BI Rate Menghempas IHSG ke Zona Hijau

Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang awalnya hanya melemah tipis dan mencoba untuk rebound, jelang sore hari berubah menjadi pelemahan setelah dipersuram oleh hasil RDG BI yang menaikkan BI rate dari level 7,25% menjadi 7,5%.

Akibatnya, IHSG yang sempat berada di bawah target support (4420-4436) gagal kembali ke target tersebut sehingga memberikan gambaran negatif pada IHSG. Pelemahan terbatas akan sulit tercapai dengan negatifnya sentimen yang justru datang dari dalam negeri. Aksi jual masih akan berlanjut dan akan berpengaruh pada masih melemahnya IHSG.

Demikian mengutip analisa Kepala riset Trust Securities Reza Priyambada (12/11). Akibatnya, pelaku pasar tidak terlalu memperhatikan positifnya laju bursa saham Asia dan pembukaan pasar Eropa. Selain itu, pelaku pasar yang di awal lebih banyak wait & see dan mungkin sempat berspekulasi masuk pasar seiring dengan positifnya laju bursa saham Asia, di sesi sore hari ramai-ramai melakukan aksi jual.“Sehingga IHSG terhempas dari target supportnya di level 4400an. Kenaikan BI rate ini tentunya dipersepsikan bahwa kondisi makroekonomi Indonesia yang belum akan membaik dan terutama timbul juga penilaian bahwa masih akan tingginya inflasi hingga akhir tahun”, kata dia dalam rilisnya.

Selain itu, kenaikan BI rate 25 bps bukannya membuat Rupiah dapat bertahan di tengah spekulasi tersebut, justru malah memperparah lajunya. Rupiah di bawah target support Rp11518. Rp11625-11525 (kurs tengah BI).

Sepanjang perdagangan (12/11) IHSG menyentuh level 4455,16 (level tertingginya) di awal sesi 1 dan menyentuh level 4371,03 (level terendahnya) jelang preclosing dan berakhir di level 4380,64. Volume perdagangan naik dan nilai total transaksi turun. Investor asing mencatatkan nett sell dengan kenaikan nilai transaksi beli dan penurunan transaksi jual. Investor domestik mencatatkan nett buy.

Dia menambahkan, pelaku pasar valas terus mengkhawatirkan masih merebaknya spekulasi tappering off stimulus The Fed sehingga berimbas negatif pada mata uang emerging market termasuk Rupiah.“Adanya ekspektasi perekonomian AS akan membaik dengan dirilisnya data-data positif telah membuat pelaku pasar memiliki persepsi akan ketahanan ekonomi AS di tengah pengurangan stimulus dan imbasnya telah membuat pasar saham AS berbalik arah menguat”, ujarnya. (nurul)

Related posts