Kenaikan Bunga Acuan BI Mengerem Laju Industri - Kadin Optimis Kinerja Bisnis Tidak Turun Drastis

NERACA

Jakarta - Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Suryo B. Sulisto mengatakan, kinerja sektor industri tentu juga akan menyesuaikan kebijakan BI yang telah kembali menaikkan suku buku acuan (BI Rate). Sehingga Industri diyakini akan mengerem kinerja ekspansinya.

"Tentunya kita akan menyesuaikan, artinya tidak bisa terlalu ekspansif lah, ya memperkuat saja apa yang sudah ada biar lebih solid, lebih sehat. Itu saja," tutur Suryo di Jakarta, akhir pekan lalu.

Kendati demikian, Suryo optimis kinerja bisnis di sektor perdagangan dan industri tidak akan turun drastis akibat kebijakan tersebut. Hanya, menurutnya, dengan kebijakan tersebut pelaku sektor perdagangan dan industri perlu berpikir ulang sebelum melanjutkan ekspansi bisnisnya.

"Ya bukan turun, ya kita harus berpikir lagi kalau mau ekspansi, kita sedikit menunda. Itu kan semua tergantung dari availaibilitas dari pendanaan, kalau pendanaan akan kontraksi maka akan dengan sendirinya berkurang juga," ujar Suryo.

Dari sisi lain, Direktur Jenderal Basis Industri Manufaktur Kementerian Perindustrian Benny Wachjudi mengatakan hal tersebut merupakan sebuah pilihan yang memang harus diambil pemerintah.

"Sudah pasti (menghambat). Itu kan suatu pilihan ya. Kita kan juga ingin menjaga stabilitas mata uang kita. Jadi pasti akan ada beban, mungkin ada imbalannya, mungkin nilai rupiah akan menguat lagi. Itu kan pilihan-pilihan," ujar Benny.

Dia mengatakan, dampak kenaikan BI rate terhadap oleh masing-masing sektor industri berbeda-beda. Salah satu sektor yang diuntungkan terutama yang memakai bahan baku dari dalam negeri. Industri tersebut, dia mencontohkan, seperti industri furnitur yang memakai berbahan baku dalam negeri tetapi gencar melakukan ekspor. "Seperti industri furnitur, industri makanan berbasis lokal, itu untung. Tapi kalau industri yang bahan bakunya impor, itu akan merasakan kerugian," tandas dia.

Dampak Sementara

Sementara itu, ekonom IJniversitas Indonesia, Nina Sapti menegaskan kalau kenaikan BI rate dinilai hanya memberikan dampak sementara bagi perekonomian nasional yang sedang lesu. Kebijakan ini pun hanya memperbaiki sektor moneter dan bukan sektor industri produksi atau sektor riil yang masih menjadi tumpuan perekonomian Indonesia.

Nina menegaskan kenaikan BI rate bisa menarik aliran modal kembali masuk ke Indonesia yang diharapkan mampu membangkitkan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). "Tapi kebijakan ini mungkin hanya untuk 3 sampai 6 bulan, sementara jangka panjangnya harus mulai dipikirkan pemerintah," kata dia.

Dia mengatakan, kenaikan BI rate memang menjadi kewenangan BI untuk mengatur sektor moneter di Indonesia. Sebab itu, kebijakan ini hanya sebagian besar memberikan dampak bagi perekonomian Indonesia. Menurut dia, kenaikan BI rate akan membuat aliran mulai masuk. Tapi di sisi lain sektor riil menjadi terhambat pertumbuhannya sebagai tindak lanjut dampak kenaikan BI rate.

Sebab itu selain moneter, pemerintah diminta ikut memikirkan kebijakan sektor lain seperti riil. Seperti mencari cara bagaimana mengurangi ketergantungan pada impor vane masih besar Apalaei. impor tersebut menyangkut kebutuhan pangan dan energi nasional.

Dia mengingatkan saat ini harga kebutuhan pokok seperti daging, sayur dan bahan bakar minyak (BBM) masih cukup tinggi di dalam negeri. Hal itu karena sebagian besar masih dipasok dari negara lain. "Jadi BI rate memberikan kepercayaan di pasar uang tetapi memberikan stigma buruk bagi sektor riil karena masyarakat masih harus membayar lebih mahal untuk pangan dan minyak," tutur dia.

Kebijakan jangka panjang yang bisa diambil pada sektor riil, dia mencontohkan bagaimana pemerintah membangun kilang BBM yang selama ini menjadi kendala memberikan pasokan energi lebih besar bagi negara. Kemudian menggenjot swasembada daging, kedelai, sayur, buah dan lainnya.

"Jadi sektor riil harus dibangun secepatnya. harus ada insentif dan cara bagaimana pemerintah secepatnya bekerja mengurangi impor agar harga pangan dan energi tetap murah dan inflasi tetap karena inflasi dan tekanan defisit bagi sinyal untuk rupiah," lanjut Nina.

Menurut dia, jika sektor riil tak segera diperbaiki maka perekonomian nasional bisa memburuk secara permanen. Ini mengingat produk yang diimpor Indonesia merupakan bahan utama dan menjadi kebutuhan masyarakat sehari-hari.

"Karena jika kita masih bergantung impor kemudian ada kejadian seperti ini lagi maka akan sulit. Harga pangan jadi tambah mahal karena rupiah anjlok, dan masyarakat kelas menengah bawah yang kena, karena pangan dan minyak tidak bisa diganti," jelas dia.

Sebelumnya, Pengamat Ekonomi Universitas Trisakti,Tulus Tambunan mengatakan, kenaikan BI Rate dipastikan menghambat laju pertumbuhan industri nasional khususnya manufaktur. Tulus mengatakan, industri yang menggunakan bahan baku impor akan mengalami kerugian. Sektor industri tidak akan mendapat keuntungan apa pun dari kenaikan suku bunga tersebut.Kebijakan tersebut menurutnya justru memberatkan pengusaha. “Situasinya kurang tepat, kondisi ekonomi akibat krisis global masih belum kondusif. Selain itu pengusaha juga ada masalah upah dan daya beli masyarakat yang menurun,” kata Tulus.

Related posts