen nasional diserap sektor properti. Adapun proyek infrastruktur menyerap 20% dari total konsumsi semen. Kemudian konsumsi semen di Indonesia tumbuh 8,6% menjadi 18,11 juta ton pada empat bulan pertama 2013 dibandingkan periode sama tahun lalu 16,68 juta ton. Maka seiring terus meningkatnya konsumsi semen, diperkirakan hingga akhir tahun 2013, konsumsi semen nasional minimal mencapai 60 juta ton. Itu dengan asumsi pertumbuhannya 8- 10% dari tahun 2012 sebanyak 54,96 juta ton.

Ketua Asosiasi Semen Indonesia (ASI) Widodo Santoso mengatakan, sejak 2011 kapasitas produksi semen nasional mulai melonjak yakni 48 juta ton. Meningkat dari 2010 yang hanya 42 juta ton. Pada 2012, kapasitas produksi semen melonjak menjadi 55 juta ton dan pada 2013 kapasitas mencapai 58,2 juta ton, “Terus meningkatnya kapasitas produksi inilah yang menyebabkan semakin banyak investor yang datang ke Indonesia,”ujarnya.

Dia menjelaskan, kenaikan kapasitas itu dipicu oleh ekpansi sejumlah produsen semen di Indonesia dan tentunya, peningkatan ini dinilai positif untuk mendukung Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) yang akan membutuhkan banyak semen. Tak heran, proyek MP3EI juga menjadi penggerak yang melambungkan pertumbuhan konsumsi lebih tinggi lagi di atas 8%.

Karena itu pula, Dirjen Basis Industri Manufaktur Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Panggah Susanto menyakini, pasar semen dalam negeri akan terus tumbuh. Bahkan tahun ini, produksi semen nasional diperkirakan mencapai 65 juta ton dibandingkan target tahun ini 60,56 juta ton. Dia menuturkan, penambahan kapasitas terjadi menyusul optimalisasi pabrik dan investasi yang dilakukan oleh sembilan produsen semen di dalam negeri.

Melihat besarnya permintaan semen, tentunya memberikan berkah bagi produsen semen karena bakal mengerek target produksi dan penjualan. Disamping itu, hal ini juga memicu persaingan ketat industri semen dalam negeri seiring hadirnya pemain-pemain baru. Tentunya kondisi ini menjadi tantangan bagi pemain lama untuk menunjukkan eksistensinya dan bukan sebaliknya lengah dengan pencapaian pasar yang sudah ada. Merespon hal itu, PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) terus meningkatkan kapasitas produksi dan mencari pasar baru untuk membuktikan sebagai leader market di dalam negeri.

Direktur Utama PT Semen Indonesia Tbk, Dwi Soetjipto mengungkapkan, untuk menjadi juara dalam pasar semen di dalam negeri, perseroan terus meningkatkan sinergisitas dengan anak usaha, yaitu Semen Padang di Sumatera, Semen Gresik di Jawa Timur dan Semen Tonasa di Sulawesi dalam peningkatan kapasitas produksi.

Sinergisitas Solid

Menurutnya, sinergisitas yang solid adalah kunci untuk memenangkan persaingan bisnis semen dalam negeri, “Selain bangun pabrik, kami juga terus menambah distribution channel dengan jaringan gudang yang ada di seluruh Indonesia. Kami mempunyai 361 distributor, tentu saja itu akan terus bertambah seiring semakin luasnya pasar yang kami bidik,” kata Dwi.

Untuk memperkokoh kepercayaan masyarakat terhadap Semen Indonesia, lanjut Dwi, perseroan terus berkomitmen untuk meningkatkan kinerja. Hingga kuartal tiga 2013, PT Semen Indonesia Tbk mencatat perolehan laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp3,9 triliun atau tumbuh 15,04% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp3,39 triliun. Disebutkan, peningkatan perolehan laba perseroan ditopang oleh pertumbuhan pendapatan sebesar 27,31% menjadi Rp17,39 triliun dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp13,66 triliun. Sementara itu, tota aset perseroan tercatat sebesar Rp27,77 triliun pada akhir September tahun ini, meningkat dibanding posisi akhir tahun lalu senilai Rp26,58 triliun.

Asal tahu saja, reputasi dan kepercayaan yang diraih perseroan bukan datang begitu saja. Tetapi melewati proses dan rangkaian kerja keras yang dilakukan semua jajaran perseroan untuk terus meningkatkan kinerja korporasi dan menjaga kepercayaan investor dan pemegang saham. Kesuksesan yang diraih perseroan tidak bisa lepas dari peran serta pelanggan Semen Indonesia. Maka untuk menjaga loyalitas kepada konsumen, perseroan secara intens terus menggandeng para pelanggan atau peritel Semen Indonesia atau Semen Gresik di berbagai wilayah dengan acara temu pelanggan.

Jaga Loyalitas

Kepala Departemen Pengembangan Pemasaran Semen Indonesia, Rudi Hartono menuturkan, sebagai pemimpin pasar di Industri semen, perseroan dituntut untuk membuat pelanggan nyaman dan selalu terpuaskan, “Customer-centric, Itu kunci kami bisa terus mempertahankan penguasaan pasar di industri semen nasional yang semakin kompetitif,”ujarnya.

Imbasnya, september 2013, market share penjualan Semen Indonesia di dalam negeri meningkat 14,3% menjadi 18,23 juta ton atau mengungguli pertumbuhan penjualan pasar domestik sebesar 5,3%. Sementara untuk penjualan ekspor meningkat secara signifikan sebesar 485% menjadi 268,93 ribu ton dibanding tahun 2012 sebesar 45,95 ribu ton. Disebutkan, selain meningkatnya market share, kenaikan ini didukung beroperasinya dua pabrik semen perseroan yaitu, Pabrik Tuban IV dan Tonasa V.

Sebagai informasi, Semen Indonesia telah memiliki tiga lokasi pabrik di Indonesia, yaitu Semen Padang di Sumatera, Semen Gresik di Jawa serta Semen Tonasa di Sulawesi dan memiliki satu lokasi pabrik di luar negeri, Thang Long Cement di Vietnam. Thang Long Cement (TLCC) merupakan salah satu perusahaan penghasil semen terkemuka di Vietnam dengan total kapasitas produksi 2,3 juta ton per tahun. Lokasi pabrik tersebut yaitu di Provinsi Quang Ninh yang dilengkapi fasilitas penggilingan semen di daerah pinggiran kota Ho Chi Minh. Thang Long Cement memiliki tambahan dua izin pengembangan pabrik baru di provinsi Quang Ninh dan Binh Phuoc, Vietnam. Rencananya, SMGR dan Geleximco akan mengembangkan kedua pabrik tersebut melalui anak perusahaan Thang Long Cement. Disebutkan, tambahan dua pabrik tersebut merupakan potensi dalam meningkatkan kapasitas TLCC menjadi 6,5 juta ton. Selain itu, saat ini perseroan juga memiliki Cement Mill sebanyak 22 unit, packing plant 21 unit, dan 11 pelabuhan khusus, yaitu di Padang, Tuban, Gresik, Biringkasi, Dumai, Ciwandan, Banyuwangi, Sorong dan dua pelabuhan di Vietnam. (bani)

Related posts